Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Penghapusan Jumlah Like di Instagram dan Kebiasaan Pamer Kehidupan

Risty Khoirunisa oleh Risty Khoirunisa
15 November 2019
A A
influencer beli followers instagram, Tren Instagram Stories Terbaru Bikin Banyak Orang Gede Rasa! Penghapusan Jumlah Like di Instagram dan Kebiasaan Pamer Kehidupan
Share on FacebookShare on Twitter

Rasa-rasanya sekarang harga sebuah eksistensi amatlah mudah didapatkan melalui media sosial. Lebih-lebih rasanya privasi sudah tak dianggap berharga lagi. Semua diumbar begitu saja di media sosial, atas nama memotivasi, menginspirasi atau membagikan kebahagiaan, katanya.

Padahal nyatanya sebagian besarnya adalah untuk mencari popularitas, mencari eksistensi. Melihat jumlah likes, jumlah komentar, atau jumlah viewer menjadi hal yang sudah cukup membahagiakan bagi para pencari eksistensi ini. Bagi mereka, privasi sudah tidak penting. Yang penting adalah perhatian dari para pengguna media sosial, tombol suka, dan kolom komentar. Itulah yang mereka biasa periksa setiap saat.

Pencapaian menjadi bukan sekadar tujuan pemenuhan diri lagi, travelling menjadi tidak bermakna lagi. Karena tujuannya sudah berubah, mencari pengakuan, mencari pujian. Berpergian bukan lagi menjadi suatu kebutuhan rekreasi. Di mana pun, kapan pun, update kudu wajib harus dilaksanakan, demi para follower katanya. Yang tentu saja tak seberapa dibandingkan milik para selebgram.

Heran, apa sih yang dicari dari banyaknya tombol suka dan komentar itu? Oke lah kalau memang menghasilkan uang atau memang sedang membangun fanbase seperti para penulis atau artis. Walaupun hal tersebut juga bisa menjadi sebuah boomerang. Banyak artis yang akhirnya terlibat skandal karena postingan-postingannya di media sosial. Banyak yang akhirnya kariernya hancur juga karena sosial media. Walaupun banyak juga yang melonjak karenanya.

Apa tidak lelah update kehidupan di media sosial, di hadapan banyak orang yang tidak terlalu mengenal kita, demi sebuah eksistensi? Apa pentingnya diakui dan diperhatikan dengan cara seperti itu? Apa arti sebuah eksistensi jika itu harus mengganggu ketenangan jiwa dengan selalu masuk ke media sosial dan membagikan momen instead of enjoying and recording it in our memories? Kenapa rasa-rasanya kita jadi lebih memilih hidup di media sosial, dunia maya, ketimbang merasakan dan lebih menikmati hidup di dunia nyata?

Itulah kenapa saat Instagram mem-publish tentang rencana penghapusan jumlah like di Instagram, saya cukup senang. Uji coba sudah mulai dilakukan dengan beberapa akun, di mana mereka tidak bisa melihat jumlah suka orang lain, hanya ada nama akun seseorang, dan lainnya. Akan tetapi, mereka masih bisa melihat jumlah suka pada akunnya sendiri.

Ini mungkin akan cukup memberikan efek pada influencer atau selebgram. Sebab, bagi mereka informasi jumlah like di Instagram ini adalah cara mereka menjual diri di media sosialnya. Cara mereka untuk mengukur popularitas dan menggaet partner untuk diajak kerjasama atau dalam istilah yang biasa kita kenal adalah endorse.

Mereka mungkin saja akan kehilangan nilai jual jika Instagram memverifikasi fitur baru ini. Namun, bagi khalayak umum seperti saya, masyarakat biasa yang menggunakan Instagram untuk tetap terkoneksi dengan orang lain dan menyimpan momen-momen yang istimewa seperti pernikahan atau wisuda. Penghapusan jumlah likes akan cukup membantu diri untuk mengerem keinginan posting sesuatu setiap kalinya juga membantu hilangnya benih-benih kesombongan yang bisa saja muncul dari keinginan awal untuk berbagi.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Lagi-lagi seperti layaknya dua mata pisau, satu tumpul dan aman, satunya tajam nan membahayakan. Seperti itulah media sosial. Salah-salah memakainya bisa hancur kita nantinya. Update semua hal dengan tujuan sharing tapi nyatanya hanya ingin, pamer. Banyak yang akhirnya terluka hatinya karena merasa hidupnya begitu tidak berharga dibandingkan teman-temannya. Karena itu hilangnya jumlah likes di media teman-teman yang kita ikuti dapat membantu mengurangi trigger gangguan mental yang timbul akibat peer pressure, seperti stres, depresi, dan penyakit mental lainnya.

