Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Etika Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas: Menghargai, Bukan Mengasihani

Firda Alfiani oleh Firda Alfiani
15 Juli 2020
A A
prestasi disabilitas etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas orang difabel mojok.co

etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas orang difabel mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Saya masih ingat momen pertemuan saya dengannya, seorang mahasiswa baru penyandang disabilitas. Ia tengah duduk di atas kursi roda. Di sebelahnya, ada teman disabilitas sensorik netra (tidak bisa melihat) yang duduk di lantai tanpa menggunakan alas. Mereka mengamati dan mendengar materi ospek tepat di pojok belakang gedung pusat kegiatan mahasiswa.

Saya menghampirinya dan menawari pindah ke tempat yang lebih nyaman. Kebetulan saat itu saya tengah menjalankan tugas sebagai panitia PK2MABA Universitas Brawijaya (ospek universitas) 2012. Tapi, mereka berdua menolak dan memilih tetap memperhatikan materi ospek dari kejauhan.

“Sudah enak di sini, Mbak,” kata mereka.

Saya merasa bersalah karena panitia tidak bisa mempersiapkan tempat dan lokasi yang accessible bagi teman-teman penyandang disabilitas. Hal pertama yang muncul di benak saya adalah rasa iba, yang dikemudian hari saya baru menyadari sikap seperti itu keliru.

Kalau mendengar istilah difabel dan disabilitas, biasanya orang akan membayangkan seseorang dengan ketidaksempurnaan fisik (cacat) dan patut menerima belas kasihan. Tragedi tentang disabilitas juga sering diberitakan secara berlebihan (supercrip) sebagai objek inspirasi. Penyandang disabilitas dianggap sebagai individu yang tidak produktif, tidak mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehingga hak-haknya pun diabaikan.

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita bersikap dan berinteraksi dengan penyandang disabilitas?

Pertama, mulailah untuk menghindari pelabelan cacat dan stereotifikasi ketidakmampuan. Saat kita bertemu dengan teman-teman disabilitas di tempat umum, kamu bisa menghargai mereka dengan cara bertanya apakah mereka membutuhkan bantuan atau tidak. Jika mereka menolak, tidak perlu memaksa. Sementara itu, saat berbicara dengan pengguna kursi roda, posisi mata kita harus sejajar dengan mata pengguna kursi roda. Lalu, jangan pernah menggunakan jalur mobilitas mereka. Pelanggaran-pelanggaran tersebut masih banyak ditemui di fasilitas publik dan di lingkungan pendidikan.

Kepada penyandang disabilitas sensorik netra, lakukan salam sapa. Saat menuntun, tanyakan apakah dia merasa lebih nyaman untuk berjalan di sebelah kanan atau kiri kita dengan posisi tangan memegang pundak (umumnya). Juga jangan lupa memberikan instruksi yang jelas di setiap langkahnya. Misalnya, jika ada gundukan atau jalan licin dan lain-lain.

Baca Juga:

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfamart, Ritel Terbaik yang Buka Kesempatan Karier bagi Penyandang Disabilitas Saat Loker Lain Mewajibkan Berpenampilan Menarik

Dalam berkomunikasi, penyandang disabilitas netra biasanya mengoptimalkan indra pendengaran, perabaan, dan penciuman. Saat menjadi sukarelawan pendamping mahasiswa difabel di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya, saya pernah mendapat protes bernada candaan dari salah satu teman penyandang sensorik netra karena dia merasa pusing melihat saya. Tiba-tiba dia nyeletuk.

“Kamu pakai baju garis-garis ya?” Nah, dari sini saya banyak belajar bahwa memahami teman-teman disabilitas pun butuh proses beradaptasi dengan gangguan sensorik netra dalam level-level berbeda. Jadi, tidak sepenuhnya semua penyandang disabilitas sensorik netra tidak bisa melihat sama sekali. Sebab, jenis penyandang disabilitas bermacam-macam, jadi etika kita untuk berinteraksi dengan mereka pun disesuaikan dengan keterbatasan mereka.

Kembali lagi ke persoalan stigma dan diskriminasi yang dialami panyandang disabilitas. Dominasi cara pandang medis (medical model) di masyarakat menggambarkan bahwa disabilitas sebagai bencana bagi orang yang mengalaminya. Pendekatan tersebut hanya berfokus antara hubungan disfungsi tubuh atau mental dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, berinteraksi, dan berpartisipasi secara sosial.

