Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan 

Supriyadi oleh Supriyadi
19 Januari 2026
A A
Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan  Mojok.co

Pengendara Jogja Jarang Klakson Bukan Berarti Mereka Beradab di Jalan dan Layak Jadi Teladan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kebiasaan pengendara Jogja yang jarang membunyikan klakson menuai pujian dari banyak orang. Terutama pendatang yang baru pertama kali berkendara di Kota Pelajar ini. Pengendara Jogja jadi lekat dengan citra santun dan tertib. Sebab, tanpa membunyikan klakson pun lalu lintas bisa berjalan lancar. 

Kondisi ini sungguh berbeda dengan jalanan di kota-kota besar, sebut saja Jakarta. Di sana bunyi klakson kendaraan begitu mudah terdengar. Sementara lalu lintas atau jalannya tetap saja semrawut. 

Perbandingan dan narasi tersebut terus diulang-ulang. Jalanan Jogja kerap jadi panutan, jadi percontohan. Seolah-olah, kalau sudah berkendara di Jogja, kita otomatis naik tingkat sebagai  manusia lalu lintas yang beretika. 

Padahal, kalau mau mengulik lebih jauh, lalu lintas Jogja tidak seindah itu. Jarang membunyikan klakson bukan berarti pengendara santun dan taat aturan saat berkendara. Semakin sering “mengaspal” di jalanan Jogja, saya kian menyadari kalau ada banyak kelakuan kecil yang tidak berisik, tapi cukup bikin jengkel. Dan, karena tidak berisik, ia sering luput dari kritik.

#1 Merokok dengan santai di jalanan Jogja seolah-olah mereka sedang piknik

Di Jogja, ada pengendara yang bisa mengendarai motor sambil merokok dengan ekspresi damai. Satu tangan di setang, satu tangan memegang rokok. Abu beterbangan, asap ke mana-mana, dan pengendara di belakang tinggal pasrah menerima residu kebebasan orang lain. Tidak ada klakson. Tidak ada konflik. Tapi, ada paru-paru orang lain yang dijadikan asbak berjalan.

Ketika teguran dilayangkan, biasanya mereka mengelak atau tidak terima. Pernah saya dengar yang ditegur malah menyahut, “Lha po helemmu ora mbok tutup?” yang kurang lebih berarti “Kenapa helmmu tidak kamu tutup?” Begitu katanya tanpa merasa berdosa.

#2 Persoalan rambu-rambu “kiri jalan terus”

Ada persimpangan yang jelas-jelas tidak memiliki plang rambu “kiri jalan terus”. Artinya, lampu rambu lalu lintas masih menyalakan warna merah dan pengendara wajib berhenti karenanya. Tapi, entah kenapa, banyak pengendara yang tetap belok kiri dengan keyakinan penuh. Seolah-olah aturan lalu lintas tersebut bekerja berdasarkan intuisi dan perasaan.

Tapi, ironisnya, di persimpangan dengan lampu merah dan jelas ada plang bertuliskan “Kiri Jalan Terus”, jalur paling kiri yang seharusnya menjadi jalur aman bagi pengendara yang ingin belok kiri, malah justru sering dipenuhi pengendara yang ingin lurus atau bahkan berhenti menunggu lampu hijau. Akibatnya, pengendara yang benar-benar ingin ke kiri malah terjebak dan ikut berhenti. Aturan ada, rambu jelas, tapi fungsinya kalah oleh logika “yang penting saya dulu”.

Baca Juga:

Setahun Hidup di Jogja Bikin Saya Rindu Jalan Berlubang di Bekasi

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

Pengendara yang mau ke kiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Mau membunyikan klakson pun tidak enak hati. Nanti takutnya diteriaki, “Nek kesusu mangkat wingi!” dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti, kalau terburu-buru berangkat sejak kemarin. 

#3 Pelan itu mungkin baik, tapi jangan di tengah jalan juga dong

Jogja identik dengan santai, tapi jujur saja, kadang  santainya kebablasan sampai ke cara berkendara. Ada pengendara yang melaju pelan, bahkan mungkin terlalu pelan, dan memilih posisi tepat di tengah lajur.

Pengendara yang ada di belakangnya menjadi serba bingung: mau nyalip salah, mau klakson tidak enak, mau sabar tapi jadwal hidup terus berjalan. Ini bukan ketertiban, ini ujian kesabaran yang dibungkus sopan santun.

#4 Pengendara Jogja menatap ponsel

Apa pun alasannya, berkendara sambil melototin layar ponsel itu dosa besar . Mungkin orang akan memaklumi kalau itu dilakukan oleh driver ojek online meskipun itu juga tidak bisa dibenarkan. Lha ini, pengendara biasa yang hanya mendengar bunyi notifikasi WhatsApp, kok bisa-bisanya tangannya gatal untuk memegang HP dan matanya melototin. Anehnya, ia tetap kalem tapi mata jelas lebih setia pada layar daripada jalan.

