Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Relevansi Berpikir Positif di Era ‘Positive Vibes Only’

Dicky C. Anggoro oleh Dicky C. Anggoro
15 Desember 2019
A A
Relevansi Berpikir Positif di Era ‘Positive Vibes Only’
Share on FacebookShare on Twitter

“Jangan mikir negatif terus, ayo semangat!” Pernah dengar kalimat barusan? Atau yang ini, “Kamu harus bersyukur, kamu masih beruntung lho, di luar sana masih banyak kok yang lebih menderita.” Bagi sebagian besar orang, kalimat-kalimat tersebut memang menjadi penyemangat di kala mereka tengah mengalami masalah. Namun apakah cukup ampuh? Atau malah makin memperburuk kondisi hati?

Kadang secara tidak sadar kita sering melontarkan kalimat-kalimat sejenis untuk menyemangati diri sendiri yang sedang bermasalah ataupun ke teman kita yang sedang curhat ke kita mengenai masalahnya. Di lain kesempatan mungkin saat kita curhat ke seorang sahabat tentang masalah kita, secara tidak sadar ia menyemangati dengan cara demikian.

Quote motivasi senada juga banyak bertebaran di sekeliling kita terutama melalui media sosial, ‘positive vibes only’ atau ‘good vibes only’ katanya. Pesan-pesan yang ingin disampaikan tampaknya diperuntukkan sebagai penyemangat dan motivasi agar kita senantiasa berpikir positif di setiap waktu, seberat apa pun masalah yang sedang kita alami.

Karena begitu banyak motivasi tersebut masuk ke kepala kita, entah dari teman yang sering kita curhati atau dari media sosial, tampaknya makin banyak dari kita yang memakai prinsip positive vibes only dalam mengatasi setiap masalah yang sedang kita hadapi. Tetap tersenyum, buang jauh-jauh pikiran negatif, jangan berpikir yang aneh-aneh, tetap fokus pada sisi positif yang bisa diambil dari setiap masalah. Intinya tidak ada hal-hal negatif, titik.

Di era makin derasnya petuah-petuah positive vibes only ini, timbul suatu permasalahan yang cukup dilematis. Apakah dengan mencoba selalu bahagia bisa mengatasi setiap masalah? Untuk itu mari kita berpikir sejenak. Dengan berpikir semuanya baik-baik saja, banyak dari kita yang memendam emosi negatif terlalu dalam, dan hasilnya perasaan bahagia itu hanya ada di permukaan. Dari luar, mungkin kita akan tetap kelihatan tegar, padahal di dalemnya lagi ambyar.

Terlalu terobsesi dengan rasa bahagia dan mengesampingkan hal-hal buruk yang sedang menimpa kita juga menimbulkan dampak yang jarang disadari orang. Pemikiran seperti itu tampaknya dapat mengundang gejala yang dikenal dengan nama toxic positivity. Rasanya cukup kontradiktif bagaimana sesuatu yang baik dan positif dapat menyimpan sisi beracun yang merugikan.

Istilah toxic positivity muncul dalam sebagai bentuk paksaan untuk kita tetap bahagia dan mengabaikan perasaan yang sesungguhnya kita rasakan. Pokoknya harus bahagia, seolah-olah bentuk perasaan dan emosi yang lain tidak memiliki tempat di dalam pikiran kita. Kita buang rasa sedih, takut, marah, jengkel, dan emosi negatif lain ke kesadaran yang lebih rendah.

Namun masalahnya, kita tidak akan pernah bisa membuang emosi begitu saja. Segenap perasaan dan pemikiran yang berusaha kita buang tidak akan pernah keluar dari otak kita dan cenderung terkubur di alam bawah sadar. Jika setiap pikiran buruk itu disangkal atau dipendam hanya untuk senantiasa terlihat positif atau bahagia di depan orang-orang, yang ada emosi pikiran jelek itu menumpuk dan akan bertransformasi menjadi bentuk-bentuk kecemasan dan depresi.

