Belakangan ini, narasi “kabur dari kota” semakin sering terdengar. Banyak orang kota besar yang merasa lelah dengan macet, polusi, biaya hidup mahal, tekanan kerja, hingga hubungan sosial yang terasa dingin dan transaksional. Media sosial pun ikut memperkuat romantisasi hidup di desa: bangun pagi ditemani suara ayam, bekerja santai dari rumah, makan sayur segar dari kebun, dan hidup terlihat lebih damai.
Seolah-olah, pindah ke desa adalah solusi instan bagi semua masalah kehidupan urban. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Terutama bagi kaum introvert yang sejak awal memang tidak terlalu nyaman dengan interaksi sosial intens. Alih-alih menemukan ketenangan, hidup di desa justru bisa menjadi pengalaman yang melelahkan secara mental.
Banyak orang kota mengira desa identik dengan kesunyian. Tidak ramai, tidak bising, tidak banyak orang. Bagi introvert, gambaran ini terlihat seperti surga akhirnya bisa hidup tenang tanpa harus sering bersosialisasi.
Namun kenyataannya justru berkebalikan. Desa bukan tempat anonim seperti kota besar. Di kota, seseorang bisa tinggal bertahun-tahun tanpa mengenal tetangga sebelah rumah. Tidak menyapa pun bukan masalah. Privasi menjadi hal yang wajar. Di desa, kehidupan sosial jauh lebih dekat. Tetangga tahu siapa kita. Orang akan bertanya dari mana asal kita. Aktivitas sehari-hari mudah terlihat.
Bukan karena ingin mencampuri urusan pribadi, melainkan karena budaya desa memang berbasis komunitas. Kehadiran seseorang dianggap bagian dari kehidupan bersama. Bagi introvert yang membutuhkan ruang personal besar, situasi ini bisa terasa menguras energi.
Tekanan sosial yang tidak terlihat
Ada satu hal yang sering tidak disadari orang kota sebelum pindah ke desa, yaitu kewajiban sosial.
Di desa, interaksi bukan pilihan, melainkan bagian dari kehidupan. Ada kerja bakti, ronda malam, acara hajatan, pengajian, arisan RT, hingga sekadar duduk ngobrol sore bersama warga. Menolak sekali mungkin dimaklumi. Menolak berkali-kali bisa dianggap menjaga jarak.
Bagi introvert, kegiatan seperti ini bukan sekadar aktivitas sosial biasa, tetapi sumber kelelahan mental. Setelah seharian berinteraksi, mereka membutuhkan waktu menyendiri untuk mengisi ulang energi. Masalahnya, ritme hidup desa sering kali tidak memberi ruang untuk benar-benar “menghilang”. Bukan karena masyarakat desa memaksa, tetapi karena kebersamaan adalah nilai utama yang dijaga.
Privasi yang lebih tipis
Hal lain yang jarang dibahas adalah soal privasi. Di kota besar, seseorang bisa pulang malam tanpa ada yang bertanya. Bisa memilih tidak keluar rumah berhari-hari tanpa menjadi perhatian siapa pun.
Di desa, keadaan berbeda. Jika beberapa hari tidak terlihat keluar rumah, tetangga bisa mulai bertanya, “Lagi sakit ya?” atau “Jarang kelihatan sekarang.”
Pertanyaan tersebut sebenarnya bentuk kepedulian. Namun bagi introvert, perhatian yang terus-menerus justru dapat terasa seperti pengawasan sosial. Rasa ingin sendiri malah berubah menjadi perasaan tidak nyaman.
Romantisasi desa yang terlalu jauh
Media sosial sering menampilkan hidup desa sebagai versi healing permanen. Konten tentang menanam sayur, minum kopi di teras, bekerja dengan laptop di tengah sawah, terlihat begitu menenangkan.
Yang jarang diperlihatkan adalah realitas adaptasi sosialnya. Hidup di desa bukan hanya soal pemandangan indah, tapi juga soal menjadi bagian dari komunitas yang aktif. Kita tidak hanya tinggal di ruang fisik, tetapi juga masuk ke dalam sistem sosial yang sudah lama terbentuk.
Tanpa kesiapan mental, seseorang bisa merasa terasing meskipun tinggal di lingkungan yang ramah. Ironisnya, rasa kesepian di desa justru bisa lebih kuat daripada di kota.
Introvert bukan anti-sosial, tapi butuh batas
Penting untuk dipahami bahwa introvert bukan berarti tidak suka manusia. Mereka tetap membutuhkan hubungan sosial, hanya dengan intensitas yang berbeda. Masalah muncul ketika lingkungan menuntut keterlibatan sosial tinggi secara terus-menerus.
Di kota, introvert punya kontrol: memilih kapan bersosialisasi dan kapan menarik diri. Di desa, ritme sosial sering berjalan kolektif. Ada ekspektasi kebersamaan yang sulit dihindari. Akibatnya, energi mental cepat terkuras. Bukan tidak mungkin seseorang yang awalnya ingin mencari ketenangan justru mengalami stres karena tidak mampu memenuhi tuntutan sosial yang ada.
Yang perlu diketahui, desa bukanlah versi lebih tenang dari kota. Desa memiliki fungsi sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda. Ia bukan tempat pelarian bagi orang kota yang sedang burnout. Masyarakat desa hidup dengan prinsip gotong royong, kedekatan, dan saling keterlibatan. Ketika seseorang datang hanya untuk “menghindari dunia,” sering kali terjadi benturan ekspektasi.
Bukan desanya yang salah. Bukan juga orang kotanya yang keliru. Hanya saja, keduanya memiliki ritme kehidupan yang berbeda.
Sebelum pindah ke desa, kenali diri sendiri
Keinginan meninggalkan kota besar adalah hal yang wajar. Banyak orang memang lelah dengan tekanan urban. Namun keputusan pindah ke desa seharusnya bukan keputusan emosional sesaat. Terutama bagi introvert, penting untuk mempertimbangkan beberapa hal. Apakah siap dikenal banyak orang? Apakah nyaman dengan aktivitas sosial komunitas? Dan, yang paling penting, apakah siap hidup dalam lingkungan yang saling memperhatikan?
Sebab, ketenangan bukan hanya soal lokasi geografis, melainkan kesesuaian antara kepribadian dan lingkungan hidup. Kadang yang sebenarnya kita butuhkan bukan pindah kota atau pindah desa, melainkan mengubah cara hidup. Mengurangi beban kerja. Membatasi relasi yang melelahkan. Menciptakan ruang pribadi di mana pun kita tinggal.
Desa memang indah. Kota memang melelahkan. Namun keduanya bukan jawaban universal untuk semua orang. Bagi sebagian introvert, kota justru memberi kebebasan terbesar kebebasan untuk tidak selalu terlihat, tidak selalu ditanya, dan tidak selalu harus hadir dalam setiap interaksi sosial.
Jadi sebelum memutuskan pindah ke desa karena muak hidup di kota besar, ada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab. Apakah kita benar-benar mencari ketenangan, atau hanya ingin lari dari kelelahan sementara? Karena bisa saja, yang berubah hanya tempat tinggalnya sementara rasa lelah tetap ikut pindah bersama kita.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