Dalam tulisan Ishak Salim, Ketua PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan), ia menggambarkan pandangan intelektual Mansour Fakih tentang hegemoni medis dan pendekatan mainstream yang kurang tepat kepada orang disabilitas. Mansour Fakih, orang yang memperkenalkan istilah difabel pertama kali di Indonesia, melalui diskusi intensif dengan para aktivis penyandang disabilitas mengkritik model penyelesaian problematisasi difabel yang dilakukan oleh para ahli dan pemerintah.

Sebab, mereka hanya berupaya melakukan pengentasan kemiskinan dengan menyalahkan orang difabel sebagai individu yang lemah. Dalam kasus lain, Vernor Munoz, salah satu pelapor untuk PBB, pernah menuliskan laporan bahwa pemerintah Indonesia kurang mempunyai kemampuan politik untuk mencapai tujuan universal pendidikan inklusif.

Gagalnya aparatus negara dalam mengatasi stigma dan diskriminasi penyandang disabilitas menandakan bahwa negara tidak bisa selamanya melakukan penyelesaian melalui pendekatan-pendekatan mainstream. Melalui jalur aktivisme, kita bisa duduk berdampingan dengan penyandang disabilitas untuk berdiskusi, meneliti, dan mengkaji tanpa memandang mana yang lebih tinggi atau rendah karena prinsipnya semua orang setara.

Sebagai kisah penutup, pernah suatu ketika saat mengikuti workshop Kelas Volunteer Difabel Jombang. Salah satu pemateri bernama Alfian yang penyandang disabilitas netra bercerita tentang pengalaman tidak mengenakkannya. Saat itu ia sedang dalam perjalanan pulang ospek menggunakan tongkatnya dan masih mengenakan almamater kampusnya. Tiba-tiba sembari menunggu jemputan, ada seseorang yang memberinya uang dua ribu rupiah. “Dikira saya pengemis kali ya,” katanya sambil terbahak.

BACA JUGA Penyandang Disabilitas dan Stigma Salah yang Menghantuinya dan tulisan Firda Alfiani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Desember 2021 oleh

Tags: disabilitasEtika
Firda Alfiani

Firda Alfiani

Hobi lari pagi.

ArtikelTerkait

Perihal Dangdut Koplo Cover Lagu Orang: Apa Saja Batasannya dan Bagaimana Etikanya?

Perihal Dangdut Koplo Cover Lagu: Apa Saja Batasannya dan Bagaimana Etikanya?

25 Januari 2023
UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

UNESA Belum Pantas Jadi Kampus Ramah Disabilitas kalau Ruang Kelas dan Toilet Mahasiswa Masih di Lantai Dua, Nggak Pakai Lift pula

14 Oktober 2023
Penyadang Disabilitas dan Stigma Salah yang Menghantuinya

Penyandang Disabilitas dan Stigma Salah yang Menghantuinya

2 Desember 2019
cari muka di dunia kerja Kena Tipu Interview Kerja Bikin Saya Menyadari Tak Ada yang Abadi di Dunia Ini Terminal mojok

Cari Muka Adalah Persoalan yang Menyebalkan Sekaligus Rumit di Dunia Kerja

14 Mei 2021
Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

Alfability Alfamart Jadi Jembatan Meraih Mimpi bagi Karyawan Disabilitas untuk Berkarya

30 Oktober 2024
etika berkomentar

Milenials, Jangan Sampai Kita menjadi Generasi yang Krisis Etika Berkomentar

17 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah S2 Itu Wajib Caper kalau Tidak, Kalian Cuma Buang-buang Uang dan Melewatkan Banyak Kesempatan Mojok.co

Kuliah S2 Itu Ternyata Mahal: SPP-nya Bisa Jadi Murah, tapi Akan Ada Biaya Tambahan yang Menghantam!

23 April 2026
10 Pantai yang Bikin Kebumen Nggak Pantas Menyandang Status Kabupaten Termiskin, Cocoknya Jadi Kabupaten Wisata Mojok.co

Kebumen: Banyak Pantainya, tapi Belum Jadi Primadona Wisata Layaknya Yogyakarta

21 April 2026
Purwokerto Dipertimbangkan Orang Kota untuk Slow Living, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru Mojok.co

Purwokerto Jadi Tempat Slow Living Orang Kota, Warlok: Bisa Jadi Masalah Baru

22 April 2026
UIN Malang dan UIN Jogja, Saudara yang Perbedaannya Kelewat Kentara

Biaya Hidup Murah, Denah Kampus Mudah Adalah Alasan Saya Masuk UIN Malang

19 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Derita Orang Pasar Rebo, Jauh dari Jakarta Bagian Mana pun, Malah Lebih Dekat ke Depok!

22 April 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama
  • Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
  • Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa
  • 4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.