Pengalaman Saya Menggembel: Dari Nyolong Gawai sampai Ditolong Pengamen

Featured

Avatar

Sewaktu berusia 13 tahun, saya melakukan hal yang paling mustahil sepanjang hidup saya: menggembel di jalanan. Pada saat itu saya nyantri di sebuah pondok pesantren tak ternama. Banyaknya peraturan, relasi sosial yang kurang sehat, hingga rasa iri melihat siswa sekolah lain malang melintang dengan bebas menjadi pemicu saya untuk melakukan tindakan radikal tersebut.

Menggembel bagi saya adalah suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Terlintas sekelebat saja tak pernah. Tindakan itu berada di level yang sangat berbeda, setidaknya untuk saya yang culun, cengeng, dan manja.

Namun, saya sudah mematangkan tekad. Pada sore-sore senggang, berbekal uang seadanya saya kabur dari asrama. Cerita mengenai tipu muslihat saya terhadap ustad dan orang tua saya lebih baik dilewatkan saja. Saya tak ingin membuat Anda bingung dengan detail yang kurang penting dan menjemukan. Anggap saja saya melakukan kebohongan besar hingga orang tua, ustad, dan teman-teman tak mengetahui saya menggembel.

Maka, sore itu rencana saya berjalan mulus. Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah Gramedia. Gimana? udah kelihatan kan keculunan saya. Kalau orang lain yang menggembel udah kayak anak punk sangar gitu. Lha ini saya malah ke Gramedia, buat apa!?

Meskipun menyadari keculunan tersebut, saya tetap pergi ke Gramedia. Saya berencana menghabiskan sore di sana. Saat itu saya berpikir alangkah gembiranya membunuh waktu dengan membaca buku dan komik seharian.

Saya benar-benar keasyikan sampai lupa kalau hari sudah beranjak malam. Terus terang, saya sempat bingung menentukan destinasi kedua. Namun, berdasarkan berbagai pertimbangan ilmiah, saya memutuskan pergi ke SD saya dulu. Jarak antara SD saya dengan Gramedia dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki sedikit. Itu membuat saya dapat menembus malam sambil mengamati aktivitas orang-orang di malam hari.

Sesampainya di sana, saya istirahat di masjidnya. Kebetulan SD saya punya masjid yang besar. Saya sedang melegakan kaki dan berbaring, ketika mata saya tertuju pada sebuah benda di pojok ruangan. Ya itu sebuah gawai, yang teronggok tanpa pemilik. Ah, tidakkah saya tergiur mengambilnya!

Baca Juga:  Ngakunya Pecinta Kucing, tapi Cuma Cinta Kucing Impor

Menceritakan ini saja saya sudah malu. Tapi tak apalah, hitung-hitung sebagai pengakuan dosa. Saya menunggu beberapa saat, sampai benar-benar merasa yakin tidak ada pemiliknya. Lalu dengan satu gerakan singkat, wuuusss, gawai itu telah berada di genggaman saya.

Tanpa berlama-lama saya segera pergi dari TKP, menghindari kecurigaan orang. Lagi pula, masjid itu sebentar lagi tutup. Dan di sana tak boleh buat tidur.

Destinasi ketiga sekaligus yang terakhir adalah sebuah mal. Bukan sembarang mal, melainkan mal yang berada di suatu jalan yang ramai dan terkenal dan ikonik dan sebutan keren lainnya.

Sepanjang malam, saya gentayangan di sekitar situ. Saya melupakan pegalnya kaki dan memilih melihat-lihat aktivitas orang-orang yang makin malam makin meredup. Mal dan beberapa toko sudah mulai tutup, menyisakan beberapa angkringan serta ibu-ibu yang menjual makanan dengan kendilnya. Sebagian tukang becak tampak beristirahat dan sebagian lain sedang menyesap kopi sambil berbincang.

Ada kalanya, saya berhenti berjalan dan duduk di sebuah kursi panjang, melamunkan gawai tadi. Tapi, lebih dari itu, saya kelaparan. Saya memang cuma membawa uang yang sedikit. Itu pun sudah habis untuk ke kamar mandi.

Rasa ngantuk juga perlahan-lahan mulai menusuk. Sialnya, masjid-masjid di sekitar sana tak mengizinkan musafir-cum-gembel macam saya beristirahat. Dengan demikian saya menyedikitkan berjalan dan memperbanyak duduk. Sekali waktu, mobil polisi melintas, menyebabkan saya harus bersembunyi untuk menghindari pencidukan.

Saya meringkuk di sebuah kursi panjang. Rasa lapar, ngantuk, dan takut mengobrak-abrik semangat berpetualang saya. Pikiran saya dipenuhi keinginan tidur di asrama. Memikirkan betapa nikmat terlelap di kasur asrama yang banyak tingginya membuat rasa sesal perlahan merengsek.

Namun, semua sudah kepalang basah. Gini-gini saya punya harga diri. Kata bapaknya Nobita, sekali memutuskan sesuatu, seorang laki-laki tidak akan menyerah. Masak sih saya sudah sejauh ini lalu pulang ke asrama. Minimal, habiskan malam di jalanan, sesuai tujuan awal.

Maka, ketetapan hati saya itu (kalau tidak bisa dibilang kebodohan) membuat saya bertahan. Saya tengah menjajal fitur di gawai yang baru saya colong ketika segerombolan pengamen mendatangi saya. Beberapa orang di antara mereka mengajak saya ngobrol. Saya tak ingat ngobrol apa. Yang saya ingat adalah logat Madura mereka dan kebaikan mereka memberi saya uang lima ribu rupiah.

Baca Juga:  Kematian Sungguh Tak Patut Ditangisi dan Ditakuti

“Nih, pakai buat beli nasi, biar nggak lapar,” kata seseorang di antara mereka. Saya semringah, berterima kasih. Mereka pun pergi dan hilang di tikungan sebuah gang.

Saya segera beranjak dan membeli makanan. Sembari makan, saya berbincang dengan ibu penjual makanan tersebut. Ibu itu menanyakan beberapa hal terkait diri saya dan bagaimana saya bisa sampai gentayangan di jalan. Tentu saja untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, saya memilih berbohong demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Ibu itu lalu mengajak saya untuk pulang ke rumahnya. Besok pagi, katanya, saya harus ikut berjualan agar bisa menyambung hidup sehari-hari.

Saya menolak dengan halus. Saya beralasan bahwa saya sudah berjanji akan bekerja dengan teman saya yang lain. Namun, alasan sebenarnya ya karena besok pagi saya mau pulang ke asrama, mencukupkan pengembaraan spiritual saya sebelum ketahuan ustad.

Tak terasa sudah berjam-jam kami ngobrol. Ibu itu pamit pulang sembari mengemasi dagangannya. Namun, sebelum itu beliau memberi satu bungkus nasi telur. Ibu itu dengan hangat tersenyum kepada saya. Saya mengucapkan terima kasih, merasa selalu ditolong malam itu.

Di luar udara dingin sekali. Ibu itu pulang ke rumahnya. Malam hari jadi lengang kembali.

Sumber gambar: Sampul pertama novel klasik-legendaris Amerika, The Catcher in the Rye (1951) yang juga bercerita tentang remaja yang lari dari sekolah dan menggelandang selama sehari. Wikimedia Commons.

BACA JUGA Cerita Horor Pakdhe Saya yang Diseruduk Siluman Manusia Berkepala Kuda dan tulisan Zaki Annasyath lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
11


Komentar

Comments are closed.