Saatnya Beralih dari Struk Pembayaran Kertas Menuju Struk Pembayaran Digital

Artikel

Avatar

Bila kita berbelanja di minimarket atau supermarket ternama, misalnya Indomart atau Alfamart, biasanya akan menerima kertas struk pembayaran. Kertas struk ini biasanya berisi barang-barang yang dibeli, total harganya, waktu transaksi, dan nama kasir. Nah, tanpa disadari, kertas struk pembayaran pada akhirnya akan menjadi sampah. Ambil contoh, bila dalam waktu satu hari terjadi 200 transaksi di suatu mini market atau supermarket, maka akan ada 200 kertas struk yang pada akhirnya menjadi sampah. Bayangkan, akan ada berapa juataan sampah kertas struk tersebut dalam waktu setahun?

Dengan kata lain, ini adalah permasalahan lingkungan yang kurang disadari. Sebagai solusi mengatasi permasalahan tersebut, struk ini sebenarnya bisa diganti secara digital. Beragam platform chatting dapat juga dimanfaatkan untuk mengirimnya secara digital. Salah satunya yaitu WhatsApp yang sudah begitu populer di Indonesia. Pembeli akan menerima struk pembayaran dalam wujud pesan Whatsapp. Selain WhatsApp, bisa saja dikirimkan ke smartphone pembeli via e-mail. Saat ini, sebagian besar masyarakat sudah begitu akrab dengan WhatsApp dan e-mail. Terlebih, masyarakat yang tinggal di kota-kota besar dan masyarakat generasi milienial zaman now.

Struk digital memberikan beberapa manfaat. Dari aspek perusahaan, tak perlu menyediakan kertas struk pembayaran sehingga akan menghemat pengeluaran perusahaan. Dari aspek pembeli, pembeli bisa lebih mudah mencari struk tersebut. Cukup dengan membuka WhatsApp atau e-mail lalu melakukan searching, kertas ini lebih mudah ditemukan. Sedangkan struk pembayaran dalam wujud kertas memang lebih mudah hilang atau tak sengaja terbuang. Dari aspek lingkungan, lingkungan akan lebih terbebas dari ribuan sampah kertas struk pembayaran.

Dalam waktu sebulan saja, ada belasan struk pembayaran di atas meja kerja saya. Karena sibuk bekerja, saya memang tak sempat membuangnya. Saya hanya menyimpannya saja di atas meja kerja. Hal tersebut membuat saya tersadar, ada berapa sampah tersebut di luar sana? Sebagai hal penting, saya bukanlah karyawan marketing perusahaan yang menjual sistem struk pembayaran kepada perusahaan. Saya tak sedang menawarkan produk sistem tersebut melalui tulisan ini. Apa yang saya tulis di sini adalah opini dan gagasan saya untuk kelestarian lingkungan. Sekaligus juga untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi demi kelestarian lingkungan.

Baca Juga:  Kesal Pas Diomelin Ibu di Rumah, Tapi Pas Jauh, Apa yang Beliau Bilang Kok Betul Semua

Mari kembali ke pembahasan. Nah, mengapa perusahaan minimarket atau supermarket tak meniru GoJek atau Grab dalam hal struk pembayaran? Baik Gojek atau Grab mengirimkan struk kepada konsumennya secara digital. Baik Gojek atau Grab mengirimkan struk melalui e-mail kepada konsumennya. Hal ini tentunya menjadikan lingkungan lebih terbebas dari ribuan atau jutaan sampah kertas. Konsumen pun tak mempermasalahkan menerima struk melalui e-mail.

Memang, sistem pembayaran mini market atau supermarket berbeda dengan sistem pembayaran GoJek atau Grab. Konsumen GoJek atau Grab mesti register terlebih dahulu. Mereka harus memasukkan e-mail dan nomor ponsel mereka. Sedangkan konsumen mini market atau supermarket tak demikian. Bila memilih menggunakan struk pembayaran digital, menyebabkan menjadikan transaksi jual-beli di mini market atau supermarket menjadi lebih ribet dan lebih lama. Sebabnya, pembeli mesti memberitahu e-mail atau nomor ponsel terlebih dahulu kepada kasir. Bagi yang sangat sibuk, tentunya hal ini akan terasa mengganggu.

Kelemahan ini bisa disiasati dengan mengintegrasikan struk pembayaran ke dalam kartu berbelanja. Biasanya, mini market atau supermarket ternama menawarkan kartu berbelanja kepada pembelinya. Misalnya, Indomart Card atau Alfarmart Card. Nah, pada kartu yang juga disebut kartu member card ini, tertera juga e-mail dan nomor ponsel pembeli. Setelah konsumen selesai berbelanja, kasir akan meminta kartu tersebut. Struk dapat dikirimkan via e-mail atau WhatsApp. Praktis bukan?

Masyarakat modern seharusnya mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memecahkan berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam hal lingkungan. Tanpa disadari, struk pembayaran kertas akan menjadi polusi bagi lingkungan. Mengapa tak beralih saja ke struk digital? Beralih ke struk digital mungkin membutuhkan waktu yang lama. Mungkin ada baiknya, era struk pembayaran digital di minimarket atau supermarket dimulai dan dibiasakan sejak saat ini. WhatsApp atau platfom chatting lainnya dapat juga dimanfaatkan.

Baca Juga:  Ternyata, Sedekah Berpotensi Menunjukkan Keegoisan Kita

BACA JUGA Pasar Tradisional dengan Segala Keunikan Transaksi dan Interaksinya atau tulisan Rahadian lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
6


Komentar

Comments are closed.