Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Persaudaraan Orang Batak Itu Kental? Tunggu Dulu, Margamu Apa?

Ricky Bryan DP Tampubolon oleh Ricky Bryan DP Tampubolon
29 November 2024
A A
Persaudaraan Orang Batak Itu Kental? Tunggu Dulu, Margamu Apa?

Persaudaraan Orang Batak Itu Kental? Tunggu Dulu, Margamu Apa?

Share on FacebookShare on Twitter

Sebelum kalian orang Batak pada ngamuk, saya akan beri disclaimer dulu. Ini hanya pengalaman saya sebagai penulis, jangan jadikan sebagai hal yang harus diterima oleh umum. Sebab, setiap pengalaman orang bisa berbeda.

Orang Batak sering digambarkan sebagai kelompok etnis yang memiliki solidaritas tinggi, apalagi ketika di perantauan. Citra ini sudah mendarah daging dalam persepsi masyarakat luas. Namun, pengalaman saya sebagai seorang Batak di perantauan ternyata jauh dari gambaran tersebut. Bukan berarti tidak ada rasa persaudaraan di antara sesama Batak, tetapi sering kali persaudaraan itu hadir dengan satu syarat utama: margamu apa?

ADVERTISEMENT

Ya, mari kita bicara soal marga, elemen fundamental dalam budaya Batak yang sering kali menjadi dasar dari solidaritas itu. Dalam struktur adat Batak, marga adalah identitas, penanda hubungan kekerabatan, dan status dalam masyarakat. Maka tak heran, di mana pun kau berada, pertanyaan pertama yang muncul ketika bertemu orang Batak adalah, “Margamu apa?”

Solidaritas orang Batak berdasarkan marga (?)

Bagi orang Batak, marga bukan sekadar nama belakang, melainkan simbol hubungan kekeluargaan yang sangat dihormati. Orang Batak dengan marga yang sama otomatis dianggap “saudara.” Bahkan, ada istilah yang kerap digunakan: dalihan na tolu, filosofi hidup masyarakat Batak yang mengatur hubungan antara saudara semarga (dongan sabutuha), kerabat ibu (boru), dan mertua (hula-hula).

Namun, solidaritas ini bisa terasa eksklusif. Jika margamu sama atau ada keterkaitan melalui marga ibu (saya bicara soal nama belakang, bukan orangnya, bedakan marga dan boru), maka hubungan akan terjalin lebih akrab. Saling membantu, saling dukung, bahkan saling “backup” dalam berbagai situasi. Tapi kalau margamu berbeda, tunggu dulu, mungkin hubungan kita hanya sebatas sapaan.

Di perantauan, fenomena ini semakin terasa. Solidaritas yang dibayangkan sebagai persatuan orang Batak sering kali terkotak-kotak berdasarkan marga. “Oh, kau bukan marga kami? Ya, baiklah, kita kenal saja.”, begitu mungkin dalam hatinya. Sebaliknya, kalau marganya sama, tiba-tiba rasa persaudaraan muncul begitu kuat meskipun sebelumnya tidak saling kenal.

Hubungan yang dilihat dari kepentingan(?)

Tidak hanya soal marga, kepentingan juga menjadi variabel penting dalam persaudaraan orang Batak yang saya temui (yang saya temui lho ya). Kalau ada kepentingan yang sama, seperti sama-sama bekerja di bidang tertentu, organisasi yang sama, atau memiliki tujuan serupa, persaudaraan bisa terjalin meski marga berbeda. Namun, ketika kepentingan tidak sama, hubungan sering kali menjadi sekadar formalitas.

Misalnya, ketika di perantauan, solidaritas bisa muncul dalam konteks komunitas orang Batak dalam bidang kerja tertentu. Misalnya komunitas Batak dalam seni, pendidikan, atau yang lainnya. Tetapi begitu kepentingan itu selesai, hubungan yang tampak akrab tadi bisa berubah dingin.

Baca Juga:

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

Palembang Bikin Pangling, Banyak Berubah padahal Baru Ditinggal Merantau Setahun

Membandingkan dengan persaudaraan orang Timur

Sebagai perantau, saya juga sering berinteraksi dengan orang-orang dari Indonesia bagian Timur. Dari pengalaman saya, yang saya lihat dan rasakan, persaudaraan mereka terasa jauh lebih inklusif. Orang-orang dari Maluku, Nusa Tenggara Timur, atau Papua, misalnya, tidak memandang latar belakang keluarga, marga, atau suku ketika membangun hubungan. Persaudaraan mereka didasarkan pada rasa senasib sebagai perantau, bukan pada ikatan garis keturunan.

