Informasi
ADVERTISEMENT

Ringroad Jogja dan studentifikasi, dua hal yang bikin Jogja jadi terkenal dan melenting

Ringroad Jogja dan studentifikasi, dua hal yang bikin Jogja jadi terkenal dan melenting

Ringroad Jogja dan studentifikasi lah yang bikin Jogja jadi seperti yang kita kenal sekarang. Dulu, boro-boro, Kota Istimewa seakan membeku dalam waktu

Kadang aku merasa Jogja bergerak terlalu cepat. Terlalu sering aku jadi saksi munculnya kos, coffeeshop, dan hotel dalam waktu mendadak. Sudah tinggal di Jogja seumur hidup pun masih kecolongan pembangunan. Seolah baru kutinggal berak, satu kos-kosan baru muncul entah dari mana.

Tapi Jogja tidak selalu seperti ini. Toh Jogja dulu dikenal lamban perkara pembangunan. Apalagi ketika aku masih balita, terasa Jogja yang beku pada masa Soekarno ngungsi di utara Kraton. Dan tiba-tiba perubahan lebih cepat daripada Indonesia sendiri. Sat-set yang membuat warga terseok-seok mengejar dan tertinggal.

Aku mencari titik nol dari perubahan ini. Dan kutemukan beberapa tahun setelah aku lahir. Tiga dekade lalu adalah momen Jogja gumregah. Kota yang dulu membeku dalam masa feodal dan kolonial melenting tanpa henti jadi daerah maju. Menjanjikan Indonesian Dream yang diingini banyak influencer dan warga desil 10.

Titik nol itu adalah peresmian Ringroad Jogja dan mulainya Studentifikasi. Terjadi pada rentan 1995-1997, di penghujung Orde Baru. Semenjak itu Kota ini merangkak, berjalan, lalu berlari menjemput kemajuan. Meninggalkan warganya, menjemput perputaran uang triliunan.

Wajah Jogja yang (dipaksa) berubah

Sebelum membahas lebih jauh, aku jelaskan apa itu studentifikasi. Istilah ini merujuk perubahan sosial, ekonomi, dan tata ruang yang terjadi di sekitar area pendidikan tinggi. Terutama disebabkan sentralisasi pemukiman mahasiswa. Mirip dengan fenomena gentrifikasi yang sering aku keluhkan tentang Jogja.

Sudah paham kan? Sekarang duduklah, aku akan cerita tentang masa lalu.

Jogja yang mulai bangkit pada masa 70-an mulai punya masalah baru: kemacetan. Baik dari kendaraan warga, sampai distribusi barang antar provinsi. Akhirnya Kraton bersama UGM mengkaji akses jalan yang melingkari area pusat DIY: Kota Jogja sebagai sentral, dan sebagian Kabupaten Sleman juga Bantul.

Akhirnya Ringroad Jogja mulai dibangun pada tahun 80-an, dan diresmikan sekitar 1995-1996. Ruas jalan 6 lajur sepanjang 36,7 km ini menjadi jalur utama bagi distribusi logistik dan kendaraan besar. Dan perlahan area Ringroad yang dulu persawahan berubah menjadi area terbangun.

Di masa yang sama, muncul beberapa kampus baru di Jogja. Alih-alih berimpitan di sekitar UGM-UNY-Sanata Dharma, mereka dibangun di wilayah pinggiran pada masa itu. Tercatat dua kampus besar yang hari ini digandrungi berdiri atau pindah ke pinggiran di periode berdekatan. Dari koridor Kaliurang sampai Sewon yang rural diduduki gedung pendidikan dengan daya tampung ratusan hingga ribuan mahasiswa.

Pembangunan yang didukung Orde Baru

Pembangunan perguruan tinggi ini juga didukung Orde Baru sendiri. Dengan salah satu kampus legendaris dibangun di barat Kota Jogja. Studentifikasi akhirnya terjadi di tiga titik yang mengelilingi kota, disempurnakan dengan kehadiran Ringroad yang memudahkan perpindahan manusia dan barang. Sejak itulah wajah Jogja dipaksa diubah.

