Ada fase dalam hidup saya ketika orang menilai profesi dari laptop. Begitu saya buka ThinkPad hitam, orang langsung pasang asumsi. “Kerja di mana, Mas?” Padahal saya sendiri bingung menjawabnya.
Saya bukan pegawai. Tidak punya jam masuk. Tidak punya atasan. Saya memilih ThinkPad bukan karena ingin terlihat produktif, tapi karena ingin selamat lebih lama.
Si keras kepala
ThinkPad adalah laptop yang sejak awal tidak berusaha ramah. Desainnya begitu-begitu saja dari dulu. Kalau laptop lain berlomba-lomba bikin bodi tipis sampai nyaris transparan, ThinkPad justru bertahan dengan bentuk yang itu-itu. Dan ternyata, sikap keras kepala itu ada datanya.
Sebagian besar seri ThinkPad terkenal lolos uji MIL-STD-810G, standar Amerika Serikat untuk ketahanan perangkat: dari getaran, suhu ekstrem, sampai benturan ringan. Artinya, laptop ini memang dirancang untuk dipakai lama, bukan sekadar dipajang di meja estetik lalu pensiun dini setelah dua tahun.
Baca juga: Thinkpad X1 Carbon, Laptop yang Bisa Memahami Jiwa Kemiskinan dan Banyaknya Cicilan.
Keyboard-nya juga bukan sekadar enak buat ngetik. Sejak lama ThinkPad dikenal dengan spill-resistant keyboard bukan berarti kebal air total, tapi cukup untuk menyelamatkan laptop dari insiden kopi tumpah yang sering terjadi saat ide lagi enak-enaknya. Buat saya, ini bukan fitur keren. Ini fitur penyelamat dompet.
Alasan lain yang jarang dibahas influencer adalah ukuran dan rasio fungsional. Banyak ThinkPad masih mempertahankan rasio layar yang nyaman buat kerja panjang, bukan sekadar buat pamer wallpaper. Ditambah bobot yang relatif stabil dan engsel yang tidak terasa seperti mau copot setelah setahun, laptop ini cocok buat orang yang sering pindah tempat kerja dari meja makan ke warung kopi, dari colokan satu ke colokan lain.
Baca halaman selanjutnya: Termasuk laptop yang paling lama dipakai…



















