Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pengalaman Saya Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan Sebagai Masyarakat Transmigran

Dicky Saputra oleh Dicky Saputra
27 Juni 2024
A A
Pengalaman Transmigran Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan (Unsplash)

Pengalaman Transmigran Tinggal di Pedalaman Sumatera Selatan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Pernahkah kamu mendengar program transmigrasi? Salah satu tujuannya adalah untuk pemerataan penduduk dan membuka lahan baru. Nah, saya adalah salah satu transmigran yang pernah mengikuti program ini. Dulu, saya hidup di daerah padat penduduk di Jawa. Kehidupan yang serba kekurangan dan lapangan pekerjaan yang minim membuat saya dan keluarga bergerak menuju Sumatera Selatan.

Bayangan tentang tanah yang luas, subur, dan kehidupan yang lebih sejahtera memenuhi pikiran. Tapi, siapa sangka, kenyataan di Sumatera Selatan tidak selalu seindah mimpi.

#1 Jalanan Sumatera Selatan yang mulus dan infrastruktur bagus sebatas khayalan

Pernahkah kalian membayangkan hidup di pedesaan terpencil dengan akses jalan yang super sulit? Nah, pengalaman itulah yang ingin saya bagikan kali ini. Sebagai warga transmigran di pedalaman Sumatera Selatan, akses jalan menjadi salah satu tantangan terbesar.

Layaknya program “Indonesiaku” di Trans7, perjalanan menuju desa saya bagaikan petualangan offroad yang menantang. Jalanan tanah yang berlubang dan becek menjadi makanan sehari-hari, terutama saat musim hujan. Tak jarang, mobil atau motor terjebak lumpur, dan kami harus bergotong royong untuk mendorongnya keluar.

Kondisi ini tentu saja menghambat berbagai aspek kehidupan kami. Perjalanan ke pasar menjadi lebih lama dan melelahkan. Mengangkut hasil panen jua menjadi perjuangan tersendiri. Belum lagi, akses ke pelayanan kesehatan dan pendidikan di Sumatera Selatan juga terhambat.

#2 Pendapatan UMR, pengeluaran Rafathar

Mimpi tentang hidup di pedesaan yang tenang dan murah tergantikan kenyataan pahit saat saya dan keluarga memutuskan untuk menjadi transmigran di pedalaman Sumatera Selatan. Bayangan tentang sayur segar melimpah, harga sembako murah, dan hidup yang jauh dari hiruk pikuk kota, ternyata tak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan.

Awalnya, kami memang merasa lega dengan harga rumah yang jauh lebih murah dibandingkan di kota. Namun, kegembiraan itu segera sirna saat kami mulai berbelanja kebutuhan sehari-hari. Harga sembako di sini jauh lebih mahal daripada di kota. Biaya transportasi pun tak murah, karena jarak toko dan pasar cukup jauh.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan mahalnya biaya hidup di sini adalah akses transportasi yang terbatas. Jarak tempuh yang jauh untuk mendapatkan kebutuhan pokok membuat ongkos angkut menjadi tinggi. Hal ini pun berimbas pada harga jual barang yang melambung tinggi.

Baca Juga:

5 Istilah di Solo yang Biking Orang Jogja seperti Saya Plonga-plongo

Eretan Wetan Indramayu, Venesia Jawa Barat yang Nggak Estetik Sama Sekali

#3 Di mana bumi di pijak, di situ Jawa menetap

“Jawa adalah kunci.” Mungkin itu kalimat yang dapat menggambarkan keadaan daerah-daerah transmigrasi. Kita akan selalu menemukan orang Jawa selama masih menginjak bumi Indonesia (Bahkan hingga Suriname). Kalian tak akan pernah merasa rindu kampung halaman selama masih ada saudara seperjuangan.

Di pedalaman Sumatera Selatan itu, hampir setengah penduduknya berasal dari Jawa. Sehingga seakan-akan transmigrasi tak sekadar perpindahan masyarakat dari kota ke desa, namun segala bentuk budaya, bahkan bahasa juga. Ini menjadikan transmigrasi seolah-olah liburan keluarga namun dalam jangka waktu yang lama.

#4 Selayaknya Harvest Moon di dunia nyata

Program transmigrasi bertujuan, salah satunya, sebagai upaya mengurangi kepadatan kota dengan memindahkan masyarakatnya ke desa. Nah, setelah kotanya sudah tak terlalu padat, bagaimana dengan masyarakat yang dipindahkan? Yap betul, kami memulai peradaban baru layaknya game Harvest Moon.

Kebanyakan dari kami akhirnya bekerja di kebun atau sawah. Sedikit demi sedikit “mengembangkan desa” hingga lama kelamaan terbentuklah sebuah pedesaan.

#5 Pedalaman Sumatera Selatan jauh dari hiruk pikuk keramaian

Back to nature. Menjalani kehidupan transmigran adalah menjalani ketenangan itu sendiri. Kita akan hidup jauh dari bising kendaraan dan sibuknya perkotaan. Hanya kita dan alam.

Transmigrasi dapat juga menjadi pilihan bagi orang yang sudah jengah dengan keramaian dan huru-hara. Khususnya bagi yang hanya ingin menikmati hidup dengan lebih tenang. Cocok buat bagi para penganut slow living. Tak ada salahnya untuk mencoba hidup di pedalaman Sumatera Selatan kayak saya.

Penulis: Dicky Saputra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mengenal Pagar Alam, Kota Kecil di Tengah Indahnya Pemandangan Alam Sumatera Selatan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juni 2024 oleh

Tags: IndramayuJawasumaterasumatera selatantransmigram
Dicky Saputra

Dicky Saputra

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran.

ArtikelTerkait

8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine” Mojok.co

8 Kosakata Boyolali yang Susah Diterjemahkan Warga Lokal dari “Horok” Sampai “Nine”

29 Juli 2025
pernikahan jawa terhalang weton mitos mbangkel ponorogo suro mojok.co

Selain Weton Tak Cocok, Mitos Mbangkèl Juga Bisa Menggagalkan Pernikahan Orang Jawa

13 Juli 2020
Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang

Saya Iri dengan Jalanan di Jawa yang Selalu Diperhatikan Presiden, Tak Seperti Jalanan di Kabupaten Bengkayang

1 Februari 2024
5 Makanan yang Cocok Disantap Pakai Kuah Cuko selain Pempek, Silakan Coba dan Buktikan Mojok.co

5 Makanan yang Cocok Disantap Pakai Kuah Cuko selain Pempek, Silakan Coba dan Buktikan

8 Oktober 2024
Kereta Api Limex Sriwijaya: Dulu Primadona, Sekarang Tak Tahu Rimbanya

Kereta Api Limex Sriwijaya: Dulu Primadona, Sekarang Tak Tahu Rimbanya

18 Desember 2023

Bahasa Jemberan: Mulai dari ‘Siah Mak Iyo Rakah’ Sampai ‘Sengak Kamu ya’ yang Bikin Pusing Kepala

9 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

Bukan Malang, Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Banyuwangi. Tak Hanya Jalanan Berlubang, Truk Tambang pun Dilawan

15 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026
Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.