Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Penyandang Disabilitas dan Stigma Salah yang Menghantuinya

Indah Evania Putri oleh Indah Evania Putri
2 Desember 2019
A A
Penyadang Disabilitas dan Stigma Salah yang Menghantuinya
Share on FacebookShare on Twitter

Dalam rangka memperingati Hari Disablitas Internasional tahun ini, sudah sepatutnya kesetaraan dan keadilan hak-hak para penyandang disabilitas digalakkan. Di Indonesia, sebenarnya penyandang disabilitas juga sudah dilindungi dan dijamin keselamatan dan haknya. Tapi, anehnya malah dilanggar sendiri sama yang membuat regulasi itu.

Masih ingatlah kalian dengan peristiwa dibukanya lowongan CPNS bagi para difabel? Lowongan yang baru dibuka tahun ini itu mungkin dianggap sebagai gerbang menuju keadilan yang lebih baik bagi para penyandang disabilitas. Tapi, bukannya memeratakan keadilan, justru kebijakan baru itu malah memperparah diskriminasi dan memperkuat stigma salah yang sudah merajalela tentang penyandang disabilitas di Indonesia. Hadeh, ada-ada saja~

Di lowongan CPNS itu, ada beberapa daerah yang memberikan syarat yang sangat lucu alias rumit. Saya kadang mikir, ini mau mempermudah apa mempersulit, sih?  Bayangkan saja, jenis difabel kan beragam, masa iya syaratnya harus bisa mendengar dan melihat? Bahkan di beberapa daerah juga ada yang mensyaratkan pelamarnya harus bisa berjalan menggunakan alat bantu jalan selain kursi roda. Dengan kata lain, kalau kamu pakai kursi roda, nggak bisa melamar CPNS.

Tentunya syarat seperti itu sangat tidak adil dan malah mendiskriminasi para penyandang disabilitas. Jelas-jelas tujuan dibukanya lowongan itu untuk menghapuskan diskriminasi dan mengindahkan UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Tapi kalau syaratnya saja seperti itu, pastinya tidak semua jenis difabel bisa mengikutinya. Dengan kata lain, dengan adanya syarat itu berarti hanya difabel fisik saja yang boleh melamar menjadi CPNS.

Padahal, dalam pasal 11 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 telah dijelaskan bahwa “Pemerintah memberikan jaminan bagi difabel untuk memperoleh pekerjaan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemda, atau pihak swasta tanpa diskriminasi”. Tapi kok peraturan itu malah dilanggar sendiri dengan dalih “fasilitas pemerintah untuk menyokong para difabel di luar syarat belum memadai” sih?  Bukankah seharusnya kebijakan itu harus disertai dengan kesiapan yang matang terlebih dahulu?

Lagipula, dengan adanya hal itu, sama saja semakin memperkuat stigma salah di masyarakat bahwa penyandang disabilitas itu “lemah” dan “tidak bisa melakukan hal yang setara dengan orang ‘normal’“. Saya heran mengapa stigma itu masih banyak berkembang di masyarakat Indonesia yang katanya sudah open-minded. Padahal, di luar negeri saja penyandang disabilitas tidak lagi dianggap sebagai beban. Mereka bisa melakukan segala hal secara mendiri tanpa harus selalu bergantung pada orang lain.

Selain itu, stigma yang sangat merugikan para penyandang disabilitas di dunia kerja juga banyak terjadi dalam banyak kasus di Indonesia. Kalau pemerintah mengingkari sendiri regulasi yang mereka buat, perusahaan swasta bisa lebih tega lagi. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya kasus penolakan karyawan difabel dalam berbagai perusahaan swasta. Alasan klasiknya masih sama, yaitu nggak punya fasilitas yang memadai.

Di dunia pendidikan pun nggak beda jauh. Hanya karena seseorang adalah penyandang disabilitas, maka ia lebih mungkin direkomendasikan masuk ke sekolah berkebutuhan khusus—yang lagi-lagi—punya fasilitas lengkap. Padahal, menyandang disabilitas bukan berarti ia harus dicap berbeda, didiskiriminasi, dan dianggap takkan bisa bersaing dengan “orang normal”.  Duh, kalau orang Indonesia pikirannya masih pada kayak gini, kapan majunya, ya?

