Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Romantisisasi, Gentrifikasi, dan Jogja yang Menjadi Tamu di Rumah Sendiri

Bima Eka Satriya oleh Bima Eka Satriya
31 Januari 2021
A A
gentrifikasi romantisisasi jogja mojok

gentrifikasi romantisisasi jogja mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Dunia per-mediasosial-an sedang ramai dengan kasus yang melibatkan Mbak Kristen Gray, seorang warga negara Amerika Serikat yang tinggal di Bali. Mbak Kristen, melalui akun Twitter-nya @kristentootie, menuliskan sebuah thread tentang cerita kepindahannya dari AS ke Bali pada 2019 silam. Singkatnya, ia bercerita bahwa seharusnya langkahnya ini diikuti oleh WNA lain. Kenapa? Karena biaya hidup di Bali sangat murah kalau dibandingkan dengan biaya hidup di Amerika Serikat. Dan ini masuk akal.

Kasus Mbak Kristen Gray tersebut kemudian ramai menggiring warganet ke dua kata yang sebenarnya tidak terkait satu sama lain, namun bisa dikaitkan: romantisme dan gentrifikasi. Sebenarnya, alih-alih Bali, ada suatu daerah yang sudah, sedang, dan akan menghadapi romantisisme dan gentrifikasi. Daerah yang sama indahnya dengan Bali: Jogja.

Romantisisasi tanpa henti

Jogja yang dikenal oleh masyarakat luas adalah daerah yang istimewa, romantis, dan syahdu, persis seperti lagunya Adhitia Sofyan. Bahkan, ada guyonan jadul “pergi ke Jogja adalah cara menertawakan kesibukan Jakarta”. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Terkadang, di dunia ini ada beberapa hal yang lebih baik tidak dikatakan sekalipun benar. Sedikit pemisalan adalah keadaan di Jogja ini. Sebenarnya, tidak sulit untuk menemukan wajah lain dari cantiknya Jogja. Ketimpangan sosial, upah rendah, klitih yang merajalela, dan transportasi umum yang ala kadarnya merupakan masalah klise yang seolah tertutup oleh kelap-kelip lampu Malioboro dan Tugu Jogja. Bahkan guyonan jadul di atas bisa dibalas dengan guyonan jadul yang lain “pergi ke Jakarta adalah cara menertawakan upah Jogja”. Meskipun jadul, guyonan ini masih tetap lucu.

Kalau dipikir-pikir, tidak terlalu adil kalau hanya mengatakan hal-hal yang indah sedangkan hal-hal yang buruk seolah tidak pernah terjadi. Namun, khusus untuk daerah yang satu ini, kesan-kesan positif sangat perlu dan harus diagungkan. Kenapa? Karena memang tidak ada yang buruk dari Jogja ini. Tidak mungkin sebuah Kota Pelajar tapi banyak pelajarnya yang klitih bareng gengnya. Tidak mungkin sebuah Kota Pariwisata tapi transportasi umumnya hanya beberapa. Tidak mungkin sebuah Kota Budaya tapi marak intoleransi terhadap sesama. Tidak mungkin sebuah Kota Istimewa tapi pekerja diupah tidak semestinya. Tidak, tidak mungkin itu semua terjadi di sini. Jogja ini istimewa. Jogja ini indah. Jogja ini baik-baik saja. Pada akhirnya, Jogja yang seolah indah dan baik-baik saja ini menjadi bom waktu bagi masyarakat Jogja itu sendiri.

Bom waktu semakin dekat

Kini, Jogja bersiap menghadapi ledakan yang mungkin meluluhlantakkan daerah ini. Mode indah dan seolah baik-baik saja ini membuat Jogja terlena. Alhasil, romantisisasi nyamannya Jogja terdengar di mana-mana, di Instagram, di Instagram, dan di Instagram, pokoknya di mana-mana. Hal itu membuat membuat orang berbondong-bondong berangkat ke Jogja, entah mau cari apa. Ini adalah satu hal yang baik dan tentu saja, buruk. Yin-yang. Menjadi hal baik karena roda ekonomi Jogja dapat bergerak meski tidak ngebut. Menjadi hal buruk ketika banyak orang dengan daya beli yang sangat tinggi (baca: orang tajir) datang dan kemudian menguasai apa yang sewajarnya jadi milik masyarakat Jogja. Tentu menyalahkan orang tajir juga bukan keputusan yang tepat. Mereka memilih Jogja sebagai ladang menghamburkan uang karena tergiur romantisisasi. Ya, lagi-lagi romantisisasi, seperti tidak ada kata lain saja. Romantisisasi yang menyebabkan gentrifikasi.

