Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Promosi Kesehatan: Jurusan Underrated yang Dianggap Cuma Sales, padahal Garda Terdepan Kesehatan Rakyat

Difa Annisa oleh Difa Annisa
28 Maret 2025
A A
Promosi Kesehatan: Jurusan Underrated yang Dianggap Cuma Sales, padahal Garda Terdepan Kesehatan Rakyat

Promosi Kesehatan: Jurusan Underrated yang Dianggap Cuma Sales, padahal Garda Terdepan Kesehatan Rakyat

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi mahasiswa jurusan Promosi Kesehatan, saya kenyang dengan respons “jurusan apa tuh?” tiap kali ditanya tentang jurusan apa saya kuliah. Dan saya yakin, gara-gara hal itu, mahasiswa Promosi Kesehatan berubah jadi makhluk paling sabar sedunia.

Jika menyinggung profesi di ranah kesehatan, orientasi orang-orang tak jauh dengan dokter, perawat, bidan. Tapi Promosi Kesehatan, sangat sedikit yang masuk radar. Padahal, tugas utama Promkes bukan main-main: memastikan masyarakat tidak gampang jatuh sakit dengan cara edukasi dan kampanye kesehatan. Promkes berfokus pada edukasi kesehatan masyarakat, perilaku hidup sehat, dan penguatan kebijakan kesehatan.

Kalau selama ini kesehatan hanya dikaitkan dengan rumah sakit, Promkes hadir dengan pendekatan yang lebih preventif. Alih-alih menunggu orang sakit, Promkes lebih memilih membuat program agar orang tetap sehat. Ini semacam “sedia payung sebelum hujan,” tapi dalam versi kesehatan.

Sayangnya, karena nggak pakai jas putih atau bawa stetoskop, keberadaannya sering kali diabaikan. Kalau dibandingkan, mungkin Promosi Kesehatan itu kayak underrated artist—bagus, berbakat, tapi nggak banyak yang ngeh.

Kesalahpahaman tentang lulusan dan prospek kerja

Setiap kali ngobrol soal kuliah, pasti ujung-ujungnya ditanya, “Kerjanya apa nanti?” Seolah-olah kalau kuliah di kesehatan, harus jadi tenaga medis. Nggak boleh belok-belok. Padahal mau kuliah di jurusan apa pun, merupakan kesempatan untuk mengeskplor diri dan skill baru yang mungkin saja jauh berbeda dari jurusan yang diambil. Meskipun begitu tidak ada ilmu yang sia-sia.

Nah, itulah yang bikin jurusan Promosi Kesehatan itu seakan jadi asing dan banyak yang salah paham. Banyak yang berpikir kalau lulusannya jadi sales obat atau alat kesehatan. Seakan-akan empat tahun kuliah dihabiskan cuma buat jadi calon sales masa depan. Padahal, bidang Promosi Kesehatan ini luas banget. Dari edukator kesehatan, analis kebijakan kesehatan, sampai perancang program pencegahan penyakit di level nasional.

Tapi ya gitu, kalau nggak linier sama bayangan umum orang-orang, dianggap prospek kerja tidak jelas.

Sesama mahasiswa kesehatan pun masih bingung

Yang bikin hidup mahasiswa jurusan Promosi Kesehatan lebih miris itu adalah, bukan cuma masyarakat awam yang bingung, tapi juga sesama mahasiswa kesehatan lain.

Baca Juga:

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

Saya Lebih Percaya Dokter Tirta daripada Influencer Kesehatan Lainnya, To The Point, dan Walk The Talk!

Pertanyaan “jurusan apa itu?” dan “kuliahnya ngapain?” ikut menghiasi. Padahal, profesi kesehatan itu saling berkaitan dan berkesinambungan dalam menjalankan tugasnya. Nih ya, Promosi Kesehatan ini ibarat tim kreatif di balik kesuksesan acara. Kalau dokter dan perawat yang tampil di panggung, Promkes yang bikin skenarionya biar masyarakat nggak perlu sering-sering datang ke rumah sakit.

Tapi tetap saja, bukan hal nyeleneh lagi masih terdapat bias informasi tentang Promkes di sangkar sendiri.

Mahasiswa Promosi Kesehatan wajib multitalenta

Bagi mahasiswa yang baru nyemplung jurusan Promosi Kesehatan, pasti akan mengalami krisis identitas karena semua-mua dikerjain.

