Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

Muhammad Nabil Alfarizi oleh Muhammad Nabil Alfarizi
7 Februari 2026
A A
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya bisa nyasar ke Piyungan bukan karena tiba-tiba mendapat pencerahan atau niat mulia pribadi. Adalah MPM PP Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat dan saya ikut serta.

Niat awal saya itu sederhana. Saya ingin belajar memberdayakan masyarakat. Namun, pada akhirnya, justru masyarakat yang memberdayakan saya.

Hari pertama yang berkesan di Piyungan

Hari pertama, saya dan Mas Farhan bertugas di rumah Pak RT. Namanya Pak Sukiman. Tugasnya, menjelang Magrib, kami mengikuti pengajian rutin warga. 

Baru duduk lima menit, saya sudah merasa berada di tempat yang tidak biasa. Di sekeliling saya beredar rokok dengan kasta yang kalau dibuat grafik, bisa jadi studi ekonomi mikro. 

Ada Sampoerna Mild, LA Lights, Surya Garpit, Marlboro Merah Filter. Sementara di tangan saya, rokok kretek Aroma Slim Fit kuning yang mendadak terasa seperti peserta beasiswa jalur afirmasi.

Selepas pengajian, sesi berubah menjadi ngopi santai. Di sinilah percakapan yang membelekokkan perspektif dimulai. Pak Sutarto, di samping saya, bertanya soal asal daerah saya. 

Saya menjawab Bandung, Pangalengan, daerah pertanian dan perkebunan. Beliau mengangguk, lalu bertanya lagi, “Berarti keluarga Mas juga bertani? Lagi panen apa di sana?” Saya menjawab sayur-sayuran, cabai, kol. Lalu saya balik bertanya, “Kalau di sini lagi panen apa, Pak?”

Beliau menyeringai, menatap mata saya, lalu berkata lantang, “PANEN SAMPAH!”

Baca Juga:

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

Nama Kretek Bantul Nggak Banyak Dikenal Orang, Terhalang Nama Besar Parangtritis

Seisi ruangan meledak tawa. Saya ikut tertawa, meski sepersekian detik sebelumnya otak saya masih menyesuaikan definisi “panen” yang baru saja direvisi secara kolektif. 

Tawa belum reda ketika beliau menambahkan, “Di sini pada nggak punya lahan, Mas,” 

Mengunjungi “kantor” Pak RT

Hari kedua di Piyungan, Pak RT mengajak saya ke “kantor operasional”. Kantor itu bukan kantor pada umumnya, melainkan pusat pengepulan, penyimpanan, pemilahan, sekaligus pengiriman rongsokan. 

Setelah itu, pukul 10 pagi kami berangkat menembus jalan sempit di tengah hutan untuk menolong truk pengangkut rongsokan yang nyaris terjungkal ke jurang. Kami memindahkan barang-barang ke mobil kolbak, lalu membawanya kembali ke “kantor”. Prosesnya melelahkan, tapi entah kenapa saya tidak mengeluh.

Hari itu Jumat. Setelah memindahkan rongsokan, Pak RT berkata, “Mas, kalau mau pulang nggak apa-apa. Jumatan dulu.” Saya sempat bimbang antara membantu truk atau ke masjid. 

Di kepala terlindas ucapan Gus Bah saat menyampaikan materi sebelum kami menuju lapangan:

Jadi, salah satu di antara banyaknya jalan menuju Allah adalah justru lewat para pekerja pengepul rongsokan Mardika yang kita temui sehari-hari nanti. Bukan ketemu sama presiden, wakil presiden, atau pejabat. 

Tanpa kalkulasi teologis yang panjang, saya menjawab, “Saya ikut Bapak aja bantu truk. Jumatan nanti bisa diganti Dzuhur.” Keputusan yang mungkin tidak akan lulus ujian fiqih. Truk itu akhirnya bisa berjalan lagi setelah hampir empat jam.

Malamnya kami ngopi lagi di depan rumah. Obrolan mengalir ke tema keluarga. Pak RT berkata dengan santai, “Alhamdulillah, saya bisa menguliahkan tiga anak saya sampai selesai. Sekarang sudah merdeka.” 

Baru belakangan saya menyadari bahwa usaha rongsokan bukan usaha kecil. Pak RT memiliki tiga truk operasional, di garasi rumahnya terparkir satu Toyota Innova, dan dua motor. Di titik itu saya berhenti menyebutnya “tukang rongsok”. Lebih tepat kalau disebut CEO perusahaan berbasis limbah di Piyungan.

Hari terakhir di Piyungan yang datang terlalu cepat

Hujan menemani aktivitas kami mengambil rosokan dari mitra-mitra di jalur hutan di sekitar Piyungan. Setelah semua selesai, tibalah momen berpamitan. 

