Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
21 Februari 2021
A A
Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Menjadi dekorator pernikahan membuat saya menyadari banyak hal, salah satunya bahwa hajatan pernikahan itu cuma terdiri dari kebahagiaan, makan, gengsi, dan duit. Gengsi itulah yang sering kali saya manfaatkan untuk mencari untung dari klien. Apa artinya tukang dekor tanpa gengsi mempelai dan keluarga? Berbagai medan sudah pernah saya tapaki. Mulai dari desa, kota, gedung, hotel, hutan, sampai beragam tempat ibadah.

Tapi, dari semuanya, hajatan kampung dan gedung punya tempat tersendiri dalam hati dan jiwa saya. Perbedaan yang sangat jomplang sering saya rasakan. Mari melihat perbedaan dua jenis hajatan ini, tentu saja lewat kacamata seorang dekorator yang belum pernah didekor ini.

Pertama, tentu saja suasana dan tempat yang jelas berbeda. Di kampung, jarang dapat tempat yang luas. Apalagi perumahan pinggiran kota, buat jalan mobil saja nggak ada. Berbeda dengan gedung, baik hall hotel ataupun gedung yang memang biasa disewa. Gedung olahraga kelurahan sepertinya termasuk dalam hajatan kampung karena memang masih di wilayah perkampungan.

Di kampung, jalan raya sering ditutup saat ada hajatan. Tatapan tajam dan sengit sering saya terima. Apalagi pas acara selesai, jika tak segera dibongkar, saya bisa dihujat oleh banyak orang. Tak jarang, saya yang sering kena semprot, bukan malah yang punya hajat. Sementara di gedung besar, semua sudah ada jadwalnya, jadi semua harus tepat waktu. Datang jam segini, selesai kerja harus jam segini, terus nanti bongkar dekorasi jam segini. Karena itulah butuh banyak pekerja saat kerja di gedung, sehingga biaya lebih tinggi.

Kedua, rintangan dan hambatan. Di gedung atau hotel, kami bisa bekerja dengan lebih cepat dan fokus. Tentu karena minim gangguan. Di kampung, banyak bolang dan peserta ninja warrior junior. Tiba-tiba ada anak kecil yang lagi manjat gebyok atau scaffolding. Ada juga bolang yang naik ke panggung, sudah diminta turun tetap ngeyel. Sampai ada emak-emak atau mbah-mbah yang bawa anak-anak kecil naik ke panggung. Mau ditegur kok orang tua, nggak ditegur kok tempat kerja makin sempit. Apalagi nanti kalau kena paku, staples atau ketiban gebyok, kan bahaya! Sempat saya temui anak kecil yang tersetrum karena mainan kabel, tentu saja saya yang kena omel emaknya.

Di kampung, tukang jualan banyak banget yang ngumpul, meski acara resepsi belum dimulai. Mulai dari tukang mainan, bakso, cilok, balon, sampai pedagang cupang pun ada. Jalan yang sempit jadi tambah sempit. Mana mereka solid banget, mau minta tolong untuk geser, takut dikeroyok. Tapi nggak apa-apa, sama-sama cari uang nggak boleh saling tendang.

Belum lagi bunga yang tiba-tiba raib. Alat saya juga punya nasib sama. Gunting, staples, cutter, selotip, kabel, lampu, tanaman hias adalah properti dan alat dekor yang sering dipinjam namun nggak dikembalikan. Biasanya ibu-ibu yang pinjam buat bungkus makanan. Atau saat selesai acara, tiba-tiba hilang. Seperti tanaman beserta potnya, mungkin mereka pikir tanaman itu cuma sekali pakai. Lampu dan kabel juga begitu, mungkin di rumahnya ada lampu yang sedang rusak jadi main ambil saja dari tempat hajatan, sering saya ikhlaskan. Untung saya saleh, jadi cuma istighfar saja. Tapi, di gedung pun kadang ada gangguan dari pemegang wilayah. Mari sebut mereka preman. Biasanya sudah minta jatah dari WO, tapi tetap minta juga dari kami. Yah, kasih saja, yang penting kerjaan lancar.

Ketiga, hal yang paling terasa bedanya adalah servis alias surungan. Di kampung-kampung, terutama daerah saya, para tukang dekor diberi servis yang luar biasa. Minuman dan snack sudah pasti ada, rokok sering kali ada. Belum lagi makan siang, jadinya saya lebih irit. Kalau di gedung, semua itu saya beli sendiri. Meski yang namanya rokok sudah pasti saya beli sendiri walau di kampung, sudah budaya dari sononya. Pekerja punya selera rokok sendiri-sendiri, dan saya harus tahu meski bukan perokok. Kadang, saat malam hari, ciu dan anggur juga sering ditawarkan ke kami. Namun, lagi-lagi kesalehan dan keimanan saya tak bisa ditembus oleh minuman seperti itu.

Baca Juga:

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Seni Bertahan Hidup di Musim Kondangan: Panduan Strategis agar Dompet Tak Sekarat dan Berakhir Melarat

Keuntungan lain kerja di kampung adalah irit tenaga. Sudah dipastikan, para panitia sigap membantu angkat barang. Begitu juga saat bongkaran, sudah pasti ada yang membantu. Di gedung atau hotel, semua harus berdikari, sehingga wajib menambah tenaga kerja. Walau kadang sudah ada lift barang, tetap saja semua harus dipanggul sendiri.

Kerja di mana pun, ada risiko dan kesulitan masing-masing. Semua ada keunggulan dan kekurangan, tak bermaksud merendahkan, hanya berbagi pengalaman.

Kerja di tempat mewah dan bergengsi banyak asyiknya, terutama efisiensi waktu. Namun, di perkampungan juga sangat menyenangkan. Banyak teman ngobrol, bisa kerja dengan santai, tak beda jauh dengan nongkrong. Apalagi melihat para bocah yang bahagia, tertawa dan berlarian, seperti sedang di wahana permainan, hiiih, slengkat gundulmu! Eh, nggak, ding~

BACA JUGA Jenis-jenis Pertanyaan Menyebalkan yang Sering Ditujukan ke Dekorator Pernikahan dan tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2021 oleh

Tags: dekorasiHajatan
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan Terminal Mojok

3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan

27 Juli 2022
3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

3 Hal Sederhana yang Dilakukan Tamu Undangan, tapi Bikin Sinoman Marah

28 November 2023
Hal yang Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya terminal mojok

Hal-hal Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya

1 Juni 2021
Ungkapan Kekesalan untuk yang Menggelar Hajatan On the Road

Ungkapan Kekesalan untuk Mereka yang Gelar Hajatan On the Road

23 Februari 2020
Undang DJ Saat Hajatan di Sumatera Selatan: Keluarga Dapat Nama, Tetangga Dapat Getahnya

Undang DJ Saat Hajatan di Sumatera Selatan: Keluarga Dapat Nama, Tetangga Dapat Getahnya

22 April 2024
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co

Malang Bukan Lagi Kota yang Dingin dan Asri, Kini Ia Menjelma Jadi Kota Panas dan Tak Menyenangkan

10 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
4 Cara Menikmati Wisata Semarang Secara Gratis (Unsplash)

Panduan Wisata Gratis di Semarang: 4 Cara Menikmati Kota Atlas Tanpa Perlu Pusing Mikir Tagihan

8 Juni 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang Mojok,co

Derita Jadi WNI: Pelayanan Publik Tutup di Akhir Pekan, Saat Kebanyakan Warga Baru Punya Waktu Luang

5 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.