Saya bisa nyasar ke Piyungan bukan karena tiba-tiba mendapat pencerahan atau niat mulia pribadi. Adalah MPM PP Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat dan saya ikut serta.
Niat awal saya itu sederhana. Saya ingin belajar memberdayakan masyarakat. Namun, pada akhirnya, justru masyarakat yang memberdayakan saya.
Hari pertama yang berkesan di Piyungan
Hari pertama, saya dan Mas Farhan bertugas di rumah Pak RT. Namanya Pak Sukiman. Tugasnya, menjelang Magrib, kami mengikuti pengajian rutin warga.
Baru duduk lima menit, saya sudah merasa berada di tempat yang tidak biasa. Di sekeliling saya beredar rokok dengan kasta yang kalau dibuat grafik, bisa jadi studi ekonomi mikro.
Ada Sampoerna Mild, LA Lights, Surya Garpit, Marlboro Merah Filter. Sementara di tangan saya, rokok kretek Aroma Slim Fit kuning yang mendadak terasa seperti peserta beasiswa jalur afirmasi.
Selepas pengajian, sesi berubah menjadi ngopi santai. Di sinilah percakapan yang membelekokkan perspektif dimulai. Pak Sutarto, di samping saya, bertanya soal asal daerah saya.
Saya menjawab Bandung, Pangalengan, daerah pertanian dan perkebunan. Beliau mengangguk, lalu bertanya lagi, “Berarti keluarga Mas juga bertani? Lagi panen apa di sana?” Saya menjawab sayur-sayuran, cabai, kol. Lalu saya balik bertanya, “Kalau di sini lagi panen apa, Pak?”
Beliau menyeringai, menatap mata saya, lalu berkata lantang, “PANEN SAMPAH!”
Seisi ruangan meledak tawa. Saya ikut tertawa, meski sepersekian detik sebelumnya otak saya masih menyesuaikan definisi “panen” yang baru saja direvisi secara kolektif.
Tawa belum reda ketika beliau menambahkan, “Di sini pada nggak punya lahan, Mas,”
Mengunjungi “kantor” Pak RT
Hari kedua di Piyungan, Pak RT mengajak saya ke “kantor operasional”. Kantor itu bukan kantor pada umumnya, melainkan pusat pengepulan, penyimpanan, pemilahan, sekaligus pengiriman rongsokan.
Setelah itu, pukul 10 pagi kami berangkat menembus jalan sempit di tengah hutan untuk menolong truk pengangkut rongsokan yang nyaris terjungkal ke jurang. Kami memindahkan barang-barang ke mobil kolbak, lalu membawanya kembali ke “kantor”. Prosesnya melelahkan, tapi entah kenapa saya tidak mengeluh.
Hari itu Jumat. Setelah memindahkan rongsokan, Pak RT berkata, “Mas, kalau mau pulang nggak apa-apa. Jumatan dulu.” Saya sempat bimbang antara membantu truk atau ke masjid.
Di kepala terlindas ucapan Gus Bah saat menyampaikan materi sebelum kami menuju lapangan:
Jadi, salah satu di antara banyaknya jalan menuju Allah adalah justru lewat para pekerja pengepul rongsokan Mardika yang kita temui sehari-hari nanti. Bukan ketemu sama presiden, wakil presiden, atau pejabat.
Tanpa kalkulasi teologis yang panjang, saya menjawab, “Saya ikut Bapak aja bantu truk. Jumatan nanti bisa diganti Dzuhur.” Keputusan yang mungkin tidak akan lulus ujian fiqih. Truk itu akhirnya bisa berjalan lagi setelah hampir empat jam.
Malamnya kami ngopi lagi di depan rumah. Obrolan mengalir ke tema keluarga. Pak RT berkata dengan santai, “Alhamdulillah, saya bisa menguliahkan tiga anak saya sampai selesai. Sekarang sudah merdeka.”
Baru belakangan saya menyadari bahwa usaha rongsokan bukan usaha kecil. Pak RT memiliki tiga truk operasional, di garasi rumahnya terparkir satu Toyota Innova, dan dua motor. Di titik itu saya berhenti menyebutnya “tukang rongsok”. Lebih tepat kalau disebut CEO perusahaan berbasis limbah di Piyungan.
Hari terakhir di Piyungan yang datang terlalu cepat
Hujan menemani aktivitas kami mengambil rosokan dari mitra-mitra di jalur hutan di sekitar Piyungan. Setelah semua selesai, tibalah momen berpamitan.
Pak RT berkata, “Makasih ya, Mas, sudah bantu dengan rajin. Semoga sukses selalu dalam berbagai hal.”
Saya menjawab jujur, “Bagi saya tiga hari nggak cukup, Pak. Harusnya tiga bulan. Ini panitia pelit, cuman ngasih tiga hari buat live-in.” Kami tertawa bersama, tawa yang berfungsi menutup rasa berat meninggalkan Piyungan.
Saat kami hendak naik mobil jemputan, Ibu RT menghampiri dan menyelipkan amplop ke tangan kami. “Tolong diterima ya, Mas. Bapak itu nyiapin ini sambil sedih.”
Kami hanya bisa menjawab, “Matur nuwun sanget.”
Kami datang untuk belajar, mereka justru memberi lebih dari yang kami minta. Fasilitas, makan cukup, bahkan lebih dari cukup.
Masyarakat berdaya untuk masyarakat
Ada satu hal yang baru saya sadari kemudian. Di Piyungan berdiri satu PTSP besar milik pemerintah setempat yang menandai hadirnya negara secara formal. Namun, dalam praktik sehari-hari, justru warga yang terlihat lebih dominan mengelola ekonomi wilayahnya sendiri. Ini memperlihatkan masyarakat punya kendali kemandirian secara ekonomi.
Masing-masing seperti CEO di lingkupnya sendiri. Ada yang menguasai jalur pengumpulan, spesialis pemilahan, hingga lihai distribusi.
Di titik ini saya merasa, ukuran kemerdekaan ternyata tidak selalu identik dengan menjadi pegawai start-up di SCBD. Di Piyungan, kemerdekaan terasa lebih sederhana dengan bisa menyekolahkan anak, bisa makan cukup, bisa bercanda setelah kerja seharian, dan bisa tidur tanpa dihantui target esok pagi.
Dengan segala kerendahan hati, saya berani bilang kebahagiaan di Piyungan terasa lebih jujur nan tulus dibanding hiruk-pikuk Jakarta yang sering terlihat gemerlap tapi sangat paradoks.
Penulis: Muhammad Nabil Alfarizi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Piyungan, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bantul
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