Kenapa aku bilang dipaksa? Bukan perkara penggusuran Ringroad ataupun dibangunnya gedung megah di tengah sawah. Tapi Jogja yang masih berkarakter rural-suburban berevolusi perlahan. Ringroad Jogja mendatangkan banyak gudang distribusi dan pabrik di sekitarnya. Perguruan tinggi mengubah kampung menjadi zona kos-kosan.

Tapi keduanya bukanlah perubahan tunggal bagi Jogja. Tapi jadi kofaktor perubahan yang membuat kota ini seperti sekarang: impian habiskan masa tua, tempat slow living, dan mesin investasi properti yang dipuja.

Pernah kuliah, ingin tinggal

Setelah Ringroad aktif, Jogja kini menjanjikan sebagai titik industri dan distribusi. Sekitar 766,35 hektare lahan nonterbangun berubah menjadi lahan terbangun pada 1993–2014. Didominasi oleh industri semen ready-mix, garmen, juga gudang distributor.

Kehadiran Ringroad Jogja juga memberi nilai tambah bagi properti, terutama tanah. Kenaikan paling terasa menjadi tekanan pada 2012, hingga ketua asosiasi Real Estate Indonesia (REI) mengeluhkan fenomena ini. Patut diingat, kenaikan harga sudah terjadi pasca krismon dan hanya sempat tertahan ketika Gempa Jogja pada 2006.

Tapi kenaikan harga properti tidak hanya didorong oleh kehadiran ringroad dan industri. Studentifikasi ikut mendukung kenaikan harga tanah sebagai investasi kos. Tidak ada data pasti perihal persentase pertumbuhan, tapi ada petunjuk penting. Pada 2011, kos dengan kamar lebih dari 10 dimasukkan dalam skema pajak hotel dalam Perda Nomor 1.

Berarti kos-kosan sudah masuk kebijakan fiskal, dan menandakan pertumbuhan yang menjanjikan. Kenaikan jumlah kos ini juga menandakan peningkatan jumlah mahasiswa pada periode 2000-2011. Dan kalian tahu apa output dari industri pendidikan tinggi? Alumni yang kangen dengan Jogja.

Salah satu penanda studentifikasi yang kadang luput dari perhatian adalah berdirinya Ambarukmo Plaza. Jogja kini punya pusat perbelanjaan yang berjarak 7,3 km dari titik nol. Tidak berdiri di titik keramaian konvensional di sekitar kota, tapi mendekati pusat pendidikan.

Pola studentifikasi berkembang ke luar kluster kos-kosan. Menjadi para alumnus yang bermimpi punya kos atau sekadar hunian di Jogja. Ketika aku berdiskusi dengan beberapa makelar tanah, mereka lebih sering menemukan konsumen dari alumnus kampus Jogja. Patut diingat, yang pindah ke Jogja bukan alumnus seluruhnya. Tapi para alumnus ini menjadi mayoritas utama penduduk baru Kota Istimewa.

Gelombang alumnus ini yang menjadi awal jargon ‘Jogja tempat pensiun terbaik’. Sebuah mimpi yang mendorong tingginya jumlah pendatang, bahkan di luar alumnus. Laju ini akhirnya didukung dengan instrumen peraturan di tahun 2010. Membuat pembangunan Jogja lebih tersebar di luar kluster industri dan pendidikan.

Melenting jauh di 2010

Aku harus mengingatkan, sebelum 2010 pembangunan di Jogja sudah melaju kencang. Baik hunian, kos, industri, hingga hotel dan area wisata. Tapi pada tahun tersebut, terbitlah Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sebuah instrumen hukum yang mengukuhkan haluan pembangunan properti di Jogja.

RTRW DIY 2010, yang nanti diikuti RTRW kabupaten dan kota, mendorong pembangunan di luar wilayah Kota Jogja. Serta mendorong investasi dan perijinan lebih efektif. Dampaknya terasa tidak hanya dari munculnya banyak perumahan. Tapi juga pertumbuhan hotel yang tidak terkendali.

Pertumbuhan ini tidak dibarengi kontrol yang cukup. Isu air tanah, gentrifikasi, dan tajuk Jogja Ora Didol lahir pada 2013. Dibarengi dengan Perwal No. 77 Tahun 2013 Kota Jogja untuk menghentikan sementara penerbitan IMB hotel. Tenggat waktunya lumayan panjang, mulai 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2016.