Mungkin hal ini juga mampu mengurangi porsi penggunaan media sosial bagi orang-orang yang sudah teradiksi dalam menggunakannya. Menjadikan mereka tidak melulu mengecek jumlah like di Instagram dan membandingkannya dengan teman mereka yang lain. Mungkin juga mampu menghilangkan sedikit insekuritas yang timbul akibat terus membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang tampaknya lebih baik. Karena begitulah manusia, pasti akan cenderung ingin membagikan momen-momen yang mereka rasa menyenangkan dan membahagiakan. Lagipula siapa pula yang ingin melihat drama dan kesedihan di media sosial. Sudah cukup muak dengan drama di kehidupan nyata masak harus dihadapkan pula dengan drama di kehidupan online?

Banyak orang yang mem-posting dengan alasan ingin berbagi, sharing is caring, they said. Padahal sesungguhnya mereka hanya berlindung di balik kata berbagi. Sebab nyatanya, Instagram memang dibuat untuk pamer. Begitulah media sosial. Entah pamer kebahagiaan, kebijaksanaan, kesulitan hidup, pertemanan, popularitas, tapi ya satu intinya showing off. Pamer.

Pamer yang kemudian membuat mereka akan tetap rutin mengecek jumlah suka dan banyaknya komentar pada postingannya. Mungkin penghapusan jumlah like di Instagram pada postingan akan berdampak pada mereka, yang mencari pengakuan diri berdasarkan jumlah suka dan komentar pada setiap postingannya.

BACA JUGA Percuma Instagram Berinovasi, Nggak Ngaruh Tuh Sama Kecemasan Saya atau tulisan Risty Khoirunisa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 November 2019 oleh

Tags: eksistensilike InstagramMedia Sosialpamer
Risty Khoirunisa

Risty Khoirunisa

ArtikelTerkait

Kasus Brigadir J: Ditertawakan Rakyat, Makin Menjatuhkan Martabat Polisi

Kasus Brigadir J: Ditertawakan Rakyat, Makin Menjatuhkan Martabat Polisi

10 Agustus 2022
Grup FB: Alasan Terberat untuk Meninggalkan Facebook

Grup FB: Alasan Terberat untuk Meninggalkan Facebook

8 April 2023
Cara Memilih Medsos buat Olshop yang Pengin Ngadain Giveaway giveaway menang cara tips Pengalaman Menang Giveaway dan Tips untuk Memenangkannya

Pengalaman Menang Giveaway dan Tips untuk Memenangkannya

16 Januari 2020
menegur

Antara Merekam dan Menegur: Kamu Tim yang Mana?

10 September 2019
Enggak Apa-apa kalau Ketinggalan Pencapaian, Wong Nggak Lagi Balapan terminal mojok.co

Nggak Apa-apa kalau Ketinggalan Pencapaian, Wong Nggak Lagi Balapan

28 Agustus 2020
Gereja Adalah Tempat Nongkrong Wanita Sosialita pada Masa VOC terminal mojok.co

5 Cara yang Membuatmu Kelihatan Kaya di Mata Orang Indonesia

22 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Polban, "Adik Kandung" ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

Polban, “Adik Kandung” ITB Tempat Mahasiswa Jenius tapi Kurang Hoki

18 Januari 2026
Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama publikasi jurnal

Publikasi Jurnal Kadang Jadi Perbudakan Gaya Baru: Mahasiswa yang Nulis, tapi Dosen yang Dapat Nama, Logikanya di Mana?

19 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

Nestapa MUA Spesialis Wisuda: Berangkat Subuh demi Menutup Mata Panda, Pulang Kena Tawar Harga yang Nggak Ngotak

16 Januari 2026
Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

Belanja Furnitur Mending di IKEA Atau Informa? Ini Dia Jawabannya

18 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.