Tidak ada orang yang ingin sakit. Semua orang pasti ingin sehat, bahagia, syukur-syukur kaya raya. Namun, hari apes tidak ada di kalender. Yang namanya penyakit bisa datang kapan saja tanpa rencana. Dan, itulah yang terjadi pada saya. Saya sakit gigi.
Akhir bulan lalu, gigi saya bermasalah. Semua berawal dari gigi kanan yang berlubang. Lubangnya sudah lama sebenarnya. Salah saya, tidak langsung pergi ke dokter gigi untuk ditambal.
Akhirnya, gigi berlubang tersebut goyang. Tidak sampai sakit, hanya goyang. Meski demikian, saya merasa harus ke dokter gigi untuk mencabut gigi tersebut.
Sejujurnya, membayangkan cabut gigi saja saya sudah gentar. Waktu kecil, saya pernah kabur dari klinik saking takutnya melihat dokter gigi dengan segala perlengkapan tempur mereka. Tapi, yang seperti itu masa mau saya ulangi lagi sekarang? Malu sama umur.
Sakit gigi tidak bisa di-cover BPJS
Singkat cerita, setelah dilakukan pemeriksaan di faskes pertama, dokter gigi menyatakan bahwa kondisi gigi saya kompleks. Sehingga, proses cabut gigi saya tidak bisa ditanggung BPJS. Saat itu dokter sebenarnya menjelaskan panjang lebar, lengkap dengan istilah medisnya.
Cuma ya karena istilah-istilah tersebut terlalu awam, saya jadi tidak begitu ingat persis apa yang disampaikan oleh dokter. Intinya, dokter menyarankan agar saya melakukan proses cabut gigi di klinik mandiri.
Aslinya sih agak sedih ya, kok cabut giginya nggak bisa di-cover oleh BPJS? Kan kalau ke klinik mandiri, saya jadi harus bayar. Padahal, urusan dengan dokter gigi ini tidak pernah murah. Ditambah, beberapa hari sebelumnya, saya dan anak-anak baru saja scaling berjamaah.
Artinya, baru beberapa hari yang lalu, duit saya mengalir ke dokter gigi. Lha ini harus mengalir ke sana lagi karena proses cabutnya yang tidak lolos sensor BPJS? Ya salam menyala dompetku.
Dan, benar saja, saya harus membayar Rp600.000 untuk proses cabut gigi tersebut.
Masalah belum selesai
Sialnya, meski sudah dicabut, bukan berarti masalah sakit gigi saya selesai. Setelah pencabutan, mulut saya malah susah dibuka lebar. Normalnya, mulut kita bisa terbuka selebar 3 jari. Lha saya? Cuma sejari doang. Itupun jari kelingking.
Nahasnya lagi, penderitaan ini bukan hanya urusan membuka mulut saja. Tapi, untuk mengunyah makanan pun saya kesulitan setengah mati. Rahangnya sakit, Cuy.
Praktis, saya jadi tidak bisa makan apa-apa selain bubur. Itu pun makannya harus cimit-cimit. Buburnya tidak bisa disuap satu sendok penuh. Mustahil. Nggak bakal bisa masuk itu si sendok ke dalam mulut.
Alhasil, setiap kali jam makan tiba, saya jadi serba salah. Mau makan sakit, nggak makan, lapar. Sungguh sebuah siksaan batin yang hakiki. Terlebih saat melihat melihat roti, gorengan, atau kerupuk yang biasanya langsung hap, sekarang udah kayak suami orang saja: Bisa dilihat tapi nggak bisa dimiliki.
Jujur, saya frustasi setengah mati. Capek.
Satu belum selesai, muncul masalah baru
Karena kondisi tersebut sudah berlangsung selama seminggu, saya memutuskan untuk kontrol lagi ke dokter gigi. Begitu diperiksa, respons dokter sebenarnya cukup menenangkan. Beliau bilang kondisi saya nggak apa-apa, sebuah hal yang wajar pasca-tindakan kompleks.
Selain meresepkan obat, kala itu dokter juga sempat bertanya, “Giginya sakit nggak?” dengan mantap saya jawab, “Nggak, Dok.” Karena memang kenyataannya begitu, gigi saya sama sekali tidak sakit. Keluhan saya murni hanya rahang yang gerakannya mendadak jadi sangat terbatas.
Akan tetapi, kalian tahu tidak apa gong dari semua drama ini? Keesokan harinya, gigi saya yang semula baik-baik saja mendadak cenut-cenut.
Ya, Tuhan, bisa-bisanya bercanda selucu ini. Satu masalah rahang belum kelar, sekarang malah ditambah bonus sakit gigi! Mana sakit banget lagi. Nyesel saya pernah meremehkan suami yang dulu sempat guling-guling ‘hanya karena’ sakit gigi. Faktanya, sakit gigi itu benar-benar sesakit itu.
Siapa tuh yang pernah bilang lebih baik sakit gigi daripada sakit hati? Sini maju!
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
