Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Resesi This, Resesi That, Emangnya Kalian Ngerti?

Joko Yuliyanto oleh Joko Yuliyanto
4 November 2022
A A
Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai jebolan mahasiswa Ekonomi Pembangunan alias Ilmu Ekonomi, saya merasa terhina saat mayoritas orang bicara panjang-lebar soal resesi. Saat wedangan, manusia-manusia penikmat sego kucing itu asik membahas nasib Indonesia tahun 2023 akibat resesi. Bahkan saat kerja bakti di kampung, selain menghujat Sambo dkk, bapak-bapak paruh baya itu juga ceramah ndakik-ndakik tentang resesi.

Bukannya sombong karena pernah belajar Ekonomi Makro, selama lima tahun mendekam di FEB UNS, tapi saya jadi dongkol kalau lihat dan dengar orang-orang sok paham tentang resesi. Dengan nada dan intonasi yang meyakinkan, mereka mendoktrin orang sekitarnya tentang bahaya resesi bagi kelangsungan hidup manusia. Sampai negara hancur, katanya.

Saya tidak paham referensi yang didapatkan selain nonton berita di televisi dan konten di YouTube. Tapi mbok ya sadar kalau bicara di tempat umum itu kadang ada yang lebih berpengetahuan daripada kawan-kawanmu yang manggut-manggut aja kalau didongengi soal resesi. Padahal misal kalian iseng tanya resesi itu apa, paling gelagapan menjelaskan. Belum lagi ditanya dampak bagi perekonomian Indonesia dan pengaruh terhadap karyawan pabrik, petani, atau kuli bangunan. Itu baru resesi lho, belum inflasi, depresi, krisis ekonomi, PNB, PDB, PPP, dan lain sebagainya.

Padahal saya itu seneng kalau diskusi di wedangan atau di cakruk desa membahas tentang filosofi hidup orang Jawa dan upaya bahagia meski harga-harga kebutuhan pokok naik. Daripada membahas isu yang jauh dari kapasitas pengetahuan dan dampak langsung terhadap pekerjaan saat ini. Batin saya yang terdalam, orang bergaji UMR kok bahas resesi, TABU!

Misalkan menyerobot obrolan dan menjelaskan tentang resesi, nanti dikira sombong—sok berpendidikan, kalau diam saja kok kesannya membiarkan kesesatan informasi disebarkan di mana-mana. Jadi untuk menjaga marwah sikap njawani saya, berikut saya tuliskan sedikit materi kuliah tentang resesi. Setidaknya jika kata-kata yang tidak sempat terucap, dapat ditulis dan bebas dibaca semua orang.

Tentang resesi

Resesi adalah kondisi di mana Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan dalam satu tahun. Mengakibatkan penurunan secara serentak aktivitas di sektor ekonomi. Menimbulkan efek domino pada masing-masing kegiatan ekonomi. Ketika investasi anjlok, maka tingkat produksi barang dan jasa secara otomatis akan mengalami penurunan.

Saat tingkat produksi menurun, lapangan pekerjaan akan berkurang sehingga angka pengangguran meningkat dan berimbas kepada menurunnya daya beli masyarakat. Produksi atas barang dan jasa juga merosot sehingga PDB menjadi turun. Dampaknya akan melemahkan banyak sektor termasuk UKM (Usaha Kecil Menengah) dan UMKM (Usaha Kecil Mikro Menengah).

Resesi juga menyebabkan macetnya kredit perbankan sehingga terjadi inflasi yang sulit dikendalikan atau sebaliknya yaitu terjadi deflasi. Lalu neraca perdagangan akan menjadi minus dan berimbas pada cadangan devisa. Sehingga pada akhirnya resesi ekonomi yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang sehingga menjadi depresi ekonomi yang menyebabkan kebangkrutan ekonomi. Jika ekonomi Negara mengalami kebangkrutan, pemulihan ekonomi akan lebih sulit dilakukan (Aristanti).

Baca Juga:

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Nah, itu sedikit penjelasan mengenai resesi ekonomi yang diambil dari salah satu buku Ekonomi Makro. Tidak asal comot referensi yang berasal dari blog atau postingan teman di media sosial. Lebih jauh lagi bisa dibahas indikator, dampak, dan kemampuan Indonesia mengatasi resesi. Tapi minimal memberikan gambaran kepada masyarakat tentang apa yang seharusnya pantas diresahkan.