Sekilas hal itu tampak tidak berbahaya karena kecepatannya rendah. Tapi justru itulah masalahnya. Lambat, tidak fokus, dan sulit diprediksi. Kombinasi yang sunyi tapi rawan.

#5 Berhenti di persimpangan lampu merah, tapi melewati marka seolah itu zona abu-abu

Saat lampu merah di persimpangan, marka jalan seharusnya jadi batas bersama. Tapi nyatanya, banyak pengendara yang berhenti melewati garis marka, bahkan mengambil jalur lawan arah.

Alasannya mungkin sepele: ingin lebih depan, ingin cepat jalan, atau sekadar ikut-ikutan. Tapi, dampaknya nyata: pengendara dari arah berlawanan kehilangan ruangnya. Semua itu terjadi tanpa suara, tanpa klakson, tanpa drama. Tapi, itu tetap salah.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: ketertiban lalu lintas tidak selalu soal kebisingan. Jogja mungkin unggul dalam hal minim klakson, tapi bukan berarti bebas dari problem berkendara. Di sini, pelanggaran sering dilakukan dengan tenang, santai, dan penuh kesadaran, “Ah, nanti juga aman.”

Jogja bukan kota tanpa masalah lalu lintas. Dia hanya kota yang masalahnya dibungkus dengan kesunyian. Tidak ribut, tidak kasar, tapi tetap merepotkan. Dan karena tidak ribut itulah, dia jarang dikritik.

Justru karena dibungkus kesunyian itulah, banyak pelanggaran terasa lebih bisa diterima. Minim suara klakson, minim ada makian, dan minim ada adu emosi. Semua dilakukan dengan wajah tenang dan gerak pelan, seolah ketidaktertiban atau pelanggaran itu bisa dimaafkan asal tidak berisik. Di Jogja, melanggar aturan sering tampil sopan, dan kesopanan itulah yang membuatnya jarang dianggap masalah.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti mengglorifikasi Jogja sebagai teladan lalu lintas hanya karena jalanannya lebih sunyi. Karena tertib itu bukan soal seberapa jarang kita mengklakson, tapi seberapa sadar kita bahwa jalan adalah ruang bersama, bukan tempat mengekspresikan kenyamanan pribadi secara sepihak.

Sunyi memang menenangkan. Tapi, sunyi tidak selalu berarti benar.

Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Aturan Tidak Tertulis di Perempatan Jogja yang Sebaiknya Dituliskan Aja karena Banyak Pengendara Nggak Peka.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2026 oleh

Tags: jalanan JogjaJogjalalu lintas jogjapengendara jogja
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Daripada Bikin Malioboro, Ada Baiknya Magelang Fokus Wisata Seribu Candi Saja

Daripada Bikin Malioboro, Ada Baiknya Magelang Fokus Wisata Seribu Candi Saja

22 Mei 2022
Kuliah Merantau di Jogja, eh Dikira Klitih karena Pakai Scoopy (Unsplash)

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

3 November 2025
Jogja Darurat Sampah, Monumen Ketidakbecusan Pemerintah (Unsplash) sampah di jogja

Retribusi Sampah Jogja: Solusi Jangka Pendek yang Bagus, Tinggal Menunggu Solusi Jangka Panjangnya

30 Oktober 2024
Kapok Naik Trans Jogja Setelah Satu Kali Mencobanya MOJOK.CO

Trans Jogja Memang Nggak Cocok untuk Mereka yang Pengin Buru-buru

18 Agustus 2020
Adakah Dana Istimewa untuk Sampah yang Tidak Istimewa? TPST Piyungan, ASEAN Tourism Forum, Jogja krisis sampah di jogja bantargebang

TPST Piyungan Ditutup Lagi, Kapan Jogja akan Benar-benar Menemukan Solusi untuk Sampah yang Makin Melimpah?

22 Juli 2023
Memahami Sultan Ground: Keistimewaan Jogja yang Ruwet dan Penuh Intrik tamansari

Prabu Yudianto Menceritakan Dukanya Saat Tinggal di Tamansari Jogja: Bisa Diusir Kapan Saja

10 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Pantai Watu Bale, Tempat Wisata Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi 

5 Februari 2026
Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali Mojok.co

Jatim Park, Tempat Wisata Mainstream di Malang Raya yang Anehnya Tetap Asyik walau Sudah Dikunjungi Berkali-kali

6 Februari 2026
Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026
7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.