Meski Ramadan masih begitu awal berjalan, suasana mudik kecil-kecilan sudah mulai terasa. Itulah yang juga dirasakan Mbak Nia, yang memutuskan pulang ke Pati untuk menjalani awal puasa bersama orang tuanya. Perjalanan dari Semarang menuju Pati ditempuh lewat jalur utama Jalan Pantura, jalur yang selama ini dikenal sebagai urat nadi transportasi pesisir utara Jawa.
Namun di tengah perjalanan, ada hal yang membuatnya heran sekaligus mengeluh. Bukan soal macet atau cuaca, melainkan kondisi jalan yang berbeda mencolok antara satu wilayah dan wilayah lainnya.
Saat melintasi wilayah Kudus, Mbak Nia mengaku cukup nyaman. Sebagian ruas jalan, baik jalur kota maupun jalan nasional Pantura, tampak sudah mulus dengan lapisan aspal baru. Permukaannya rata, kendaraan bisa melaju stabil, dan tidak terasa banyak guncangan. Marka jalan pun terlihat jelas. “Enak banget lewat sini, mobil nggak terlalu goyang,” katanya.
Namun kondisi itu berubah ketika ia memasuki wilayah Demak. Ruas jalan Pantura Semarang–Demak di beberapa titik justru tidak rata dan dipenuhi lubang. Ada bagian yang bergelombang, ada pula yang tambalannya tidak merata. Mbak Nia harus mengurangi kecepatan karena khawatir ban mobilnya menghantam lubang yang cukup dalam.
Siapa yang bertanggung jawab?
Yang paling membuatnya terkejut adalah kondisi jalan di kawasan Bintoro, salah satu ruas penting di wilayah Kota Demak. Di sana, kerusakan terlihat cukup parah. Lubang-lubang menganga di sejumlah titik, dan ketika hujan turun, genangan air membuat lubang itu sulit terlihat. Situasi ini jelas berpotensi membahayakan pengendara, terutama sepeda motor yang lebih rentan oleng.
“Heran aja, kok bisa beda banget kondisinya. Padahal sama-sama Pantura,” ujarnya.
Perbedaan yang menonjol antara wilayah Kudus dan Demak ini menimbulkan pertanyaan besar siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas perawatan jalan tersebut?
Baca halaman selanjutnya
Bukan soal siapa yang berwenang



