Ketika bertemu sesama orang Timur, mereka saling mendukung dengan tulus. Tidak ada pertanyaan, “Kamu dari suku apa?” atau “Apa margamu?” Mereka langsung saling mengakui sebagai saudara, berbagi tawa, dan saling membantu tanpa banyak pertimbangan.

Kontras ini sering membuat saya bertanya-tanya: mengapa solidaritas orang Batak terasa terkotak-kotak dibandingkan dengan orang timur? Bukankah di tanah perantauan, semestinya kita semua adalah saudara?

Tidak berarti solidaritas orang Batak itu buruk, tapi…

Persaudaraan berbasis marga memang tidak sepenuhnya salah. Dalam adat dan budaya Batak, marga adalah identitas yang sangat penting. Namun, di zaman sekarang, khususnya di perantauan, rasanya terlalu sempit jika solidaritas hanya dibangun di atas kesamaan marga.

Ketika kita jauh dari kampung halaman, seharusnya yang menjadi concern kita adalah rasa kebersamaan sebagai sesama perantau, bukan lagi garis keturunan atau kepentingan semata. Kita perlu belajar dari saudara-saudara kita dari Indonesia bagian timur yang menunjukkan bahwa persaudaraan tidak membutuhkan syarat tambahan selain rasa kebersamaan.

Kalau kita ingin benar-benar menghidupkan semangat “persaudaraan orang Batak,” kita perlu lebih membuka diri. Tidak apa-apa jika marga menjadi bagian dari identitas budaya, tetapi jangan sampai menjadi batasan solidaritas. Bukankah lebih indah jika kita semua bisa saling mendukung tanpa memandang marga?

Persaudaraan sejati adalah tentang kepedulian dan rasa saling menghargai, bukan hanya soal marga, kepentingan, atau sekadar formalitas. Solidaritas yang inklusif tidak hanya memperkuat hubungan, tetapi juga memperkuat identitas kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk.

Jadi, kalau kau orang Batak di perantauan dan bertemu sesama Batak, jangan berhenti di pertanyaan “Margamu apa?” Tapi lanjutkan dengan, “Bagaimana di perantauan?”, siapa tahu kita bisa saling membantu.

Penulis: Ricky Bryan DP Tampubolon
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Partuturan: Panduan Sapaan Kekerabatan Batak Toba yang Perlu Kamu Tahu, biar Tahunya Nggak Lae doang!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 November 2024 oleh

Tags: batakMargaperantauansolidaritas
Ricky Bryan DP Tampubolon

Ricky Bryan DP Tampubolon

Dosen.

ArtikelTerkait

Membantah Tulisan tentang Hal yang Bisa Bikin Usaha Warung Kelontong Bangkrut terminal mojok.co

Perbedaan Mencolok Warung Kelontong Milik Orang Madura dan Batak

19 Desember 2020
Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas Mojok.co

Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas

13 Desember 2025
Olahan Kecombrang Tidak Cocok untuk Semua Orang, di Lidah Saya Rasanya Aneh Mojok.co

Olahan Kecombrang Tidak Cocok untuk Semua Orang, di Lidah Saya Rasanya Aneh

25 Oktober 2025
3 Rahasia Orang Madura Sukses di Perantauan

3 Rahasia Orang Madura Sukses di Perantauan

26 Februari 2023
lapo tuak MOJOK.CO

Lapo Tuak, Pusat Sosialisasi dan Sasana Kecil Orang Batak Melatih Lidah untuk Berdebat

13 Juli 2020
Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi

Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi

18 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

Pejaten Park: Mall yang Kurang Dilirik Anak Jaksel, padahal Paling Nyaman

30 Juni 2026
4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci Mojok.co

Warung Madura Contoh Ideal Menjalankan Toko: Kejujuran, Barang Lengkap, dan Layanan Sat-Set Adalah Kunci

27 Juni 2026
Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah di Luar Kota Demi Kejar Gengsi Mojok.co

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

27 Juni 2026
Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini  Terminal

Ada yang Salah, Periksa ke Dokter Gigi Masih Dianggap Kemewahan di Negara Ini 

29 Juni 2026
Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.