Dampak terburuk resesi memang akan berpengaruh nyata pada masyarakat seperti susahnya memperoleh pekerjaan dan biaya hidup makin tinggi. Tapi itu sudah diprediksi dan bakal ditangani oleh pemerintah. Santai. Selama ada Airlangga dan Sri Mulyani, Indonesia bakal aman. Misal pun terdampak, nggak bakal sampai banyak orang mati kelaparan karena tidak mampu membeli makan.

Sebagai pengamat amatir perekonomian Indonesia, saya menganggap, kita (orang miskin) akan aman dari resesi. Ketika Jokowi bersabda pertumbuhan ekonomi Indonesia masih di angka 5,44 persen dan meyakini di kuartal ketiga juga masih tumbuh di atas 5 persen atau 5,4 persen, kita tetap akan konsisten sederhana seperti biasanya. Apalagi menurut ekonom senior Faisal Basri, Indonesia less connected (kurang terhubung) terhadap apa yang terjadi di dunia.

***

Jadi kita orang awam nggak boleh bahas resesi?

Lho, ya boleh. Sak karepmu, sak mumplukmu. Tapi gini lho maksud saya, kalau memang bukan bidang keahliannya, nggak usah kemeruh dan menakut-nakuti. Kita itu sering bicara yang mengerikan tentang sesuatu, padahal untuk sampe titik tersebut, butuh kejadian luar biasa yang kemungkinannya amat kecil. Logika dasarnya nggak nyampe, tapi udah menakut-nakuti, mah ngopo brou?

Tidak belajar apa-apa, hanya sekadar mendengarkan dari sumber tak jelas, tapi yakin dan bertingkah semacam expert inilah yang saya benci dari masalah resesi ini. Alih-alih belajar dan mempersiapkan diri, orang-orang malah menakut-nakuti sembari tak mengukur diri.

Mengutip apa yang Tom Nichols katakan dalam The Death of Expertise, “These are dangerous times. Never have so many people had access to so much knowledge, and yet been so resistant to learning anything.” Terjemahan singkatnya, manusia sekarang punya banyak akses untuk belajar, tapi menolak untuk belajar. Dan saya tak bisa untuk tak setuju perkataan beliau, terlebih di masa sekarang.

Penulis: Joko Yuliyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Memahami Arti Resesi Pakai Bahasa Tukang Gorengan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 November 2022 oleh

Tags: ekonomiresesisok tahuthe death of expertise
Joko Yuliyanto

Joko Yuliyanto

Seorang pengusaha di Arkalon Swarna Jagat. Suka menulis naskah teater dan opini di koran nasional. Sedang hobi mendidik anak menjadi seorang Wali.

ArtikelTerkait

emas logam mulia tabungan bank ekonomi stabilitas mojok

Demam Emas Bisa Jadi Ancaman Pemulihan Ekonomi

12 Oktober 2020
UU ITE Hampir Sama Bahayanya dengan Naksir Teman Sendiri terminal mojok.co

Pacar Bilang Mau Serius Sama Kamu? Tanyakan 4 Pertanyaan Soal Keuangan Ini

15 September 2020
Ketika Orang Aceh Tahlilan di Jakarta

Tahlilan, Tradisi Pererat Silaturahmi Sekaligus Penggerak Ekonomi

29 Juni 2023
Kecamatan Banjaran Diam-diam Jadi Penopang Perekonomian di Kabupaten Bandung

Kecamatan Banjaran Diam-diam Jadi Penopang Perekonomian di Kabupaten Bandung

6 September 2024
paylater, beli rumah

Paylater Bikin Susah Beli Rumah? Yang Benar Saja!

13 Februari 2023
indonesia di jurang resesi kuartal 3 2020 mojok.co

Maaf, Ada Kabar Buruk: Indonesia Diprediksi Alami Resesi pada Kuartal 3 Ini

26 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli Mojok.co

9 Kasta Tertinggi Takjil yang Paling Sering Diperebutkan Pembeli

22 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”
  • Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya
  • Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun
  • Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga
  • Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik
  • 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.