Ada banyak bentuk patah hati. Ada yang ditinggal tanpa penjelasan, ada yang cintanya kandas di tengah jalan. Namun, ada satu patah hati yang jarang dibicarakan, padahal efeknya nyata dan berkepanjangan, setidaknya bagi saya, yaitu pulang liburan dari Jepang, lalu kembali ke Indonesia.
Selama sepuluh hari di Osaka dan Kyoto, tidak sekali pun saya mengeluarkan kata-kata bernada makian. Bukan karena saya tiba-tiba jadi manusia yang tercerahkan, apalagi sedang menjalani laku spiritual. Alasannya jauh lebih sederhana, tidak ada situasi yang memancing amarah. Semua terasa rapi, disiplin, terukur, dan berjalan sebagaimana mestinya.
Di Jepang saya benar-benar merasakan bagaimana negara bekerja, masyarakat patuh, ruang publik dihormati. Semuanya begitu indah, sampai kenyamanan itu bubrah saat saya pulang di tanah air tercinta.
Di Indonesia, baru saja mobil keluar dari rumah langsung berhadapan dengan parkir sembarangan hingga menutup jalan. Beberapa meter kemudian, kemacetan. Tak jauh dari situ, tumpukan sampah yang entah sudah berapa hari menjadi bagian lanskap. Siangnya, saya makan di warteg dan berjalan kaki dengan kewaspadaan penuh. Sebab di negeri ini, menjadi pejalan kaki adalah olahraga ekstrem karena nyawa jadi taruhannya.
Di titik itulah saya sadar, negara ini benar-benar berbeda dan saya rindu Jepang yang teratur. Berikut lima hal yang paling terasa hilang setelah kembali dari Jepang.
#1 Transportasi umum Jepang yang sangat apik
Di Jepang, transportasi umum bukan sekadar alat berpindah tempat, tapi sistem yang apik. Kereta datang tepat waktu. Bus berhenti sesuai jadwal. Tidak ada kendaraan umum yang berhenti mendadak demi mengejar penumpang, apalagi berlomba-lomba di jalan.
Jalan raya terasa tenang. Tidak ada motor menyalip dari segala arah. Tidak ada klakson sebagai bahasa sehari-hari. Pulang ke Indonesia, saya kembali berhadapan dengan realitas bahwa berpindah tempat sering kali berarti bernegosiasi dengan kekacauan.
#2 Menghormati pejalan kaki
Di Jepang, pejalan kaki adalah prioritas. Fasilitas trotoar tersedia dan berfungsi sebagaimana mestinya. Tidak ada tuh pedagang kaki lima yang menghalangi pejalan kaki melangkah. Lampu penyeberangan dilengkapi suara penanda. Kendaraan berhenti, memberi ruang, tanpa perlu adu nyali.
Di Indonesia, trotoar sering kali kehilangan identitas. Ia bisa berubah menjadi lahan parkir, lapak dagang, bahkan tempat las. Menyeberang jalan bukan soal hak, tapi keberanian. Yang ragu, tertinggal. Yang lengah, celaka.
#3 Aparat Jepang sebagai wajah pelayanan publik
Polisi di Jepang hadir dengan sikap membantu, bukan mengintimidasi. Mereka menjadi titik aman bagi warga dan wisatawan. Bertanya arah tidak disambut curiga. Polisi melayani dengan sepenuh hati.
Kembali ke Indonesia, relasi antara warga dan aparat kerap tumbuh di atas kewaspadaan. Bukan tanpa sebab. Pengalaman kolektif terlalu sering mengajarkan bahwa kekuasaan lebih sering ingin ditaati dan menguasai daripada melayani.
#4 Wisata tanpa pungli dan juru parkir siluman
Di Jepang, tempat wisata berjalan apa adanya. Tidak ada pungutan tak jelas. Tidak ada parkir misterius. Semua tarif transparan dan masuk akal.
Sebaliknya, di Indonesia, ruang publik kerap mengalami metamorfosis menjadi ladang ekonomi informal. Area parkir muncul dari ruang yang sebelumnya tak pernah ada. Toilet umum, hingga sekadar berhenti beberapa menit, bisa berujung pada transaksi yang tak pernah tercatat dalam sistem mana pun. Negara seolah hadir setengah-setengah, sementara warga beradaptasi dengan ketidakjelasan yang sudah lama dinormalisasi dengan kalimat ajaib, “Uang dua ribu ngga bikin miskin.”
Ya coba saja hitung, Rp2.000 sebanyak lima kali sehari dan itu terjadi selama 365 hari. Bokek juga kan?
#5 Masyarakat yang menghormati ruang bersama
Orang-orang Jepang tidak merasa perlu menguasai ruang dengan suara. Mereka tidak berisik, tidak menyerobot, tidak menjadikan keberadaan orang lain sebagai gangguan.
Di Indonesia, orang-orang sering menganggap wajar. Menyerobot dianggap cerdik. Ketidakteraturan itu biasa. Kita hidup berdampingan, tapi jarang benar-benar saling menghormati. Pantas saja Dere sampai mempopulerkan lagu berjudul Berisik karena memang cocok sekali untuk diputar di tengah masyarakat kita.
Pulang dari Jepang bukan hanya soal jet lag atau rindu suasana liburan. Ia adalah cermin di depan wajah kita sendiri. Cermin yang menunjukkan bahwa keteraturan bukan kemewahan, melainkan pilihan. Bahwa disiplin bukan sifat bawaan bangsa tertentu, melainkan hasil dari kesepakatan sosial bersama.
Yang paling menyakitkan bukanlah kenyataan bahwa kita tertinggal. Melainkan kesadaran bahwa kita sebenarnya bisa, namun terlalu lama berdamai dengan kekacauan, sampai lupa rasanya hidup dalam peradaban yang tertib.
Penulis: Fatikha Faradina
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Mencoba Memahami Alasan Orang-orang Kabur dari Magang di Jepang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