Apa itu gentrifikasi? Gampangnya, gentrifikasi merupakan fenomena pindahnya penduduk dengan kekuatan ekonomi yang lebih tinggi ke daerah dengan kekuatan ekonomi yang lebih rendah dengan cara membeli properti di daerah baru tersebut. Persis dengan apa yang sedang terjadi di Jogja saat ini.

Orang tajir dari luar Jogja membeli tanah, gedung, rumah, dan properti lainnya dengan harga yang sangat mahal. Jika dikonsepkan secara ekonomi sederhana, hukum permintaan dan penawaran berlaku di sini. Sederhana, semakin banyak orang tajir yang menginginkan tanah di Jogja, sedangkan jumlah tanah di Jogja tetap segitu-gitu saja (kecuali Klaten gabung Jogja). Hal itulah yang membuat harga tanah di Jogja terus-menerus naik.

Terjebak di lingkaran setan

Harga tanah yang terus-menerus naik menjadi alarm bahaya bagi masyarakat Jogja. Bagaimana tidak? Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jogja sangat rendah, hanya di kisaran Rp1,7 juta hingga Rp2 juta saja, seharga iPhone 5 bekas. Bagaimana bisa seseorang yang hanya memegang uang Rp2 juta per bulan membeli tanah yang harganya Rp3 juta per meter persegi? Hampir mustahil dilakukan, kecuali dapat utangan dari tetangga tajir sebelah rumah, itu pun harus malu dulu. Alhasil, tanah-tanah ini dikuasai sang kaya dari luar kota. Apakah ini jahat? Tentu tidak. Invisible hands telah bekerja sesuai job desc-nya. Sistem ini akan berputar terus-menerus, seperti lingkaran setan.

Baca Juga:

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

Pada akhirnya, bagi masyarakat Jogja, membeli tanah di Jogja adalah sekadar mimpi utopis saja. Selayaknya mimpi indah yang lain, terjadi syukur, tidak terjadi juga tidak apa. Tidak perlu terlalu khawatir, karena masyarakat Jogja adalah masyarakat yang nrima ing pandum. Masyarakat yang menerima apa pun yang sudah dititahkan kepadanya. Biarkan masyarakat Jogja menjadi tamu di rumah sendiri. Biarkan semesta bekerja dengan gaji UMK Kulon Progo saja.

BACA JUGA Perbedaan Mendasar Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Yogya, dan Jogja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2021 oleh

Tags: gentrifikasiJogja
Bima Eka Satriya

Bima Eka Satriya

Mahasiswa akuntansi yang suka bal-balan dan sedang belajar menulis.

ArtikelTerkait

Ayam Geprek Sejajar dengan Gudeg Jogja Menjadi Kuliner Khas (Wikimedia Commons)

Mengapresiasi Ayam Geprek Sebagai Kuliner Khas Sejajar dengan Gudeg Jogja

26 Januari 2026
Jalanan Pogung Sleman Nggak Menyesatkan dan Membingungkan, asal Mengikuti Panduan Saya Ini Mojok.co

Ingin Lihat Indonesia Emas Sekaligus Indonesia Gelap? Datang Ke Pogung Jogja!

16 Agustus 2025
Kota Lama Banyumas Disulap Mirip Malioboro Jogja, tapi Malah Bernasib Sial Mojok.co

Kota Lama Banyumas Disulap Mirip Malioboro Jogja, tapi Malah Bernasib Sial

4 April 2024
5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Sulit Ditemukan Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota Mojok.co

5 Suguhan Lebaran Khas Jogja yang Mulai Langka, Terutama di Rumah-rumah Daerah Kota

20 Maret 2026
5 Kerajaan Jin di Jogja Paling Ikonik yang Menyimpan Kisah Unik (Unsplash)

5 Kerajaan Jin Mengepung Jogja, Bukti Provinsi Ini Memang Ikonik dan Menyimpan Banyak Kisah Unik

4 Juni 2024
kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Jogja, meski Monarki, Tetap Butuh dan Harus Dikritik

12 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi (Unsplash)

KlikBCA, Layanan Internet Banking Terbaik yang Perlu Dikritisi

17 Maret 2026
5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

5 Kasta Kursi KA Probowangi yang Menentukan Nyaman Tidaknya Perjalanan Mudikmu

15 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

19 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
motor Honda Stylo 160: Motor Matik Baru dari Honda tapi Sudah Disinisin karena Pakai Rangka eSAF, Bagusan Honda Giorno ISS Honda motor honda spacy

Honda Stylo Adalah Motor Paling Tidak Jelas: Mahal, tapi Value Nanggung. Motor Sok Retro, tapi Juga Modern, Maksudnya Gimana?

15 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.