Baca Juga:

Lika-liku Sopir Jenazah: Sengaja “Mengantar” Hantu karena Gabut dan Sering Ditolak Jadi Talent Uji Nyali

Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Toxic positivity membuat kita berpura-pura tampak dan terobsesi pada kebahagiaan semu. Memang sih, setiap manusia memang memimpikan kebahagian, tapi jangan sampai terjatuh ke level obsesi. Bukannya menjadi bahagia, bisa-bisa kesehatan jiwanya menjadi terancam.

Demi menyelamatkan kesehatan jiwa kita yang terancam karena embel-embel positive vibes only, alih-alih menjadi paksaan untuk terlihat positif, ada baiknya jika memandang segala masalah dengan lebih realistis, untuk itu muncullah konsep realistic positivity.

Walaupun sama-sama berada dalam satu spektrum positivity, berpikir realistis jauh lebih aman terhadap mental kita. Membangun positifitas yang realistis dimulai dari memaklumi bahwa hidup tidak selalu bahagia dan setiap masalah yang membawa emosi-emosi negatif merupakan hal yang sangat wajar dan tidak perlu dibuang jauh-jauh. Untuk itu kita bisa jauh lebih jujur terhadap perasaan sendiri dan menjadi langkah awal untuk berdamai dengan perasaan negatif tersebut.

Daripada terburu-buru untuk menimpa pikiran negatif dengan dorongan untuk tetap semangat, mengekspresikan perasaan tersebut hingga reda menjadi kunci agar ia tidak mengendap dalam-dalam. Baru kemudian mencari akar permasalahan dari perasaan buruk yang tengah dhadapi selama ini. Tentunya pendampingan dari seorang teman curhat yang kompeten akan sangat membantu.

Bagi kita yang sedang dirundung kemalangan, emosi negatif itu wajar, kok. Hanya dengan menerima dan mengakui keberadaannya tanpa buru-buru ditimpa pikiran positif palsu, kita akan dapat memandang dunia dengan lebih jujur dan realistis.

BACA JUGA Ngapain Nyenengin Orang Tapi Kita Nggak Bahagia? atau tulisan Dicky C. Anggoro lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Desember 2019 oleh

Tags: Bahagiamemberi semangatPositive Vibes Onlytoxic positivity
Dicky C. Anggoro

Dicky C. Anggoro

Mahasiswa Apoteker yang gemar meracik kata-kata.

ArtikelTerkait

Law of Attraction, Solusi untuk Generasi Muda yang Rentan Depresi

Law of Attraction, Solusi untuk Generasi Muda yang Rentan Depresi

13 Januari 2020
4 Orang yang Lebih Berhak Bahagia Selain Rachel Vennya terminal mojok

4 Orang yang Berhak Bahagia selain Rachel Vennya

17 Oktober 2021
Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

Hidup Bahagia ala K.H. Anwar Zahid: Bahagia Bukan Hanya Milik Orang Kaya

31 Maret 2023
bahagia

Jadilah Bahagia Walau Tidak Terlahir Dari Keluarga Kaya, Nak

29 Juni 2019
Miskin, tapi Bahagia, Tetap Saja Miskin

Mantra Jogja Bilang Miskin asal Bahagia, tapi Tetap Saja Miskin

25 Januari 2023
cincin untuk menikah apalah menikah bikin lebih bahagia BPS

Apakah Menikah Bikin Lebih Bahagia? Mari Lihat Data BPS

6 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
Ilustrasi Bus Bagong Berisi Keresahan, Jawaban dari Derita Penumpang (Unsplashj)

Di Jalur Ambulu-Surabaya, Bus Bagong Mengakhiri Penderitaan Era Bus Berkarat dan Menyedihkan: Ia Jawaban dari Setiap Keresahan

20 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026
Rapat Pejabat Indonesia, Mahal di Konsumsi, tapi Minim Substansi. Lebih Fokus ke Gedung Rapat dan Konsumsi ketimbang Isi Rapat!

Orang Indonesia Suka Banget Rapat, tapi Nggak Suka Ambil Keputusan, Akhirnya ya, Rapat Lagi!

22 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • 8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman
  • Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”
  • User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi
  • Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa
  • Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara
  • Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.