Baca Juga:

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfamart, Ritel Terbaik yang Buka Kesempatan Karier bagi Penyandang Disabilitas Saat Loker Lain Mewajibkan Berpenampilan Menarik

Tapi, kayaknya stigma yang melekat pada para penyandang di Indonesia masih sangat kuat. Penyandang disabilitas masih dianggap sebagai individu yang selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain. Lebih parahnya lagi, oleh para kaum hipokrit di luar sana, difabel seringkali dijadikan sebagai objek simpatik yang harus dikasihani dan dibela mati-matian hak dan keadilannya. Namun, di lain sisi juga masih dianggap sebagai pribadi submisif yang perannya tidak lebih dominan dari orang “normal”.

Diskriminasi itu juga didapatkan penyandang disabilitas mental. Tidak jarang banyak yang menganggap difabel mental sebagai orang yang “tidak mampu melakukan apa pun” atau “berbahaya”. Mereka pun seringkali dimarjinalkan oleh stigma buruk tersebut. Akan tetapi, tentunya stigma itu nggak benar. Buktinya, sudah banyak teman-teman difabel mental yang terbukti sukses melakukan berbagai hal, termasuk sukses dalam kariernya. Beberapa dari mereka pun sering kali diidentikkan dengan kata genius, mungkin lebih genius dari kamu~

Pernah nggak sih, kalian mendengar stigma bahwa difabel itu hanya menjadi “beban” saja? Kalau ada yang bilang hal itu, sini tak cubit. Menjadi difabel bukanlah sebuah pilihan. Bukan kutukan, bukan kekurangan, bukan juga beban. Siapa bilang difabel itu harus selalu bergantung pada orang lain untuk menyokong kehidupannya? Kalau kalian masih melihat banyak yang seperti itu, mungkin itu cuma karena tampak luarnya saja, atau karena trotoar, atau sarana khusus difabel di Indonesia masih sangat minim hehehe~

Lagipula, terbukti sudah sangat banyak teman-teman difabel yang sukses bahkan mungkin lebih sukses dari kamu. Kalau di luar negeri, yang paling mahsyur adalah Stephen Hawking yang suskes dengan teori black hole nya. Kalau di Indonesia, berapa di antaranya ialah Habibie Afsyah yang sukses dalam bisinis jual beli internasional atau Suparni Yati, atlet Tolak Peluru yang berhasil menyumbang Emas bagi Indonesia pada piala Asian Games 2018.

Akan tetapi, mau sebanyak apa pembuktian kesuksesan itu, stigma yang salah di Indonesia itu akan tetap ada selama struktur sosial kita belum berubah. Saya pikir, selama kita belum dilatih dan diajarkan berempati dan menganggap semua orang setara, stigma buruk yang salah itu akan tetap ada. Lagipula, Tuhan saja menganggap semua manusia setara, masa kamu yang butiran debu nggak?

BACA JUGA Modifikasi Motor Honda Astrea Prima untuk Difabel atau tulisan Indah Evania Putri lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Desember 2019 oleh

Tags: disabilitaslowongan CPNSstigma di masyarakat
Indah Evania Putri

Indah Evania Putri

ArtikelTerkait

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

30 Oktober 2024
Alfamart, Ritel Terbaik yang Buka Kesempatan Karier bagi Penyandang Disabilitas Saat Loker Lain Mewajibkan Berpenampilan Menarik

Alfamart, Ritel Terbaik yang Buka Kesempatan Karier bagi Penyandang Disabilitas Saat Loker Lain Mewajibkan Berpenampilan Menarik

12 Juli 2024
Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia terminal mojok

Perempuan yang Nggak Pakai Emas-emasan di Kampung Saya Sering Dianggap Hidupnya Susah dan Nggak Bahagia

19 Juli 2021
prestasi disabilitas etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas orang difabel mojok.co

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas: Menghargai, Bukan Mengasihani

15 Juli 2020
UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

14 Oktober 2023
ibu hamil mitos seputar kehamilan di masyarakat jawa mojok.co

Perjuangan Ibu Hamil Di KRL

16 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

Ponorogo Cuma Reognya Aja yang Terkenal, Kotanya sih Nggak Terkenal Sama Sekali

2 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja Mojok.co

8 Kasta Saus Indomaret dari yang Pedas hingga yang Biasa Aja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.