Belum lama ini salah satu artikel di Terminal Mojok membahas soal petugas sensus ekonomi. Judul tulisannya Beratnya Jadi Petugas Sensus, Dicurigai Mau Minta Sumbangan hingga Data yang Tidak Relevan. Tulisan yang menarik mengingat sensus ekonomi yang digelar tiap 10 tahun ini memang tengah menyita perhatian.
Apa yang diceritakan oleh Mbak Dyan dalam tulisan benar-benar mewakili perasaan teman saya sebagai petugas sensus ekonomi 2026. Dia merasakan sendiri bagaimana warga tidak kooperatif dengan menghindari pertanyaan atau tidak menjawab seacra terbuka.
Teman saya ini harus melakukan sensus terhadap 750 data penduduk. Jumlah yang tidak sedikit dan praktiknya jauh dari kata mudah. Semakin tidak mudah karena banyak masyarakat tidak kooperatif menjawab pertanyaan. Jangankan menjawab pertanyaan, mempersilakan petugas masuk saja tidak.
Warga menyambut petugas sensus penduduk dengan penuh curiga
Teman saya cerita pernah melakukan sensus di siang hari. Namun, kebanyakan rumah tidak berpenghuni saat itu. Mungkin penghuninya sedang bekerja atau keluar rumah.
Itu mengapa, kawan saya memutuskan melakukan sensus di sore hingga malam hari ketika orang-orang sudah pulang dari aktivitasnya masing-masing. Eh, ternyata orang-orang masih enggan membukakan pintu rumah untuk disurvei.
Hal lain yang bikin sakit hati, banyak warga mengira pertanyaan yang petugas berikan itu dibuat-buat. Mereka menilai pertanyaan yang diajukan tidak penting dan tidak relevan. Bahkan, tidak sedikit yang curiga jawaban yang diberikan warga akan dijadikan alasan untuk menaikan pajak.
Ujung-ujungnya, respons masyarakat jadi tidak jujur. Bahkan, beberapa lebih memilih cuma memicingkan mata seperti marah.
Cuma menjalankan pekerjaan
Semua perlakuan yang diterima petugas sensus membuat teman saya merenung kembali. Apa yang dilakukannya hanyalah bekerja seperti guru, kasir, pegawai bank, ojol, dan banyak pekerjaan lain di luar sana. Petugas sensus hanya melakukan jobdesc-nya.
Survei semacam ini sudah jadi kegiatan 10 tahunan dan pertanyaan yang kerap dicap “tidak sopan” itu berasal dari pusat. Bukan petugas sensus yang menyusunnya. Apakah perlu petugas sensus pantas menerima perlakukan buruk seperti selama ini?
Setelah turun lapangan dengan segala cerita penolakan, petugas sensus harus menyetorkan data itu ke pembimbing lapangan. Apabila data tidak lengkap atau tidak di-acc, mereka harus turun lapangan lagi ke tempat yang sama untuk bertanya. Bayangkan, betapa banyak penolakan yang diterima seorang petugas sensus.
Waktu menipis, masyarakat tidak kooperatif, dan tekanan pembimbing lapangan membuat pusing. Belum lagi batas pengumpulan data maksimal 31 Agustus 2026 mendatang.
Pihak BPS dan pemerintah memang sudah mengimbau masyarakat untuk bersiap disensus oleh petugas. Namun, pengalaman kawan saya turun lapangan, imbauan itu tidak benar-benar dilaksanakan. Atau, imbauan itu tidak pernah sampai. Atau, bahkan, imbauan itu sampai, tapi tidak pernah dilaksanakan karena kepercayaan masyarakat pada pemerintah sudah pudar.
Sebenarnya, banyak petugas sensus yang merasa tahun kali ini berat dan mereka ingin dipecat. Sebab, kalau mereka mengundurkan diri, ada denda yang mesti ditanggung. Mau keluar tidak bisa, mau lanjut terlalu banyak.
Jadi sebagai warga, bagaimana kalau kita memperlakukan petugas sensus dengan lebih baik, toh mereka juga cuma menjalankan tugas.
Penulis: Nurul Fauziah
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
