Review Film Abadi nan Jaya: Layak Dipuji meski Biasa Saja dan Cenderung Basi

Review Film Abadi nan Jaya: Layak Dipuji meski Biasa Saja dan Cenderung Basi

Review Film Abadi nan Jaya: Layak Dipuji meski Biasa Saja dan Cenderung Basi

Abadi nan Jaya memang nggak sebagus itu. Basi malah. Tapi bukan berarti nggak layak ditonton. Ia masih bisa dinikmati

Sebagai penggemar film horor, saya selalu menyambut kehadiran tontonan seram tersebut dengan hati riang. Terlebih, kalau filmnya dibesut oleh sineas lokal. Soalnya, ceritanya relate dengan kultur nusantara yang hantunya familiar. Beda vibes kalau makhluk astralnya semacam drakula atau boneka terkutuk.

Sialnya, lama-kelamaan, film horor Indonesia terkesan gitu-gitu saja. Bukan cuma mengandalkan sosok kuntilanak atau pocong, premis yang dipilih juga semakin latah. Saat Sadako booming, seluruh demit lokal jadi ikut-ikut berjalan merangkak terpatah-patah. Lalu, saat Joko Anwar sukses mengangkat tema pesugihan, semua jadi mabuk mengambil kisah serupa.

Untungnya, di tahun ini, ada tayangan yang bisa dibilang sedikit keluar jalur. Lumayan, ada hiburan yang nggak monoton. Film yang saya bicarakan ini berjudul Abadi nan Jaya, disutradarai oleh Kimo Stamboel. Sayangnya, film ini menuai banyak kritikan. Namun demikian, saya malah merasa wajib memberi tepuk tangan.

Zombie bukan barang baru, tapi di film ini cukup bikin seru

Saya tahu, zombie bukan lagi makhluk baru, bahkan sudah terlalu mainstream. Namun, zombie di film Abadi nan Jaya ini punya sentuhan yang cukup bikin saya betah nonton sampai ending. Soalnya, zombie-nya superior.

Zombie di film ini jalannya sangat cepat, bahkan bisa lari kencang dan bebas berkeliaran di siang hari. Beda jauh dengan zombie di serial populer macam The Walking Dead (2010) yang jalannya lambat atau mayat hidup di film I Am Legend (2007) yang cuma bisa keluar saat petang. Nggak hanya itu, penglihatan dan pendengaran mereka juga oke punya.

Mirip dengan zombie di Kingdom, kalau kalian mau cari ada nggak yang sama dengan kek gitu.

Alhasil, penonton makin gemas dan tegang. Sebab, nyaris nggak ada ruang kosong bagi para karakter manusia buat menang. Film ini berhasil menghindari pakem di mana satu tokoh pahlawan, alias one man show, dengan mudah mengalahkan gerombolan zombie. Di sini, penonton disuguhi pertarungan yang nggak seimbang dan membuat suasana makin mencekam.

Sinematografi menarik dengan pengambilan gambar cukup unik

Salah satu poin paling layak dipuji dari Abadi nan Jaya adalah sinematografinya. Film ini nggak cuma mengandalkan banjir darah atau visual jorok untuk meneror penikmatnya. Sebaliknya, film ini justru sering menyorot pemandangan Kabupaten Sleman yang indah dengan latar belakang gunung dan hamparan sawah hijau.

Jujur, ini refreshing banget! Visual filmnya jadi lebih berwarna, nggak melulu mengusung tone vintage atau gelap. Setidaknya, mata saya bisa istirahat sejenak menikmati view yang cakep di tengah semburan darah.

Lebih lanjut, ada beberapa momen di mana gambar diambil dari atas atau bird’s-eye view. Pengambilan gambar dari perspektif tinggi seperti ini terbilang jarang dilakukan di film horor. Apalagi, yang menjadikan jumpscare sebagai ujung tombak. Teknik ini mendeklarasikan bahwa sutradara berani mengambil risiko visual tanpa harus mengandalkan trik murahan.

Lagu nasional dalam Abadi nan Jaya adalah gebrakan di luar dugaan

Biasanya, film horor itu nggak jauh-jauh dari scoring melengking yang bikin jantungan, atau lagu-lagu yang sudah punya stigma mistis seperti lagu ‘Nina Bobo’. Kalau nggak begitu, paling banter pakai lagu daerah, lagu lawas, atau lagu baru tapi sengaja diiringi musik jadul.

Lucunya, Abadi nan Jaya malah memakai lagu nasional ‘Indonesia Pusaka’ sebagai sountrack. Bahkan, sepenggal liriknya dicatut sebagai judul. Langkah ini terbilang cerdas karena sanggup menarik atensi masyarakat secara instan. Entah kalau setelah film ini dikenal banyak orang, citra lagu nasional yang sakral itu jadi bergeser punya kesan mengerikan.

Saya harus mengakui bahwa Abadi nan Jaya memang nggak sempurna. Alur ceritanya terbilang basi, berawal dari penelitian aneh yang menghasilkan mayat hidup dan lantas memicu penularan masif. Kingdom, Demon Slayer (meski bukan mayat hidup, tapi pahamlah maksud saya), menyajikan sebab yang sama. Jadi, bukan suatu kebaruan.

Film ini juga termasuk tipe survival yang medioker yang menyisakan sedikit penyintas di akhir cerita. Bahkan, penutupannya pun sudah bisa diduga. Namun, meskipun nggak ada kejutan istimewa, film ini telah membuktikan bahwa horor yang jujur dan apa adanya tetap mampu memberikan pengalaman menonton yang berharga.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perbedaan Karakteristik Zombi di Serial Kingdom, Happiness, dan All of Us Are Dead

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version