Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Romantisasi Passion Bukan untuk Orang-orang Dusun!

Dani Ismantoko oleh Dani Ismantoko
9 Februari 2021
A A
Alasan Romantisasi Passion Tidak Relate bagi Orang-orang Dusun Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

“Kamu adalah penyintas kemiskinan, Nak.” Paling tidak seperti itu yang coba diberitahukan oleh orang tua saya secara tidak langsung kepada saya ketika mereka membiayai saya bersekolah sana-sini sampai lulus S1.

Sebagaimana kebanyakan orang di dusun saya, dulu keluarga saya pernah merasakan bahwa kemiskinan begitu getir di masa orde lama dan orde baru. Tak jarang saya mendengar cerita dari orang-orang tua di dusun bahwa dulu cari makan itu benar-benar sulit. Saking sulitnya, bagian tertentu dari tumbuhan tertentu—seperti akar pohon pisang—yang sekarang dianggap tidak layak untuk dijadikan bahan makan, dimakan begitu saja. Selain itu, makan tak harus teratur sehari tiga kali, bisa makan sehari sekali sudah lumayan.

Tentu saja orang-orang yang mengalami getirnya kemiskinan itu tak ingin keturunannya di masa depan ikut merasakan getirnya kemiskinan juga. Di tahun-tahun 2000-an ke atas (sampai sekarang) kemiskinan masih jadi momok di dusun saya, walau tak segetir dulu—yang jelas dapur selalu ngebul, apa pun lauknya.

Para orangtua tak bisa menjamin dengan warisan-warisannya bahwa anak-anaknya di masa depan tak akan dihantui kemiskinan. Di benak orang-orang dusun, termasuk orang tua saya, cara menyelamatkan keturunannya dari kemiskinan adalah dengan bersekolah. Kelak setelah lulus, ijazah yang didapat dari sekolah digunakan untuk melamar pekerjaan yang bagus, yang menawarkan gaji tidak sedikit, yang bisa membebaskan seseorang dari kemiskinan, tanpa memedulikan passion.

Karena bersekolah memang ditujukan supaya di masa depan mudah mendapatkan pekerjaan, maka para orang tua di dusun—termasuk orang tua saya, itulah alasan saya mengatakan bahwa orang tua saya mencoba memberitahukan kepada saya secara tidak langsung bahwa saya adalah penyintas kemiskinan—menyekolahkan anaknya di tempat-tempat yang memungkinkan punya kesempatan tersebut.

Untuk SD-SMP biasanya tak banyak digubris. Masuk sekolah mana pun sama saja. Selepas SMP itulah para orang tua mulai berpikir. Jika mereka merasa tak akan mampu membiayai anaknya kuliah, mereka akan memilih memasukkan anaknya ke SMK. Karena setelah lulus bisa langsung bekerja sesuai bidang yang digeluti si anak pada masa SMK. Jika mereka merasa mampu membiayai anaknya kuliah, mereka akan membiarkan anaknya masuk SMA atau SMK. Ketika kuliah pun anaknya ditekan untuk memilih jurusan yang dirasa punya kesempatan kerja tinggi, tanpa peduli passion si anak untuk kuliah di jurusan tertentu. Tentu saja, jurusan filsafat tak termasuk.

Apa yang terjadi setelah anak-anak dari para orang tua di dusun itu bisa bersekolah dan akhirnya mendapat ijazah?

Ada yang berhasil melewati kemiskinan. Ada yang dikatakan berhasil tidak, dikatakan tidak berhasil juga tidak. Ada pula yang tidak berhasil. Untuk yang berhasil, indikatornya adalah bisa benar-benar hidup mandiri tanpa ada campur tangan dari orang tua sedikit pun. Untuk yang berhasil tidak, tidak berhasil tidak, indikatornya adalah bisa hidup mandiri tetapi sedikit banyak masih ada campur tangan orang tua. Untuk yang tidak berhasil, indikatornya adalah belum bisa hidup mandiri, masih ada campur tangan orang tua sepenuhnya.

Baca Juga:

Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun

Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong

Saya, sebagaimana yang dulu pernah dialami orang tua saya juga, berada di posisi yang tengah-tengah. Dikatakan berhasil tidak, dikatakan tidak berhasil juga tidak. Sudah punya penghasilan, tetapi masih pas-pasan. Untuk kasus-kasus seperti itu, orang-orang dusun punya cara tersendiri, salah satunya adalah orang tua membantu si anak sampai benar-benar hidup mandiri tanpa ada campur tangan orang tua. Misalnya, anaknya sudah menikah dipersilakan untuk tinggal di rumah orang tua terlebih dahulu. Seiring berjalannya waktu, orang tua membantu anaknya punya hunian sendiri entah bagaimana caranya.

Jika dibuat perbandingan antara yang berhasil melewati kemiskinan dengan yang berhasil tidak, tidak berhasil tidak dan tidak berhasil, yang berhasil melewati kemiskinan jauh lebih sedikit. Itulah alasan saya mengatakan bahwa kemiskinan masih menjadi momok, kendati tak segetir dulu.

Dalam kondisi tersebut, romantisasi passion sebagaimana yang diamplifikasi di media-media sosial oleh kelas menengah yang tak lagi berurusan dengan kemiskinan itu menjadi tidak relate bagi orang-orang dusun yang masih merasa kemiskinan menjadi momok. Karena yang ada di pikiran kami adalah bagaimana supaya penghasilan kami dalam sebulan cukup untuk memenuhi kebutuhan kami, apa pun pekerjaannya. Bukan apa sih pekerjaan yang sesuai dengan passion kami, yang membuat kami nyaman dalam menjalaninya.

BACA JUGA Nggak Usahlah Ndakik-Ndakik Bicarain Romantisasi Jogja dan tulisan Dani Ismantoko lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2021 oleh

Tags: orang dusunPassion
Dani Ismantoko

Dani Ismantoko

Kepala madrasah swasta yang aktif mengamati dinamika pendidikan dan kondisi sosial di Indonesia.

ArtikelTerkait

passion

Senandika Tak Berujung: Passion itu Makanan Kaleng Macam Apa, sih?

10 Juni 2019
Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes terminal mojok.co

Bekerja Sesuai Passion Itu Klise, Layaknya Kata Manis yang Bikin Diabetes

22 November 2020
one piece

Belajar dari One Piece: Tak Semua Orangtua Mengerti Passion Anaknya

15 Agustus 2019
Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun Terminal mojok

Alasan Tinggal di Apartemen Nggak Cocok buat Orang Dusun

11 Februari 2021
Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong terminal mojok.co

Kebahagiaan Bekerja Sesuai Passion Adalah Sebuah Omong Kosong

25 Januari 2021
passion

Pentingkah Mengejar Passion?

8 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja Mojok.co

Alasan Lupis Legendaris Mbah Satinem Jogja Cukup Dikunjungi Sekali Aja

16 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Pasar Minggu yang Asyik Nggak Kalah Asyik Dikulik Mojok.co

Jakarta Selatan Isinya Nggak Cuma Blok M, Ada Juga Pasar Minggu yang Nggak Kalah Seru

13 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.