Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Romantisisasi Kota Bandung sebagai Kota Wisata yang Mulai Memuakkan

Raden Muhammad Wisnu oleh Raden Muhammad Wisnu
1 Maret 2021
A A
kota bandung romantisisasi kota bandung mojok

kota bandung romantisisasi kota bandung mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Tulisan ini bermula ketika saya membaca tulisan Mas Bima Eka Satriya tentang romantisasi Yogyakarta sebagai Kota Wisata dan Kota Pelajar yang sering dibahas oleh penulis Terminal Mojok, yang intinya, kesenjangan sosial dan kesenjangan yang kerap kali terjadi di sana. Mulai dari UMK yang tidak manusiawi, hingga Keraton yang dianggap tidak pro pada rakyat kecil. Saya bukan orang Yogya, jadi tidak tahu apa yang terjadi di sana, namun saya akan menuliskan apa yang terjadi di Kota kelahiran saya, yakni Kota Bandung.

Kota Bandung dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu kota wisata dan kota pelajar, sama seperti Yogyakarta karena memiliki banyak sekali tempat wisata dan juga berbagai kampus di kota ini yang menampung mahasiswa dari seluruh daerah di Indonesia. Sejak zaman Kolonial Belanda, Bandung memang dirancang sebagai tempat wisata para bangsawan dan juga orang-orang Pemerintahan Kolonial karena udaranya yang sejuk karena terletak di pegunungan dan banyak pepohonan.

Bahkan, sampai ada kutipan terkenal yang diucapkan oleh orang Belanda bernama Martinus Antonius Weselinus Brouwer atau akrab dipanggil M.A.W. Brouwer, yang merupakan orang Belanda. yang berkata, “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”.

Saking populernya kutipan tersebut, dalam menyambut Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 pada tahun 2015 yang lalu, Walikota Bandung saat itu, Ridwan Kamil menaruh kutipan tersebut di terowongan di Jalan Asia Afrika sebagai latar untuk berfoto para wisatawan yang datang ke Kota Bandung.

Tidak salah memang. Saya akui memang sejak saya lahir di Bandung pada 1992, Bumi Pasundan memang sangat indah dan romantis. Gambaran yang digambarkan oleh film Petualangan Sherina dan Dilan memang sangat benar. Namun, menurut saya, ini terlalu diromantisisasi, sama seperti Yogyakarta.

Kenapa? Di kawasan Jalan Asia Afrika Bandung dan sekitarnya, termasuk Jalan Braga, yang tidak jauh dari kutipan Brouwer tersebut, terjadi kesenjangan sosial yang terpampang sangat nyata. Di kawasan tersebut, setidaknya setiap lima menit sekali, barangkali akan datang musisi jalanan yang berusaha untuk mengais rupiah dari wisatawan yang berfoto-foto di sana. Tidak hanya itu, banyak juga anak kecil usia sekolah yang membawa cobek maupun berjualan tisu di tengah kawasan wisata tersebut. Ada juga bapak-bapak dan ibu-ibu yang berjualan kopi keliling di sana.

Di saat wisatawan menikmati sore di Jalan Asia Afrika dan sekitarnya, dengan latar belakang gedung-gedung antik peninggalan masa Kolonial Belanda dan sejumlah apartemen dan hotel yang berdiri kokoh di sana, banyak yang tidak memiliki privilege untuk menikmati apa yang wisatawan tersebut nikmati seperti yang saya sebutkan di atas.

Lebih berat lagi, ketika kita melewati Jalan Asia Afrika dan sekitarnya di atas pukul sepuluh malam, ada begitu banyak tunawisma yang tidur di trotoar Jalan Asia Afrika dan sekitarnya, tepat di depan kawasan pertokoan dan gedung peninggalan Belanda yang sudah tutup. Mereka tidur dengan alas seadanya, sekadar kardus atau koran, berselimutkan sarung, dan beratapkan langit. Entah kenapa, tidur mereka begitu nyenyak meskipun pada pukul sepuluh malam sekalipun, padahal kawasan tersebut tetap ramai oleh kendaraan yang lewat. Mungkin karena mereka terlalu lelah mencari nafkah di siang hari sehingga di malam hari tidur mereka begitu pulas.

