Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Rasanya Jadi Anak yang Orang Tuanya Harus Tetap Bekerja di Luar Rumah

Elis Susilowati oleh Elis Susilowati
10 April 2020
A A
luar rumah
Share on FacebookShare on Twitter

Pagi sekali adik menghubungi saya melalui Whatsapp menanyakan kapan kepulangan saya. Dia dengan sangat bersemangat mengajak saya untuk pergi berenang karena dia sedang libur sekolah.

Sebagai kakak tertua yang sudah bekerja, saya memang sering mengajak adik-adik untuk pergi berlibur kalau mereka libur sekolah. Tapi ya bukan libur di saat pandemi seperti ini tentu saja. Tapi dasar anak SD, mau dijelaskan seperti apa pun—kalau tidak boleh pergi-pergi ke luar di saat seperti ini—tetap tidak mau mengerti. Daripada dia kecewa, saya tidak membalas pesannya lagi.

ADVERTISEMENT

Saya seorang pegawai yang kost di daerah dengan zona merah garis keras. Kota yang punya angka pasien paling banyak, Jakarta. Kantor saya untungnya mengikuti imbauan pemerintah soal aturan WFH (Work From Home), jadi saya tidak perlu khawatir terkena virus karena tidak perlu keluar rumah sama sekali. Namun, beda cerita dengan keluarga saya yang tinggal di daerah yang mana imbauan soal hal ini belum banyak didengar, dan seperti orang desa pada umumnya, kemungkinan keluarga saya juga santuy-santuy saja dengan apa yang terjadi saat ini (karena memang di sana belum ada kasus yang positif corona).

Setelah saya pikir-pikir lagi, rasanya saya perlu untuk pulang ke rumah untuk memperingatkan keluarga saya soal betapa berbahanya virus corona ini. Juga untuk mengajak keluarga saya untuk hidup sehat dan peduli akan lingkungan sekitar. Maksud hati ingin menjadi pioneer yang menggerakan keluarga sendiri untuk tetap di rumah, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan. Harapannya, apa yang saya dan keluarga lakukan akan menginspirasi tetangga hingga akhirnya diikuti oleh mereka.

Sesampainya di rumah, saya malah menahan sediiiiih, sebab belum juga saya menyampaikan apa yang tadi saya niatkan, saya malah melihat Bapak pergi ke luar rumah untuk tetap mencari nafkah. Mana perginya ke tempat yang ada kerumunan, dan tanpa menggunakan masker. Saya memutar otak, mencoba memberi tahu bapak untuk tinggal di rumah saja tanpa terkesan menggurui.

Dengan segala usaha menyusun kata dan mengumpul keberanian, saya tanya kenapa Bapak tidak meliburan diri untuk sementara waktu itung-itung istirahat agar tetap sehat. Toh kalau soal uang, saya pikir persediaan uang kami masih cukup.

Kalian tahu apa jawaban bapak saya? Beliau bilang andai tidak ada orang yang menggantungkan hidup keluarganya di tempat bapak dan tidak ada orang yang memerlukan barang jualan bapak, bapak pasti sudah di rumah seperti kita semua.

Sayangnya kehadiran bapak sangat diperlukan banyak orang, terutama mereka yang berada di tingkat ekonomi yang lebih bawah yang juga harus sehat dengan asupan gizi yang baik. Mereka adalah orang yang nggak bisa beli makanan lewat aplikasi yang tentu saja harganya jauh lebih tinggi dari harga jualan bapak.

Baca Juga:

Vaksin Covid-19 Butuh Waktu Lama untuk Dibuat: Penjelasan Sederhana

Kangen Sekolah Bukan Berarti Kangen Belajarnya

Begitu pula dengan ibu, pagi-pagi sekali ibu sudah berpesan saat saya setengah sadar terbangun, “Ibu pergi ya kak, Ajak belajar adikmu”, belum selesai kegaduhan pikiran saya untuk bapak, saya baru sadar kalau pekerjaan ibu juga menuntut dia untuk tetap keluar rumah. Kalau ibu tidak keluar, para buruh yang masih harus bekerja tidak makan, sebab dari tangan ibu kebutuhan konsumsi mereka selama bekerja tercukupi. Meski sebagian dari mereka dirumahkan dan mengakibatkan penurunan pendapatan ibu, tapi selama ada buruh yang bekerja, artinya selama itu pula ada hidup orang lain yang bergantung pada ibu.

Dengan segala kondisi di rumah, saya mulai memaklumi sebagaian dari kita tidak bisa tinggal di rumah meskipun dengan segala bahaya yang ada di luar. Dan ini bukan karena keengganan, tapi, ada banyak hidup orang lain yang bergantung kepada mereka. Sama halnya seperti yang terjadi pada orang tua saya.

Kalian bisa membayangkan bagaimana dilemanya saya yang pengin ngajak keluarga tetap di rumah tapi hal itu bisa berdampak pada orang lain. Ini jadi sejenis memikirkan mana yang lebih penting apakah kesehatan atau kemanusiaan?

Akhirnya saya cuma bisa berdamai pada kondisi ini dan berupaya membantu apa yang bisa saya lakukan mulai dari menyediakan makanan sehat di rumah, mengingatkan ibu dan bapak untuk minum vitamin, sampai meminta mereka untuk selalu menjaga kebersihan ketika di luar rumah.

Untuk kita yang bisa tinggal di rumah, kita harus bersyukur karena tidak semua orang punya privilese yang sama. Dan yang paling penting, harus saling membantu, dan meyakinkan diri seberapa bosannya kita di rumah, kita harus tetap di rumah untuk menjaga orang-orang yang harus tetap berkegiatan di luar.

Oh iya, kalau kalian bertanya-tanya apa pekerjaan orang tua saya, Bapak saya penjual sayur di pasar tradisional, dan Ibu saya supplier catering di sebuah pabrik.

BACA JUGA Derita Guru Cewek di SMK, Susah Bener Ngajar Murid Laki yang Sedang Puber dan tulisan Elis Susilowati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 April 2020 oleh

Tags: di rumah ajapademi coronavirus corona
Elis Susilowati

Elis Susilowati

Besok atau lusa. Aku selalu menunggu kita bertemu untuk menyatukan akal.

ArtikelTerkait

ngeyel keluar rumah

Yang Harus Dilakukan Pemerintah biar Nggak Ada Lagi Orang yang Ngeyel Keluar Rumah

25 Maret 2020
kangen sekolah MOJOK.CO

Kangen Sekolah Bukan Berarti Kangen Belajarnya

14 Juli 2020
virus corona masker sampah kesehatan bekas pakai operasi masker mojok.co

Saya Tinggal di Depok, Khawatir Virus Corona, Tapi Saya Tidak Sebar Hoax dan Borong Masker

3 Maret 2020
rakyat kecil, kemiskinan, acara tv

Bodo Amat Soal Kebijakan, Rakyat Kecil Maunya Cuma Bisa Makan

7 April 2020
irasional wabah covid-19 Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

Kenapa Sih Pemerintah Hobi Pakai Istilah Njelimet Buat Komunikasi sama Rakyat?

21 Maret 2020
Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

30 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer Mojok.co

Alasan orang tua tetap menyekolahkan anaknya di SD negeri di tengah pamor SD swasta yang kian moncer

20 Juli 2026
Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

20 Juli 2026
Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

Warga Semarang Bawah layak dapat gelar warga paling kuat dan tabah di Semarang

21 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang  Mojok.co

Cerita suram Semarang yang tidak asing bagi warlok, tapi jarang diketahui pendatang 

19 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.