Purworejo Tidak Butuh Kemewahan, Apalagi soal Makanan dan Minuman karena Hidup Aja Pas-pasan

Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Purworejo Tak Butuh Kemewahan karena Hidup Aja Pas-pasan (Unsplash)

Sebagai orang Purworejo, saya merasa cukup paham dengan pola hidup dan kebiasaan masyarakatnya. Dari cara orang makan, nongkrong, sampai menghitung pengeluaran harian. 

Maka, ketika muncul wacana soal restoran atau minuman yang terlalu mewah masuk ke Purworejo, rasanya ada yang kurang pas. Bukan karena saya anti dengan hal baru, tapi karena kondisi ekonomi masyarakatnya memang belum mendukung.

Orang Purworejo rasional

Realitasnya, penghasilan warga Purworejo kebanyakan masih pas-pasan. UMR yang terbilang kecil membuat orang harus sangat rasional dalam membelanjakan uang. 

Makan di luar bukan soal gaya hidup, tapi kebutuhan. Kami tidak mencari plating cantik atau menu berbahasa asing, tapi porsi yang mengenyangkan dan harga yang masuk akal.

Di Purworejo, minuman seharga Rp25 sampai Rp30 ribu itu sudah mahal. Bukan karena orangnya pelit, tapi karena dengan uang segitu, seseorang sudah bisa makan nasi lengkap. 

Maka, jangan heran kalau warung bakso, soto, pecel lele, dan angkringan selalu punya tempat. Mereka menjual kejujuran rasa dan keterjangkauan, bukan kemewahan.

Fenomena merantau

Faktor lain yang sering luput dibahas adalah banyaknya warga Purworejo yang merantau. Anak mudanya bekerja di Jogja, Semarang, Jakarta, bahkan ke luar pulau. 

Akibatnya, perputaran uang di dalam daerah jadi terbatas. Yang tinggal kebanyakan orang tua, pekerja lokal, dan keluarga yang hidup sederhana. Pasar untuk makanan dan minuman mahal otomatis jadi sempit.

Karena itu, tempat makan atau minuman yang terlalu fancy di Purworejo sering hanya ramai di awal. Orang datang karena penasaran, ingin mencoba, atau sekadar foto-foto. Setelah itu, pengunjung berkurang perlahan. Bukan karena rasanya jelek, tapi karena sulit dijadikan kebiasaan rutin.

Purworejo juga bukan kota tujuan wisata utama

Kebanyakan orang hanya lewat, mampir sebentar, makan secukupnya, lalu melanjutkan perjalanan. Maka, konsep kuliner mahal tanpa menyesuaikan karakter lokal seringnya tidak bertahan lama.

Menariknya, ini bukan berarti orang Purworejo anti nongkrong. Banyak juga yang datang ke kafe, tapi pesanannya sederhana. Teh anget, kopi tubruk, atau menu paling murah di daftar. Nongkrong lebih soal ngobrol dan suasana, bukan soal gengsi.

Selama ekonomi masyarakat belum kuat, UMR masih kecil, dan sebagian besar warganya harus mencari penghidupan di luar daerah, makanan dan minuman mewah memang belum jadi kebutuhan di Purworejo. Kesederhanaan justru jadi identitas. Dan sebagai orang Purworejo, menurut saya itu bukan kekurangan, tapi bentuk kejujuran terhadap keadaan.

Penulis: Riko Prihandoyo

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Sisi Kelam di Balik Wajah Purworejo yang Tenang dan Damai

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version