Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Saya Menyesal Telah Menganggap Kalau UAD Adalah Kampus Muhammadiyah yang Medioker

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
22 September 2025
A A
5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Share on FacebookShare on Twitter

Ketika pertama kali mendengar nama Universitas Ahmad Dahlan (UAD), otak saya otomatis membuat perbandingan instan dengan kampus Muhammadiyah lain yang lebih populer yakni UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Entah kenapa, bayangan saya tentang UAD dulu tak pernah jauh-jauh dari label “medioker”. Ya, kampus Muhammadiyah yang hanya ada, tapi bukan “kuda pacu” utamanya. Saya bahkan sempat menertawakan diri sendiri, “Masa iya saya harus pindah ke UAD?”

Tapi ternyata, hidup suka mengajari saya dengan cara paling aneh.

Saat ini, saya sedang mempertimbangkan jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) untuk melanjutkan studi dari UNY. Sejujurnya, prosesnya melelahkan. RPL itu ibarat menawar dagangan di pasar, kita bawa pengalaman, portofolio, dan nilai lama, lalu kampus menimbang, mana yang bisa diakui, mana yang harus diulang. Ribet, capek, dan tentu saja rawan bikin kepala panas. Namun, di titik inilah saya mulai berkenalan dengan UAD.

Awalnya skeptis, tapi…

Saya masuk ke proses pendaftaran dengan sikap setengah hati. Ekspektasi saya rendah, karena dalam pikiran saya, UAD hanyalah kampus Muhammadiyah kelas dua. “Paling nanti ribet, dosennya kaku, adminnya galak, dan sistemnya berbelit,” begitu kira-kira monolog dalam kepala saya.

Tapi pelan-pelan, kerangka skeptis itu mulai retak. Pertama, ketika saya melihat daftar mata kuliah yang ditawarkan. Ternyata lebih beragam dari yang saya bayangkan. Pilihannya bukan sekadar “copy paste” standar, tapi ada ruang di kepala saya untuk saya merasa “Oh, ternyata ada jalur yang cocok dengan pengalaman saya di UNY dulu.”

Di titik ini, saya mulai merasa bahwa UAD bukan sekadar kampus yang hidup di bawah bayang-bayang UMY. Ia punya daya tariknya sendiri.

Suasana kampus UAD yang lebih “Islami”

Hal lain yang bikin saya kaget adalah atmosfer kampusnya. Saya nggak tahu apakah ini efek sugesti atau memang kultur yang dibangun, tapi suasana UAD terasa lebih “islami”. Dari cara mahasiswa berpakaian, tata ruang kampus, hingga hal kecil seperti pengumuman larangan merokok di berbagai sudut, semuanya memberi kesan kalau kampus ini serius menjaga nilai yang mereka bawa.

Sebagai perokok berat, jelas saja saya geli sendiri. Rasanya seperti masuk ke zona steril, di mana sebungkus rokok bisa jadi artefak langka. Tapi anehnya, saya tidak terlalu merasa risih. Saya justru menganggap larangan itu bagian dari paket lengkap yang ditawarkan UAD. Paket Islami, serius, tapi nggak menggurui. Dan meskipun saya tetap harus menahan diri buat nggak menyalakan sebatang rokok di pojokan kampus, saya lumayan nyaman-nyaman saja.

Baca Juga:

Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah

5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

Administrasi RPL yang ribet tapi manusiawi

Kalau boleh jujur, bagian paling melelahkan dalam mendaftar RPL ini adalah urusan administrasi. Mengurus RPL itu kayak maraton, tapi jalurnya penuh tanjakan. Berkas, legalisir, validasi semua harus siap. Saya bahkan sempat mengeluh, “Lha, kuliah aja belum, tapi udah ngos-ngosan duluan.”

Tapi, di tengah keribetan itu, ada satu hal yang bikin saya lega yakni sikap admin UAD. Mereka nggak sekadar jadi robot meja yang hanya menjawab “silakan tunggu”. Mereka manusiawi, ramah, dan cukup sabar menghadapi mahasiswa (atau calon mahasiswa) yang penuh tanda tanya kayak saya.

Lebih jauh lagi, saya ketemu dosen dari Jurusan Sastra Indonesia yang sikapnya jauh dari bayangan saya sebelumnya. Mereka komunikatif, membantu, bahkan bisa menempatkan diri sebagai teman diskusi. Padahal, di kampus besar dan mapan, sering kali dosen terasa seperti menara gading yang jauh dari jangkauan mahasiswa. Di UAD, kesan itu patah. Saya merasa lebih dianggap, lebih dihargai, dan lebih dekat.

