Review Mamang Kesbor “Album Terbaik di Tata Surya”, Album Unik yang Menggelitik – Terminal Mojok

Review Mamang Kesbor “Album Terbaik di Tata Surya”, Album Unik yang Menggelitik

Artikel

Saya masuk ke dalam salah satu burjonan milik kawan saya. Di dalam amat ramai, namun sepi. Mereka jaga jarak dan jaga segalanya. Misalnya sang pria yang membawa perempuannya, ia menjaga erat-erat. Selama makan di burjonan, ia selalu menggegam lengan pacarnya. Lagu Hindia, Pamungkas, hingga Fiersa Besari mengalun berganti. Saya yang tiba-tiba masuk pun mengubah daftar playlist. Musik berhenti mengalun, semua percakapan pelanggan burjo ikut berhenti. Ada yang mengeluh, ada yang langsung melihat ke arah saya.

“Saya ganti, ya?” kata saya sok asik. Saya datang jauh-jauh ke burjonan full musik kawan saya ini memang bukan tanpa maksud. Biasanya, jika band atau solois favorit saya bikin karya baru, burjo kawan saya dan segenap pengunjungnya adalah korban percobaan saya. Bagaimana respon mereka dan bagaimana cara mereka menanggapi musik tersebut.

Percayalah, ini metode yang paling asik untuk orang yang nggak ngerti musik namun ingin menulis perihal musik. Saya contohnya.

Korban penelitian saya kali ini adalah album terbarunya Mamang Kesbor. Saya nggak akan menjelaskan siapa Mamang Kesbor. Yang jelas, karya terbarunya menarik. Lagu demi lagu itu terhimpun dalam album digital berjudul “Album Terbaik di Tata Surya”. Saya ingin membuktikan, apakah lagunya sesuai dengan judul albumnya.

Satu persatu lagu baru Mamang Kesbor mengalun di burjonan. Menemani mereka yang ngetik, bercandaan, main kartu, yang-yangan, dan kegiatan lain. Mulai dari “Mengawang-awang” hingga “Hukum Rimba Dagelan”, respon mereka beragam mengenai lagu yang kurang ajar di telinga ini. dan berikut saya himpun 6 lagu yang memiliki respon paling menarik.

Baca Juga:  Pengalaman Jual Hewan Kurban, Pernah Diajak Kenalan Sampai Ditawarin Asuransi

Mengawang-awang

Lagu Mamang Kesbor yang ini menggabungkan musik dan komedi. Representasi kehidupan muda-mudi masa kini. Respon orang-orang yang mendengarnya beragam, tapi terlihat muka mereka menahan tawa. Atau menahan diri untuk mengumpat, mungkin.

Paling lucu adalah respon dari kawan saya yang sedang nyeplok telur. “Lagunya Teamlo?” saya hanya bisa senyum-senyum karena Teamlo yang ia maksud, adalah band asal Solo yang mengkombinasikan musik dan komedi dalam lirik yang menggelitik.

Sebat Dulu

Mamang Kesbor berhasil merepresentasikan “sebat dulu” dengan ciamik dalam lagu ini. Lagu ini nggak berjarak sama sekali dengan realitas. Bagi perokok, semua lirik lagu ini relate untuk mereka. Lagu yang baik, menurut saya, adalah tidak memberi jarak antara pendengar dan pemusik.

Amer

Lagu ini mungkin adalah lagu Mamang Kesbor yang paling familiar di kuping orang-orang. Mardial menceritakan noraknya para pemabuk pemula dengan amat bagus. Mabuk, di masa kini, menjadi cara untuk mencari eksistensi diri.

Siapa sangka, amer yang dulunya adalah minuman para pemabuk cupu, jadi katrol dalam menaiki tangga kepopuleran?

Walangkeke

Walang keke adalah diss track. Kira-kira hanya itu yang bisa kita dapet dari lagu ini.

Emo Night

Ketika lagu ini mengalun, semua mengira albumnya sudah habis dan beralih ke penyanyi lain. Mulai dari efek gitar, kita sudah paham bahwa ini bukan “mainan” Mardial dan Mamang Kesbor. Namun ketika lirik demi lirik masuk, ya ini memang andalan Mamang yang menyelipkan lirik-lirik mendalam dengan gaya yang menyenangkan.

Baca Juga:  Panduan Misuh Bahasa Jepang biar Kamu Bisa Sekuat Tokoh Anime

Lagu ini seakan menjadi rangkuman panjang musik emo dengan post-hardcore, rambut ala Kellin Quin dan Oli Sykes, dan kultur awal milenium bergeser cukup banyak. Dan Mamang Kesbor, menjebatani semua dalam tajuk “Emo Night”. Salah satu pengunjung burjonan bilang, “jadi kangen Good Charlotte dan My Chemical Romance.”

Lalu saya jadi bertanya-tanya, Good Charlotte itu emo bukan ya?

Kebelet

Ini ngomongin tahi, tapi pengunjung burjo nggak keberatan dan malah senyum-senyum. Ini Mamang Kesbor nyanyinya sama persis seperti sedang kebelet. Yang menarik dari lagu ini—selain lirik, tentu saja—adalah beatnya. Beatnya memberi kita vibes ketika kita kebelet. Saya merasanya gitu sih, susah njelasinnya. Pokoke ngono.

Judul album ini, “Album Terbaik di Tata Surya”, bisa punya banyak makna. Yang jelas, nama album ini adalah gimmick dari Mardial untuk menarik pendengar. Tapi dari kualitas, saya tidak bisa untuk tidak menyukainya. Musik EDM nga melulu tentang party, seks, party, lalu seks lagi. Lirik-lirik Mamang Kesbor menunjukkan bahwa EDM bisa dibuat tidak berjarak dengan realitas.

Ndakik-ndakik banget aku asli.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mas Pur yang Ditinggal Nikah Mbak Novita dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.