Punya Halaman Rumah Luas di Dusun Nggak Selamanya Enak! – Terminal Mojok

Punya Halaman Rumah Luas di Dusun Nggak Selamanya Enak!

Artikel

Memiliki tanah di Jogja kemudian dibangun menjadi rumah merupakan dambaan bagi warga Jogja sendiri. Namun, sekarang ini tidak semua warga Jogja mampu membeli tanah di wilayahnya sendiri lantaran harga tanah yang sudah melambung tinggi dalam beberapa tahun ke belakang. Tingginya harga tanah tidak hanya pada wilayah perkotaan atau pinggiran saja, harga tanah di dusun pun sudah tinggi. Hal ini disebabkan banyaknya warga pendatang yang membeli tanah di Jogja dengan harga tinggi, kemudian mengangkat harga tanah di wilayah itu dan sekitarnya.

Tetapi, memiliki tanah dan rumah dengan halaman yang cukup luas ternyata juga ada tidak enaknya. Hal ini dialami mertua saya yang punya tanah dan rumah dengan halaman rumah yang cukup luas. Sepertinya mertua merasa tidak nyaman punya halaman belakang maupun halaman depan rumah yang luas.

Jadi, mertua saya ini tinggal di salah satu dusun di Banguntapan, Kabupaten Bantul. Sebagai anak tunggal, blio mewarisi beberapa bidang tanah yang cukup luas dari simbah istri saya. Salah satu bidang tanah dibangun rumah kemudian ditinggali. Rumah yang ditinggali ini mempunyai halaman depan dan halaman belakang yang sangat luas. Ibarat parkiran, halaman belakang ini bisa menampung 20 mobil, sedangkan halaman depan bisa menampung 10 mobil.

Beberapa waktu yang lalu, mertua curhat kepada saya dan istri tentang kelakukan beberapa tetangga kanan kiri yang seenaknya menggunakan halaman belakang dan halaman depan tanpa permisi. Nah, berdasarkan hasil obrolan kami, saya membuat daftar alasan punya halaman rumah luas itu tidak enak.

Baca Juga:  Solitude, Praktik Hening yang Menghidupkan

#1 Halaman belakang dipakai adu ayam tetangga

Ini kelakukan yang paling menjengkelkan bagi mertua saya. Halaman belakang rumahnya dipakai untuk adu ayam oleh tetangga. Sedikit saya gambarkan, halaman belakang mertua saya ini sangat teduh karena ditanami banyak pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan alpukat. Tentu saja sangat nyaman apabila dipakai sebagai ajang adu ayam jago karena selain teduh juga sangat luas.

Kalau untuk urusan buah-buahan yang sering dipetik oleh tetangga tanpa permisi sih, tidak masalah. Anggap saja sebagai sedekah. Tetapi kalau urusan halaman belakang dipakai untuk adu ayam, hal ini tidak bisa ditoleransi. Apa nanti kata warga dusun, dikiranya mertua menyediakan tempat untuk adu ayam. Padahal mertua dikenal sebagai tokoh agama dan tokoh dusun setempat. Mertua bertindak tegas dengan mengusir tetangga yang adu ayam di halaman belakang rumah.

#2 Halaman depan dipakai untuk parkir mobil tanpa permisi

Halaman depan rumah mertua yang bisa menampung 10 mobil ini tidak ada pintu gerbangnya. Kebanyakan rumah di dusun, jarang yang dilengkapi dengan pintu gerbang. Jadi, sangat memungkinan siapa pun bisa keluar masuk tanpa hambatan. Bahkan buah pepaya yang dipetik oleh tetangga tanpa minta izin pun lolos dari pengamatan mertua. Ini karena saking bebasnya keluar masuk halaman depan dan saking luasnya halaman rumah.

Untuk urusan petik memetik pepaya ini bisa dimaklumi oleh mertua. Namun untuk urusan mobil tetangga yang masuk dan memarkirkan kendaraannya tanpa permisi, tentu sangat menjengkelkan. Memang ada beberapa tetangga yang permisi minta izin, tetapi ada dua orang tetangga yang dengan seenaknya memarkirkan mobilnya di halaman rumah tanpa permisi.

Baca Juga:  Arsenal, Gabriel Magalhaes, dan Ujian Kesabaran ketika Kesalahan Terjadi

Kadang masyarakat kita itu aneh, tidak punya lahan parkir di rumahnya tetapi memaksakan untuk beli mobil. Kalau di masyarakat perkotaan sudah lazim ada penyewaan lahan untuk parkir kendaraan bagi yang tidak punya garasi, tetapi di dusun belum lazim. Untuk urusan ini, mertua masih toleransi kepada dua tetangga ini karena memang parkirnya tidak lama. Paling lama dua hari saja walau sering, yah hitung-hitung sedekah lahan.

#3 Halaman depan banyak tahi ayam milik tetangga

Ini ibaratnya tidak menikmati dagingnya, bahkan telurnya pun tidak, tetapi disuruh menikmari tahinya. Kalau saya berkunjung ke rumah mertua setiap akhir pekan, pasti banyak sekali ranjau-ranjau darat yang berkamuflase menyerupai warna tanah. Ya, tahi-tahi ayam ini bertebaran di seantero halaman depan bahkan di teras rumah. Dan anehnya, tetangga yang punya ayam tidak merasa bersalah sedikit pun ketika mendengar mertua ngomel-ngomel di teras saat membersihkan tahi-tahi ayam.

Tetapi ketika ayam-ayam itu “berwisata” di halaman rumah, anak-anak saya biasanya sangat kegirangan. Seperti ada permainan baru, mereka dengan penuh semangat mengejar dan menghalau ayam-ayam itu keluar halaman. Bahkan, mertua saya malah menyuruh mereka melempari ayam-ayam dengan kerikil. Hahaha. Lemparan demi lemparan berhasil menghalau ayam-ayam untuk keluar dari halaman.

Ketiga hal di atas tidak lantas membuat mertua tidak menikmati kehidupan di dusun. Blio sangat menikmati kehidupan di dusun, sayangnya kelakuan beberapa tetangga yang menyebalkan tak jarang bikin pusing. Apalagi perkara halaman belakang rumah yang dijadikan tempat adu ayam. Haduh, kalau soal itu sulit ditolerir. Walau tidak ada uang taruhan, tetap saja merusak nama baik blio, kan? Pusing!

Baca Juga:  Willian Borges, Kesulitan Arsenal, dan Berbagai Dilema yang Perlu Dipahami

BACA JUGA Dua Pepatah Jawa Ini Tidak Dapat Digunakan di Bikini Bottom dan tulisan Humam Zarodi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.