Menyesal menganggap UAD kampus medioker

Semua pengalaman itu pelan-pelan menggerogoti kesombongan saya. Bayangan “UAD kampus medioker” yang dulu melekat, kini rasanya konyol. Saya harus mengakui, ada banyak hal di UAD yang justru lebih ramah dan memuaskan dibanding kampus yang dulu saya banggakan.

Memang, setiap kampus punya kekurangan. Tapi saya akhirnya sadar, kadang label “medioker” hanya lahir dari asumsi kosong, bukan dari pengalaman nyata. Dan saya menyesal karena pernah berpikir sempit soal UAD.

Kini, meski perjalanan RPL saya masih butuh napas panjang, saya bisa bilang bahwa UAD berhasil bikin saya merasa betah. Kampus ini mungkin bukan yang paling populer, tapi jelas bukan sekadar pelengkap penderita di jajaran kampus Muhammadiyah. Ia punya daya tarik lain, keramahan, suasana islami, dan sikap dosen serta admin yang manusiawi.

Kalau saya boleh reflektif sedikit, perjalanan ini mengajarkan saya bahwa kadang kampus yang kita anggap “medioker” justru bisa memberi pengalaman paling berkesan. Di balik segala lelah urusan administrasi, saya menemukan hal yang jarang saya dapatkan di tempat lain: kehangatan dan rasa dihargai. Dan itu, buat saya, lebih mahal daripada sekadar reputasi atau ranking kampus.

Jadi, buat teman-teman yang masih terjebak pada stigma kampus Muhammadiyah terutama soal UAD mungkin sudah saatnya melonggarkan kacamata. Jangan-jangan, pengalaman yang kita anggap “medioker” justru bisa jadi pintu masuk ke hal-hal yang lebih manusiawi.

Saya? Ya, saya tetap harus menahan diri untuk nggak merokok di area kampus. Tapi selebihnya, saya sudah lumayan nyaman. Malah, diam-diam saya bangga pernah salah menilai.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Curhatan Mahasiswa UAD Jogja ketika Pulang Kampung: Gedung Kampusnya Megah, tapi Orang-orang Tetep Aja Nggak Tau UAD Itu Apa dan di Mana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2025 oleh

Tags: kampus muhammadiyahUADUMYuniversitas ahmad dahlan
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Bingung dengan Penutupan U-Turn di Ringroad Jogja: Jika Niatnya Bikin Lalu Lintas Makin Tertib, Kenapa Hasilnya Malah Jadi Makin Kacau?

Bingung dengan Penutupan U-Turn di Ringroad Jogja: Jika Niatnya Bikin Lalu Lintas Makin Tertib, Kenapa Hasilnya Malah Jadi Makin Kacau?

8 September 2024
Jalan Gatak UMY Bantul: Jalan Unik yang Namanya Kerap Diperdebatkan

Jalan Gatak UMY Bantul: Jalan Unik yang Namanya Kerap Diperdebatkan

4 November 2023
Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah Mojok.co

Cerita Kuliah di Universitas Siber Muhammadiyah, Universitas Terbuka Versi Muhammadiyah

19 September 2025
Bahaya yang Mengintai di Jalan Gatak UMY, Pengendara Mesti Waspada Mojok.co

Bahaya yang Mengintai di Jalan Gatak UMY, Pengendara Mesti Waspada

28 Oktober 2024
Kampus UMY, Alternatif Tepat buat yang Gagal SBMPTN

Kampus UMY, Alternatif Tepat untuk yang Gagal SBMPTN

13 April 2020
4 Pertanyaan yang Bikin Muak Mahasiswa UMY saking Sering Ditanyakan Mojok.co kampus muhammadiyah

4 Pertanyaan yang Bikin Muak Mahasiswa UMY saking Sering Ditanyakan

18 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alun-Alun Pekalongan: Tempat Terbaik untuk Belanja Baju Lebaran, tapi Syarat dan Ketentuan Berlaku

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

9 Januari 2026
Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas Mojok.co

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

7 Januari 2026
Buat Anak Organisasi Mahasiswa, Berhenti Bolos Masuk Kelas, Kegiatanmu Tidak Sepenting Itu!

Wajar Banget kalau Mahasiswa Sekarang Mikir 2 Kali Sebelum Masuk Organisasi Mahasiswa

7 Januari 2026
10 Istilah Populer di Kampus Unpad yang Penting Diketahui Mahasiswa Baru Mojok.co

10 Istilah di Unpad yang Perlu Diketahui Mahasiswanya biar Nggak Dikira Kuper

7 Januari 2026
Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya dengan Berat Hati Mojok.co

Alasan Kebumen Ditinggalkan Warganya walau dengan Berat Hati

7 Januari 2026
4 Wisata Semarang yang Bisa Bikin Kamu Kapok Jika Salah Momen Berkunjung

Jangan Ngaku Pengusaha Hebat kalau Belum Sukses Jualan di Semarang!

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.