Baca Juga:

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

Jalan Afika dan sekitarnya adalah sebuah jalan utama di Kota Bandung yang sudah dikenal sejak masa Kolonial Belanda. Bahkan Jalan Braga  tetap dipertahankan sebagai salah satu maskot dan objek wisata kota Bandung yang dahulu dikenal sebagai Parijs van Java. Nilai jual dari Jalan Braga adalah kawasan pertokoan yang disebut-sebut mengikuti model pertokoan yang ada di Eropa pada masa itu (1920-1940an). Sejak saat itu  toko-toko dan butik pakaian yang mengambil model di kota Paris, bar, hingga hiburan malam lainnya sehingga Jalan Braga banyak didatangi turis.

Kawasan Braga dan sekitarnya barangkali mirip dengan kawasan Malioboro di Yogyakarta atau Kota Tua di Jakarta, dengan arsitektur masa Kolonial Belanda yang menjadi andalan pariwisata di sana. Namun di sisi lain, begitu banyak para tuna wisma yang tidur di trotoar Jalan Braga, beralaskan aspal dan beratapkan langit, mungkin beranda-andai dapat berada di kawasan tersebut dengan keadaan yang berbeda, yakni menikmati hidangan lezat di sana, sambil bersantai dengan orang-orang yang mereka kasihi.

Menjadi sebuah ironi, ketika maskot pariwisata Kota Bandung yang sudah berdiri dari masa Kolonial Belanda, namun menyimpan sisi gelap yang begitu menyedihkan. Namun ya, kita tidak harus capek-capek memikirkannya bukan? Ini adalah PR besar dari Pemerintah Kota Bandung/Pemerintah Jawa Barat melalui Dinas Sosial maupun dinas terkait yang harus memberikan sebuah solusi agar kesenjangan sosial ini tidak terus terjadi, terlebih, di masa pandemi seperti ini kesenjangan sosial ini akan terus terjadi.

Sebagai rakyat jelata, dan bukan pemangku kepentingan, kita hanya bisa membantu mereka dengan sekadar memberikan sebagian dari rezeki kita agar mereka, para musisi jalanan, para tunawisma, para penjual tissue, dan anak-anak penjual cobek dapat makan dan minum. Tidak banyak memang, tapi setidaknya itulah yang dapat kita lakukan untuk sekadar berbagi kepada mereka semua. Tentunya kita tidak bisa menikmati kawasan tersebut jika kesenjangan sosial tersebut terus terjadi di depan mata kita bukan?

BACA JUGA Persikab Kabupaten Bandung Mati di Tanahnya Sendiri dan tulisan Raden Muhammad Wisnu lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 Maret 2021 oleh

Tags: kota bandung
Raden Muhammad Wisnu

Raden Muhammad Wisnu

Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung yang bekerja sebagai copywriter. Asal dari Bandung, bercita-cita menulis buku. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 atau akun Instagram dan TikToknya di @Rwisnu93

ArtikelTerkait

Pertigaan Gandok, Pertigaan Paling Meresahkan di Kota Bandung Mulai dari Durasi Lampu Merahnya yang Menguji Kesabaran, sampai Ada Teror "Pocong"!

Pertigaan Gandok, Pertigaan Paling Meresahkan di Kota Bandung. Mulai dari Durasi Lampu Merahnya yang Menguji Kesabaran, sampai Ada Teror “Pocong”!

6 Juli 2024
SCBD Bandung, Kawasan Baru yang Macetnya Nggak Manusiawi

SCBD Bandung, Kawasan Baru yang Macetnya Nggak Manusiawi

12 Februari 2024
Sisi Gelap di Balik Romantisnya Jalan Ir H Juanda Bandung

Sisi Gelap di Balik Romantisnya Jalan Ir H Juanda Bandung

6 September 2024
7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

28 November 2023
5 Hal tentang Kota Bandung Versi Wisatawan terminal mojok.co

5 Hal tentang Kota Bandung Versi Wisatawan

25 November 2021
5 Tempat di Kota Bandung yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi terminal mojok.co

5 Tempat di Kota Bandung yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi

23 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

3 Tips Membeli Point Coffee dari Seorang Loyalis Indomaret, Salah Satunya Cari yang Ada Kursi di Depan Gerainya!

19 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik Mojok.co

Ngemplak, Kecamatan di Sleman yang Sering Terlupakan karena Nama Besar Depok dan Ngaglik

19 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.