Pak RT berkata, “Makasih ya, Mas, sudah bantu dengan rajin. Semoga sukses selalu dalam berbagai hal.”

Saya menjawab jujur, “Bagi saya tiga hari nggak cukup, Pak. Harusnya tiga bulan. Ini panitia pelit, cuman ngasih tiga hari buat live-in.” Kami tertawa bersama, tawa yang berfungsi menutup rasa berat meninggalkan Piyungan.

Saat kami hendak naik mobil jemputan, Ibu RT menghampiri dan menyelipkan amplop ke tangan kami. “Tolong diterima ya, Mas. Bapak itu nyiapin ini sambil sedih.” 

Kami hanya bisa menjawab, “Matur nuwun sanget.” 

Kami datang untuk belajar, mereka justru memberi lebih dari yang kami minta. Fasilitas, makan cukup, bahkan lebih dari cukup.

Masyarakat berdaya untuk masyarakat

Ada satu hal yang baru saya sadari kemudian. Di Piyungan berdiri satu PTSP besar milik pemerintah setempat yang menandai hadirnya negara secara formal. Namun, dalam praktik sehari-hari, justru warga yang terlihat lebih dominan mengelola ekonomi wilayahnya sendiri. Ini memperlihatkan masyarakat punya kendali kemandirian secara ekonomi.

Masing-masing seperti CEO di lingkupnya sendiri. Ada yang menguasai jalur pengumpulan, spesialis pemilahan, hingga lihai distribusi. 

Di titik ini saya merasa, ukuran kemerdekaan ternyata tidak selalu identik dengan menjadi pegawai start-up di SCBD. Di Piyungan, kemerdekaan terasa lebih sederhana dengan bisa menyekolahkan anak, bisa makan cukup, bisa bercanda setelah kerja seharian, dan bisa tidur tanpa dihantui target esok pagi.

Dengan segala kerendahan hati, saya berani bilang kebahagiaan di Piyungan terasa lebih jujur nan tulus dibanding hiruk-pikuk Jakarta yang sering terlihat gemerlap tapi sangat paradoks.

Penulis: Muhammad Nabil Alfarizi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Piyungan, Kecamatan Paling Menyedihkan di Kabupaten Bantul

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2026 oleh

Tags: Bantullimbahpengolahan sampahpiyunganPiyungan Bantulrongsokan
Muhammad Nabil Alfarizi

Muhammad Nabil Alfarizi

Aktivis sosial yang tertarik pada isu pemberdayaan masyarakat, kerja-kerja komunitas, dan kehidupan warga di pinggiran. Sesekali turun ke lapangan, sering kali pulang bawa cerita.

ArtikelTerkait

kenapa UMP Jogja rendah titik kemacetan di jogja lockdown rekomendasi cilok di Jogja Sebenarnya Tidak Romantis Jika Kamu Cuma Punya Gaji UMR dawuh dalem sabda pandita ratu tugu jogja monarki mojok

Hal yang Terjadi Bila Benteng Takeshi Bikin Rintangan di Bantul

13 Juni 2020
Bangunjiwo Bantul Problematik: Daerahnya Makin Modern, tapi Infrastruktur Nggak Memadai bantul jogja

Bantul, Daerah yang Isinya Kejadian Aneh, Hal Aneh, dan Orang Aneh. Semuanya Aneh!

26 Februari 2024
4 Jalan Berbahaya di Bantul yang Nggak Disadari Banyak Pengendara

Stop Mencibir Mahasiswa Asal Bantul yang Ngekos di Sleman, Kami Ngekos karena Kami Masih Sayang Punggung!

3 Juli 2024
cara petani bantul membawa gabah kronjot Starter Pack Wajib Perempuan Saat Lockdown dengan Kearifan Lokal aka Menjemur Padi

Membedah Berbagai Metode Petani Bantul saat Membawa Gabah

18 Mei 2020
Simpang Beringin, Area Paling Ramai Sekaligus Semrawut di Kasihan Bantul

Simpang Beringin, Area Paling Ramai Sekaligus Semrawut di Kasihan Bantul

5 Juni 2024
Tinggal di Bangunjiwo Bantul Nggak Seburuk Itu, Ini 4 Alasan Bangunjiwo Justru Menjadi Desa Ternyaman di Jogja

Tinggal di Bangunjiwo Bantul Nggak Seburuk Itu, Ini 4 Alasan Bangunjiwo Justru Menjadi Desa Ternyaman di Jogja

18 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

16 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Stasiun Klaten Stasiun Legendaris yang Semakin Modern

Stasiun Klaten, Stasiun Berusia Satu Setengah Abad yang Terus Melangkah Menuju Modernisasi

16 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.