Bukan cuma (wajib) paham strategi kesehatan, mahasiswa Promkes diarahkan untuk peduli seputar kesehatan, utamanya strategi pencegahan dan kebijakan atas kampanye. Udah? Tidak. Mereka juga tak luput dari tugas multimedia yang bejibun mulai dari bikin konten edukatif, desain poster, edit video, jadi podcaster, sampai jago ngomong di depan umum. Bahkan, sering kali tiba-tiba ditunjuk buat presentasi dadakan.

Nggak siap? Langsung dihantam dosen dengan kalimat sakti, “Masa anak Promkes nggak bisa ngomong di depan?” Boom! Hanya satu kalimat, membuat ego mahasiswa promkes tersentil.

Nggak heran kalau mahasiswa Promosi Kesehatan sering tiba-tiba muncul dengan kamera, tiba-tiba berkoar-koar di acara penyuluhan, atau mendadak buka bisnis. Karena dalam lingkup Promkes, nggak cuma rumah sakit yang jadi lahan kerja, tapi juga komunitas, media, bahkan industri kreatif. Kalau kesehatan adalah tentang pencegahan, maka Promkes adalah ujung tombaknya.

Anak Promosi Kesehatan kuliah di berbagai jurusan sekaligus

Menjadi mahasiswa Promosi Kesehatan itu rasanya seperti nyemplung ke berbagai jurusan sekaligus. Sehari-hari nggak cuma belajar kesehatan, tapi juga masuk ke dunia ilmu komunikasi karena harus bergelut dengan segala hal yang berbau multimedia. Editing video? Bisa. Desain poster? Wajib. Bikin podcast? Santai. Belum lagi soal strategi penyampaian informasi yang harus menarik biar masyarakat paham dan tertarik.

Selain itu, jangan heran kalau anak Promkes punya mindset kayak mahasiswa manajemen dan bisnis. Sesuai dengan tagline jurusannya—promosi kesehatan—mereka juga harus belajar strategi pemasaran dan komunikasi yang efektif. Tidak jarang, mahasiswa Promkes punya jiwa entrepreneur, tiba-tiba open PO ini-itu karena sudah terbiasa mikir gimana caranya menarik perhatian orang dengan teknik promosi yang menarik.

Jiwa seni juga nggak ketinggalan. Kreativitas adalah nafas utama dalam Promkes. Nggak heran kalau beberapa dosennya berasal dari latar belakang seni. Mahasiswa Promkes harus bisa bikin konten edukasi yang nggak cuma bermanfaat tapi juga estetik dan engaging. Akhirnya, banyak mahasiswa Promkes yang punya vibe ngalcer berkompeten—fleksibel, kreatif, tapi tetap tajam dalam mengedukasi masyarakat.

Ekspektasi sosial yang bikin pusing

Jurusan yang sudah memiliki pengakuan di ranah kesehatan sering kali berasal dari ranah kuratif yang familiar seperti dokter, perawat, atau bidan. Kalau Promkes? sering dianggap kurang berjasa karena karena tidak berurusan langsung dengan pasien. Padahal, konsep kesehatan itu bukan cuma soal “sakit = sembuh”, tapi juga bagaimana caranya supaya orang tidak gampang sakit. Promkes ini yang memikirkan strategi besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan hidup sehat.

Salah persepsi inilah yang membuat ranah kuratif akan dinilai lebih berjasa dibandingkan promkes yang tidak mendapat mata kuliah cara menyuntik yang baik dan benar. Pekerjaan di promosi kesehatan sering dianggap “kurang nyata” karena hasilnya tidak langsung terlihat kayak dokter yang menyembuhkan pasien.

Padahal, efek dari promosi kesehatan itu jangka panjang dan bisa menyelamatkan lebih banyak orang daripada sekadar mengobati. Kalau masyarakat lebih sadar soal kesehatan, beban layanan medis juga bisa berkurang. Orang lebih sering melihat dokter dan perawat di media, sementara peran tenaga promosi kesehatan jarang disorot.

Padahal, di balik layar ada orang-orang Promkes yang bikin program gizi, atau penyuluhan kesehatan, menyebarkan informasi soal pola hidup sehat, sampai ngurusin kampanye vaksinasi biar angka penyakit menurun. Kalau mereka tidak ada, bisa jadi angka penyakit malah semakin tinggi.

Prospek kerja promosi kesehatan menjanjikan!

Buat yang masih ragu soal prospek kerja, tenang aja. Dari sisi pemerintah, kebutuhan akan lulusan Promosi Kesehatan itu nyata adanya. Banyak instansi kesehatan, mulai dari kementerian sampai dinas kesehatan daerah, yang butuh tenaga Promkes untuk menjalankan program edukasi kesehatan masyarakat.

