Beberapa waktu terakhir, saya mulai sering menemukan komentar yang nadanya kurang lebih begini: “Ah, artikel soal Purwokerto lagi. Bosen. Jangan diangkat terus lah, nanti makin viral, makin banyak pendatang.”
Jujur, sebagai orang Purwokerto asli, saya membaca itu dengan perasaan yang agak campur aduk. Di satu sisi, saya mengangguk setuju. Memang benar, tidak semua hal harus viral. Tidak semua tempat harus jadi tujuan semua orang. Ada kalanya sebuah kota cukup dinikmati oleh orang-orang yang sudah ada di dalamnya, tanpa harus kebanjiran perhatian.
Tapi di sisi lain, entah kenapa komentar seperti itu justru menggoda saya untuk melakukan sesuatu yang sedikit nakal: menulis satu artikel lagi tentang Purwokerto.
Kedekatan yang sulit dihindari
Kalau mau jujur-jujuran, alasan paling sederhana kenapa Purwokerto sering muncul di Mojok itu bukan karena ada agenda besar atau konspirasi editorial. Lebih sederhana dari itu: karena yang nulis banyak yang orang Purwokerto. Termasuk saya.
Dulu, waktu kuliah, ada satu konsep seputar ilmu komunikasi yang cukup nempel di kepala, namanya asas kedekatan atau proximity. Intinya, orang akan lebih tertarik, lebih paham, dan lebih mudah berkomunikasi tentang sesuatu yang dekat dengan dirinya baik secara geografis, emosional, maupun pengalaman.
Kalau diterjemahkan ke dunia tulis-menulis, ya wajar saja kalau saya lebih lancar menulis tentang Purwokerto dibandingkan, misalnya, tentang Balikpapan atau Manado. Bukan karena kota-kota itu tidak menarik, tapi karena saya tidak hidup di sana. Saya tidak merasakan ritmenya, tidak tahu keresahan kecil warganya, dan tidak punya bahan cerita yang relate dengan keseharian masyarakatnya.
Sementara Purwokerto? Tinggal buka jendela (atau minimal, buka ingatan), sudah ada cerita. Jadi kalau ada yang bertanya kenapa artikel tentang Purwokerto banyak, jawabannya sederhana: karena penulisnya dekat dengan Purwokerto. Sesederhana itu.
Purwokerto memang lagi ramai saja
Selain faktor kedekatan, ada alasan lain yang tidak kalah penting: Purwokerto memang lagi happening.
Entah sejak kapan, tapi belakangan ini Purwokerto seperti menemukan momentumnya sendiri. Mulai dari cerita-cerita tentang kehidupan warganya, rekomendasi tempat makan, sampai keresahan-keresahan khas kota “yang katanya kecil tapi rasanya kok lengkap”.
Ketika satu-dua artikel tentang Purwokerto mulai ramai, penulis lain pun ikut tertarik. Ada yang ingin berbagi pengalaman, ada yang ingin mengomentari fenomena, ada juga yang sekadar ikut nimbrung karena merasa relate saja.
Akhirnya terbentuk semacam efek bola salju. Satu artikel memancing artikel lain. Satu keresahan melahirkan keresahan berikutnya. Dan tahu-tahu, Purwokerto jadi salah satu “tokoh utama” yang cukup sering muncul di Mojok.
Jangan-jangan bukan kebanyakan tulisan tentang Purwokerto, tapi kurang variasi
Nah, ini bagian yang jarang dibahas. Bagaimana kalau sebenarnya masalahnya bukan karena artikel tentang Purwokerto terlalu banyak, tapi karena artikel tentang daerah lain masih terlalu sedikit?
Coba bayangkan kalau setiap daerah punya penulis yang sama aktifnya. Ada yang rutin menulis tentang kehidupan di Makassar, keresahan di Pekanbaru, dinamika di Kupang, atau cerita-cerita unik dari Pontianak. Pasti lini masa kita akan lebih berwarna. Purwokerto tidak akan terasa “mendominasi” karena ada banyak suara lain yang ikut berbicara.
Masalahnya, tidak semua orang merasa cukup percaya diri atau cukup terdorong untuk menulis tentang daerahnya sendiri. Padahal, justru di situlah kekuatan tulisan-tulisan seperti di Mojok: pada pengalaman yang spesifik, lokal, dan jujur.
Jadi, mungkin solusinya bukan menyuruh orang Purwokerto berhenti menulis, tapi mengajak orang dari daerah lain untuk mulai menulis juga.
Daripada protes, mending ikutan
Saya paham kok, rasa bosan itu valid. Saya sendiri mungkin akan merasa hal yang sama kalau setiap hari disuguhi topik yang itu-itu saja. Tapi daripada hanya mengeluh, kenapa tidak sekalian ambil bagian?
Kalau kamu orang Jogja, tulislah Jogja versimu. Bukan yang klise, tapi yang benar-benar kamu rasakan. Kalau kamu dari Medan, ceritakan Medan dari sudut pandangmu. Kalau kamu dari kota kecil yang bahkan jarang disebut orang, justru itu yang menarik.
Saya, sebagai orang Purwokerto, juga sebenarnya tidak keberatan kalau “jatah tampil” kota ini sedikit berkurang. Toh, saya juga ingin membaca cerita dari tempat lain. Ingin tahu apa yang sedang ramai di sana, apa yang bikin warganya geleng-geleng kepala, dan apa yang diam-diam mereka banggakan.
Jadi ya, untuk sekarang, maaf kalau saya masih menambah satu artikel lagi tentang Purwokerto.
Penulis: Wahyu Tri Utami
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
