Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Pulang adalah Sebuah Usaha untuk Bertobat

Ahmad Abu Rifai oleh Ahmad Abu Rifai
6 Juni 2019
A A
pulang

pulang

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga:

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

Bertahun-tahun lalu—jika saya tidak salah ingat, saya pernah menganggap orang-orang yang merantau sering kali pudar jati dirinya atau kehilangan kebiasaan-kebiasaan baik semasa di kampung. Jika sebelumnya mereka sering mengaji, maka di perantauan Alquran menjadi jauh darinya. Jika semasa di desa mereka senantiasa bersemangat dalam bekerja, maka kemalasan acapkali sering selalu menimpa jika tanah rantau sudah lama dipijak.
Ini bukan asumsi saya belaka. Karena saya seringkali mendengar cerita dari beberapa orang di sekitar saya. Jadi semacam sudah terklarifikasi oleh berbagai pihak yang mengalaminya yhaaa~
Beberapa kerabat saya bercerita, juga kawan-kawan yang telah merasakan hidup di tempat perantauan nun jauh di sana. Pada awalnya saya menganggap mereka hanya kurang semangat, alasan. Mana mungkin menyempatkan mengaji barang sepuluh menit saja tidak bisa? Dalam dua puluh empat jam sehari, toh tidak kita gunakan semua untuk bekerja. Paling banter 12 jam. Itu sudah luar biasa.
Begitulah, hingga saya merasakan bagaimana kehidupan rantau sebenarnya. FYI, sekali lagi kini saya jadi mahasiswa salah satu universitas negeri di Semarang. Orang-orang sering menyebutnya UI (Universitas Indonesia) cabang Semarag.
Hidup saya memang tidak benar-benar berubah 180 derajat. Namun, bahwa banyak hal yang tak lagi sama: iya. Perubahan itu tidak hanya soal pola makan atau buang air seperti yang kemarin saya tulis di sini,melainkan juga tabiat laku.
Soal salat misalnya, jika di rumah saya hampir selalu tepat waktu karena masjid berjarak semester di samping rumah, maka di Semarang, sebaliknya; hampir semua salat saya tak tepat waktu. Kadang telat setengah jam, satu jam, atau bahkan benar-benar kelewat.
Jika saat masih di kampung Alquran selalu berada di tangan saya tiap bakda magrib, maka sekarang ia sering terlupakan. Iya. Gawailah yang jadi penggantinya.
Perubahan ini tentu tidak terjadi ujug-ujug—tiba-tiba, melainkan bertahap, seiring berjalannya waktu. Awal-awal di kampus, spirit kebiasaan saya semasa di rumah masih terjaga. Setidaknya soal dua hal tadi—salat dan ngaji.
Tabiat-tabiat yang hilang itu, tak benar-benar saya ketahui penyebabnya apa. Entah saya memang sejak dulu tidak ikhlas beribadah—hanya lahir dari keterpaksaan, atau saya rajin tetapi kemudian terpengaruh lingkungan. Entahlah. Yang jelas, tanah rantau memang begitu keras. Tidak ada orang tua yang akan mengingatkan kita tiap waktu. Kita harus benar-benar mandiri. Sebab ketika dulu orang tua bisa mengontrol laku kita, sekarang mereka tidak bisa.
Pandangan saya terhadap orang-orang rantau tentu kemudian berubah. Menyempatkan barang sepuluh-lima belas menit untuk mengaji memang sulit. Sulit. Entah kenapa. Godaan memang begitu kuat. Dan saya belum cukut tangguh untuk menangkalnya.
Fase-fase ini begitu sulit dan menyedihkan. Kadang jika ditelepon Bapak atau Mamak di rumah, kebohongan demi kebohongan harus senantiasa saya katakan.
“Nang, sudah salat magrib, kan?”
“Sudah, Mak.”
“Sudah sampai juz berapa?”
“Dua puluh sembilan.”
“Alhamdulillah. Sebentar lagi khatam.”
Dialog di atas tentu merupakan ilustrasi kebohongan saya. Tiap kali bohong seperti itu, saya hanya bisa membayangkan Mamak dan Bapak saya tersenyum. Senyum yang ironis, tentu. Jika sudah begini, maka cara terbaik untuk semua—mengembalikan sprit saya dan juga kelegaan di hati mereka—adalah pulang.
Pulang adalah sebuah usaha untuk bertobat.
Terlepas dari segala hal di tanah rantau—entah kita sukses atau belum, masih sebaik di kampung atau tidak, pulang adalah sebuah usaha untuk membuat kita ingat kembali apa tujuan kita pergi dari kampung halaman. Kita mengingat ada orang tua yang selalu mengharap anaknya di rumah, kita mengingat ada masa depan yang patut kita perjuangkan, kita mengingat, bahwa sejauh mana pun langkah kita berpijak, Tuhan selalu melihat dan mencurahkan kasih saying.
Pulang, sekali lagi, bukan untuk pamer. Pulang adalah seni mengingat. Sebab saat di rumah, memori kita menyatu. Jiwa kita seolah terisi kembali.
Maka di momen Idulfitri sekarang, pulang begitu bermakna. Kita pulang untuk sesuatu yang akan terbangun lebih jauh: tekad.
Begitulah.
Selamat Idulfitri.
Selamat merayakan kepulangan. []

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: IdulfitriMudik LebaranPulang
Ahmad Abu Rifai

Ahmad Abu Rifai

Takmir BP2M Unnes dan aktif di Kelas Menulis Cerpen Kang Putu

ArtikelTerkait

Percayalah, Menginap di Pelabuhan Saat Mudik Tidak Ekonomis dan Sangat Miris

Percayalah, Menginap di Pelabuhan Saat Mudik Tidak Ekonomis dan Sangat Miris

22 April 2023
Pengguna Knalpot Brong Adalah Manusia yang Diberkati Seribu Doa terminal mojok.co

Menyemarakkan Takbiran Keliling, Tetapi Enggan Menggemakan Takbir di Masjid Kampung Sendiri

6 Juni 2019
Video Ucapan Idulfitri Pejabat Pemerintah yang Gitu-gitu Aja Terminal Mojok

Video Ucapan Idulfitri Pejabat Pemerintah yang Gitu-gitu Aja

1 Mei 2022
5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang Terminal Mojok

5 Tanda Lebaran Sudah Dekat di Cikarang

26 April 2022
Wajah Baru Terminal Karangpucung Cilacap: Lebih Modern, Jauh dari Kata Usang dan Mengenaskan

Wajah Baru Terminal Karangpucung Cilacap: Lebih Modern, Jauh dari Kata Usang dan Mengenaskan

10 April 2024
Begini Rasanya Nggak Pernah Mudik Lebaran Sejak Lahir

Begini Rasanya Nggak Pernah Mudik Lebaran Sejak Lahir

23 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan Terminal

Bahasa Sunda yang Kaya Punya Banyak Istilah untuk Menyebut Hujan

9 Mei 2026
4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu Mojok.co

4 Taman Semarang yang Cocok untuk Merenungi Hidup, Kursi Besi Indomaret Minggir Dulu

12 Mei 2026
Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja

Pustakawan, Profesi yang Sering Dianggap Remeh, padahal Kerjanya Enak dan Banyak Untungnya

7 Mei 2026
Sisi Gelap FISIP, Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik Terminal

FISIP Kehilangan “Taring” karena Mahasiswanya Jarang Baca dan Dosennya Sibuk Berpolitik 

7 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026
PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit Terminal

PT Pegadaian Punya Layanan Lain yang Nggak Saya Sangka, Bukan Cuma Tempat Gadai Orang Kepepet Butuh Duit

8 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.