Selain itu, karena skill yang dipelajari selama kuliah mencakup banyak bidang, lulusan Promkes juga bisa bekerja di industri kreatif, agency, media, hingga sektor bisnis dan wirausaha.

Mau masuk industri lain pun bukan masalah! Bekal skill yang didapat dari berkuliah di jurusan Promkes bisa dipakai di mana saja—dari komunikasi, manajemen, desain, hingga strategi pemasaran. Istilahnya, jurusan ini dibutuhkan di segala aspek, tidak terbatas hanya di dunia kesehatan.

Jadi, kenapa promosi kesehatan penting?

Kalau kesehatan cuma soal menyembuhkan, rumah sakit tidak akan pernah sepi pasien. Tapi kalau ada edukasi yang baik, masyarakat bisa lebih peduli dan angka kesakitan dapat menurun.

Jadi, kalau masih ada yang nanya, “Jurusan Promkes itu apa sih?” jawab aja: “Kami yang bikin orang sadar kesehatan sebelum telanjur sakit.” Atau, kalau mau lebih dramatis, “Kami yang bekerja di balik layar dan memastikan hidupmu tetap sehat.”

Semoga semakin banyak yang melek bahwa jurusan ini bukan sekadar soal ‘jualan’ kesehatan, tapi lebih dari itu. Kompleksitas yang ada dalam Promosi Kesehatan bukan hanya tentang pencegahan penyakit, tapi juga bisa lintas bidang dan berguna untuk banyak aspek kehidupan. Bahkan, kalau mau lintas jurusan sekalipun, skill yang didapat tidak akan sia-sia.

Sebagai mahasiswa semester akhir di jurusan Promkes yang menulis ini, saya berharap semakin banyak orang yang mengetahui tentang jurusan ini dan sadar kalau kesehatan bukan cuma soal mengobati penyakit, tapi juga mencegahnya. Jurusan Promkes punya peran penting dalam membentuk generasi yang lebih sehat. Kalau dulu cita-cita anak kecil cuma dokter atau perawat, semoga ke depan ada yang bilang, “Aku pengen jadi tenaga Promkes biar bisa bikin perubahan!”

Jadi, buat kalian yang suka dunia kesehatan tapi pengen lebih fokus ke edukasi dan perubahan perilaku masyarakat, mungkin Promkes bisa jadi pilihan. Siapa tahu, di masa depan jurusan ini nggak lagi underrated dan makin banyak orang yang peduli sama kesehatan secara menyeluruh.

Penulis: Difa Annisa
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nggak Semua Orang Cocok Kuliah di Jurusan Rekam Medis, Kuliahnya Kaku dan Sering Dianaktirikan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2025 oleh

Tags: jurusan promosi kesehatanKesehatanpromosi
Difa Annisa

Difa Annisa

Saya adalah seorang mahasiswa promosi kesehatan di Universitas Kusuma Husada, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia. Saya sangat antusias untuk meningkatkan skill di dunia kreator digital seperti menulis dan mendesain. Beberapa tulisan saya bisa ditemukan di medium terkait isu Self-Development. Selain itu saya aktif dalam organisasi, kegiatan sukarela dan pengabdian masyarakat. Saya memiliki ketertarikan yang besar untuk terus membangun keterampilan dan meningkatkan minat saya.

ArtikelTerkait

gym adalah doang mah Gampang! Yang Susah itu Istiqamahnya! terminal mojok

Nge-Gym doang mah Gampang, yang Susah Istiqamahnya!

22 Maret 2021
3 Keapesan yang Cuma Dirasakan Orang Berkacamata. Yang Sabar, Bos! terminal mojok.co

3 Keapesan yang Cuma Dirasakan Orang Berkacamata. Yang Sabar, Bos!

5 November 2020
pemanasan global

Dampak Negatif Pemanasan Global Bagi Kesehatan

24 September 2019
Pertolongan Pertama pada Sakit Gigi yang Dapat Kamu Coba di Rumah terminal mojok

Pertolongan Pertama pada Sakit Gigi yang Dapat Kamu Coba di Rumah

25 September 2021
Memahami Penyebab Jerawat biar Muka Tetap Glowing Kayak Levi Ackerman terminal mojok.co

Memahami Penyebab Jerawat biar Muka Tetap Glowing Kayak Levi Ackerman

26 Januari 2021
Meskipun Jadi Daerah dengan Akses Layanan Kesehatan Tersulit di Jawa Tengah, Saya Bersyukur Lahir dan Besar di Cilacap

Meskipun Jadi Daerah dengan Akses Layanan Kesehatan Tersulit di Jawa Tengah, Saya Bersyukur Lahir dan Besar di Cilacap

12 Agustus 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.