Periode 2010 hingga 2019 adalah masa keemasan pembangunan. Terbitnya UU Keistimewaan juga ikut mendorong daya tarik budaya dan pariwisata. Jogja yang pasca reformasi masih merangkak menjadi daerah maju kini lari sprint menjadi Indonesian Dream.

Doktrin pembangunan daerah wisata dan kota pendidikan mengubah wajah Jogja seutuhnya. Pembangunan YIA dan jalan tol Jogja-Bawen serta Jogja-Solo mendorong pertumbuhan di area lebih luas. Pada akhirnya melibatkan Kulon Progo dan Gunungkidul, dua kabupaten yang dianggap paling tidak berkembang.

Lupakan ide sinetron yang menggambarkan Jogja dengan surjan, sepeda, dan rumah dengan kebun luas penuh kandang tekukur. Tanah di Jogja kini lebih berharga dari estetika eksotis masa lalu. Kini semua berebut mendapat potongan kue investasi properti dan industri kreatif.

Kemajuan yang membawa harapan

Apakah perkembangan Jogja dari daerah semenjana menjadi (lumayan) maju ini berdampak baik? Tentu saja terutama di atas kertas. Selain pertumbuhan ekonomi yang konsisten terutama 20120-2019. Pandemi bisa kita skip sebagai kenangan buruk, dan kembali konsisen naik pada 2024-2026.

Selain pertumbuhan ekonomi yang bisa didebatkan, muncul kesempatan baru yang membuat Jogja makin menjanjikan. Peluang usaha lokal yang dimotori UMKM meningkat berkat dorongan pendidikan dan pariwisata. Pembangunan atau penambahan unit kos di hunian warga membentuk diversifikasi pendapatan. Pembangunan yang menyebar juga mendorong pertumbuhan fasilitas umum di daerah yang pada tahun 2000-an masih rural.

Tapi apakah semua itu baik? Waktunya mengeluarkan mantra andalan: gentrifikasi, ketimpangan, dan isu sosial.

Nestapa yang membuntuti Jogja

Studentifikasi yang melahirkan gelombang alumnus menimbulkan gentrifikasi. Masyarakat lokal yang tidak terdorong ekonominya oleh pembangunan hanya memiliki opsi jual tanah dan properti. Pertumbuhan ekonomi yang dimonopoli pemodal akhirnya mengurangi nilai tawar masyarakat untuk mengakses properti. Terutama di titik pertumbuhan itu terjadi.

Ketimpangan ekonomi juga memburuk sejak tahun 2012. Tercatat Gini Ratio, alat ukur ketimpangan ekonomi, di Jogja konsisten di atas rerata nasional, yaitu di sekitar 0,4. Sedikit membaik di tahun 2023 dan perlahan menurun hingga 2025. Namun konsisten lebih tinggi dari rerata nasional. Artinya kemajuan di Yogyakarta tidak langsung memengaruhi kesejahteraan warga.

Isu sosial di Jogja pun ikut melenting bersama kemajuan. Dalam studi A Tale of Jalan Kaliurang oleh Fisipol UGM menunjukkan fenomena mengerikan: keterasingan tanpa perpindahan. Masyarakat Jogja menjadi tamu yang mengais remah makanan yang jatuh dari pesta investasi dan kemajuan ekonomi.

Alih fungsi lahan pertanian, baik legal atau ilegal, ikut memperburuk situasi sosial dan ekonomi. Masyarakat rural kini harus mencari pekerjaan baru di luar agraria. Sialnya, pertumbuhan industri di Jogja terhitung sempit dan bukan padat karya. Cenderung memilih tenaga kerja ahli yang tidak bisa disuplai masyarakat pinggiran.

Masih banyak masalah yang secara langsung atau tidak didorong oleh kemajuan Jogja di atas kertas. Tapi harus diakui, kemajuan di Kota Istimewa memang luar biasa. Diawali dari pembangunan jalan lingkar dan beberapa kampus saat Orba. Lalu didorong oleh pariwisata dan budaya. Kemajuan yang terjadi sangat unik, istimewa, dan mengubah wajah Kota Istimewa menjadi Indonesian Dream.

Tapi berapa harga yang harus dibayar rakyat Jogja?

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sejarah Ringroad Jogja yang Kini Sudah Berubah Nama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2026 oleh .

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!