Setiap kali saya cerita ke orang-orang bahwa ibu saya adalah warga Muhammadiyah tulen, sedangkan bapak saya adalah warga NU (Nahdlatul Ulama) garis keras, reaksi yang saya terima hampir selalu sama. Mereka kaget, “Kok bisa?” Kemudian diikuti pertanyaan, “Memangnya nggak pernah berantem?”
Dan saya selalu tertawa mendengar respons itu. Seolah-olah hidup di bawah satu atap dengan dua organisasi berbeda itu setara dengan duduk bersama fans bola beda klub yang tak pernah akur. Padahal, sejauh ingatan saya, di keluarga kami selalu baik-baik saja. Bahkan cukup menyenangkan.
Bapak NU, ibu Muhammadiyah, dan saya riang gembira
Jika ditanya soal loyalitas, bapak saya ini memang cukup totalitas. Bahkan kalau ditanya apa agamanya, mungkin blio akan menjawab dengan tegas, NU. Iya begitu loyalnya blio ini. Dalam rekam jejaknya juga pernah menjadi guru di pesantren NU, dan pernah menjabat sebagai ketua Banser. Pun sejak masih muda blio sudah menjadi berkhidmat dengan penuh ketulusan.
Sementara itu, ibu saya tumbuh besar dalam ekosistem Muhammadiyah dari ujung ke ujung. Pendidikannya di bawah naungan Muhammadiyah, dan kalau tidak salah ingat, kakek saya dari pihak ibu pernah menjadi ketua ranting Muhammadiyah di daerahnya. Jadi ibu saya ini punya identitas Muhammadiyah pada darah dagingnya.
Dan dua orang dengan latar belakang seperti ini kemudian bertemu, menikah, membangun keluarga, dan membesarkan anak-anak, termasuk saya. Menarik, bukan?
BACA JUGA: Muhammadiyah Gagal Lucu, Tapi NU Juga Gagal Serius
Lebaran beda hari: ujian yang ternyata tidak semenakutkan itu
Kalau diingat, salah satu momen persimpangan dalam keluarga NU-Muhammadiyah itu sering terjadi ketika hari raya idul fitri atau lebaran jatuh di tanggal yang berbeda. Dan itu beberapa kali terjadi di keluarga saya.
Dan seingat saya perbedaan itu biasa saja. Kami sudah punya semacam kesepakatan tak tertulis di keluarga kami jika itu terjadi. Iya, Bapak dan ibu langsung mengambil jalan tengah. Yakni kami akan mengunjungi rumah kakek-nenek dari pihak ibu terlebih dahulu, baru kemudian esoknya kami lebaran di rumah yang mana mayoritas NU.
Jadi, ketika Muhammadiyah lebaran duluan dan NU menyusul keesokan harinya, maka malam hari di lebaran pertama Muhammadiyah itu, kami sudah mampir ke rumah keluarga ibu terlebih dahulu. Secara teknis, kami tetap hadir di hari pertama lebaran mereka. Dan bagi bapak, ia meyakini karena malam takbiran, jadi memang sudah masuk 1 syawal. Sebuah win-win solution yang cukup cerdik menurut saya.
Satu sisi, Bapak yang NU bisa legowo karena suara takbir sudah berkumandang, yang artinya hari raya sudah sah menurut kalendernya. Kakek-nenek dari pihak ibu tetap dikunjungi di momen yang tepat. Semua senang, tidak ada yang pulang dengan muka masam.
Qunut, Tarawih, dan hal-hal yang tidak pernah jadi perdebatan
Selain soal hari raya, ada juga hal-hal lain yang secara teori bisa memicu friksi di keluarga lintas ormas seperti kami. Qunut saat salat Subuh, misalnya. Atau dzikir keras setelah salat. Atau jumlah rakaat tarawih, yang sampai hari ini pun masih jadi topik hangat di kolom komentar netizen.
Tapi jujur saja, itu semua tidak pernah jadi bahan debat di rumah kami. Iya, tidak ada sidang keluarga soal fikih yang berbeda. Tidak ada yang saling kirim dalil lewat WhatsApp, dan tidak ada yang meninggalkan rumah karena tidak terima pendapatnya dibantah.
Bapak dan ibu saya sepertinya sudah sepakat sejak awal bahwa hal-hal semacam itu tidak cukup penting untuk menghabiskan waktu, energi, dan pikiran. Apalagi sampai merusak keharmonisan keluarga.
Dan saya rasa itu adalah salah satu pelajaran paling berharga yang tidak pernah secara eksplisit diajarkan ke saya, tapi saya serap pelan-pelan dari cara mereka menjalani hidup bersama.
NU dan Muhammadiyah bukan agama
Satu hal yang ingin saya garis bawahi dari semua cerita ini adalah, NU dan Muhammadiyah itu bukan agama. Bukan pula aliran. Keduanya adalah organisasi masyarakat, atau ormas. Titik.
Karena itu, perbedaan tersebut bukanlah satu hal yang menggelisahkan. Pun saya kadang heran kenapa orang bisa begitu defensif soal perbedaan amaliyah antara dua organisasi yang sebetulnya sama-sama berpijak pada agama Islam.
Dan kalau bapak saya yang mantan ketua Banser dan ibu yang tumbuh besar di lingkungan Muhammadiyah saja bisa hidup satu atap dengan damai, rasanya tidak ada alasan kuat bagi orang lain untuk menjadikan perbedaan ini sebagai sumber permusuhan. Setidaknya itu yang saya pelajari dari keluarga saya. Dan saya cukup bangga karenanya.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Cerita dari Aktivis Muhammadiyah yang Menikahi Gadis NU
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
