Pengalaman Saya Berak di Sungai Setelah Gempa Jogja 2006 – Terminal Mojok

Pengalaman Saya Berak di Sungai Setelah Gempa Jogja 2006

Artikel

Gusti Aditya

Pagi itu, waktu mau mengambil air untuk mandi dan bersiap berangkat sekolah, bumi Jogja bergetar dengan hebatnya. Saya hanya bisa ndomblong dan nggak tahu apa yang sedang terjadi. Di pikiran saya, cerita guru ngaji mengenai kiamat kubra, terbukti sudah. Di dalam kamar mandi saya hanya bisa menangis dan menunggu suara terompet sangkakala.

“GEMPAAAAAA!” kata itu yang saya dengar. Di dalam kamar mandi, saya hanya mbatin, kok bunyi terompet sangkakala seperti suara ibu saya yang berteriak? Jebul, suara lengkingan khas ibu saya nggak kalah bikin merinding dari suara terompet sangkakala.

Bapak saat itu sedang tenis pagi rutin di Polsek Umbulharjo. Ibu saya, bagai kapten Timnas Italia medio 2000-an, Paolo Maldini, memberikan arahan agar saya, kakak, dan nenek keluar rumah. Sampai di luar, dapur rumah saya roboh dan keadaan sungguh kacau.

“Air sudah sampai Pleret!” teriak orang yang nggak saya kenal di tengah lapangan, ketika warga desa berkerumun. Sayup-sayup terdengar suara, katanya tsunami bakal menerjang Bantul. Nalar tak lagi terpakai, berbekal pengalaman saudara-saudara kami asal Aceh yang diterjang tsunami pascagempa.

Padahal, Bantul dipeluk pegunungan yang lumayan tinggi. Tetap saja, ketakutan mendominasi. Kelak, kami sadar bahwa orang yang berteriak itu bermaksud memanfaatkan ketakutan. Tujuan mereka menjarah rumah-rumah yang kosong. Pun uang dan beberapa perhiasan keluarga saya tak luput disikat oleh mereka.

Ketika momen krusial itu terjadi, perut saya perih setengah mati. Selayaknya anak SD kelas 3, saya minta berak manakala semua berlari ke tempat tinggi untuk menyelamatkan nyawa. Ada nyawa yang harus diselamatkan, pun ada tahi yang harus keluarkan.

“Mah, kepeseng,” kata saya kepada ibu. Matanya berkilat seakan mengeluarkan api dalam brongot. Ketika itu, ilmu menahan berak adalah kajian prinsip disiplin khusus yang belum saya kuasai. Bagaimana cara menarik udara masuk ke dalam anus dan menahan, saya belum kuasai secara maksimal.

Akhirnya kami berpisah. Saya dan ibu, sedangkan kakak dan nenek. Mereka menuju Terminal Giwangan yang bertingkat. Sebelum akhirnya menuju Sleman, ketika bapak saya datang. Sedangkan saya dan ibu, menuju Kali Gajahwong guna melampiaskan berak. Maklum, nadi berupa kali terdekat dari rumah saya adalah sungai itu.

Kami masuk menuju semak-semak guna menjumpai pinggiran sungai. Saya mlotrokkan celana, jongkok dan pantat saya kena air sungai. Nyessss. Dingin nggak karuan. Maklum, saat itu kurang lebih jam 8 pagi. Air yang dingin kena kulit, apalagi pantat, tentu membuat saya langsung merinding. Apalagi ada yang mengkerut minta dikasihani.

Tak lama setelah ngeden, saya melihat air gerak-gerak, sedangkan ibu saya sedang clingak-clinguk melihat sekitar. Saya yang penasaran, lekat-lekat melihat lebih jelas. “Tsunami, ya?” sapa saya, seakan sedang ngobrol sama teman lama. Sumpah, ngajak ngobrol air gerak-gerak itu lebih aneh ketimbang ngobrol sama pohon jengkol.

Posisi saya yang sedang ngeden pun jadinya kurang khusyuk. Kaki saya yang saat itu masih mungil, bergerak sedikit demi sedikit. Jatuhnya, saya malah terlihat seperti sedang renang, lantaran air sungai sudah sedada saya. Ketika semakin dekat, mak pecutut sekadal bernama biawak pun muncul.

Mak jegagik saya langsung lari menuju ibu, dan kengerian isu tsunami tergantikan bagaimana ngerinya dikejar biawak besar ketika sedang ngising di sungai.

Setelah itu, sekitar seminggu pasca gempa, keluarga saya dan beberapa keluarga di desa masih takut untuk masuk ke rumah. Kami membangun semacam pondokan kecil di tiap depan rumah. Kalau nggak ada halaman, bisa bikin di sawah dan lapangan. Dalam kondisi prihatin seperti ini, guyub rukun bukan utopia.

Namun, berbeda perkara berak. Anak-anak sampai ribut besar masalah tempat berak. Sungai adalah komoditas utama membuang hajat kehidupan. Ketika ada kelompok tertentu yang merasa tempatnya dipakai, ribut adalah jalan keluar paling logis saat itu. Ributnya anak-anak ini—rekan masa kecil saya—cenderung aneh. Begini,

“Aku duluan yang berak di sini,” kata salah satu kawan saya. Menantang orang lain yang mencoba mengusik tempat ngising-nya.

Lantas tantangannya disambut sang lawan, “Lho, aku juga menemukan tempat ini sebelum kamu. Ya, kebetulan aja aku menemukannya dalam kondisi belum kepeseng saat itu!” jika Timur Tengah ada perang sipil, di desa saya ada perang kepeseng.

Selama saya berak di sungai pun rasanya cukup aneh. Ngeden, mencelupkan sedikit pantat ke sungai (karena belum ada konsep jamban, serba apa adanya), dan menghadap sisi sungai lainnya. Kebetulan, pas itu, sisi sungai lainnya adalah desa sebelah.

Pas saya mencoba membuang hajat dengan hormat, menghadap desa sebelah di sisi sungai lainnya, ndilalah ada warga desa sebelah yang juga sedang buang hajat. Astaga, rasanya pekewuh banget tiap mengeluarkan tahi, saya harus senyum sebagai tanda sopan santun.

“Mas,” sapa saya, dengan backsound “plung”.

“Nggih… (plung… Ahhh… plung…) hehehe, monggo, Dik!” ada jeda dari jawabannya karena saya nyapa ketika blio sedang ngeden.

Pun ketika tatap-tatapan, itu rasanya nggatheli abis. Mau memunggungi, ya mosok blio lihat bokong. Mau bagaimana un, saya hormat kepada orang yang lebih tua. Apalagi masnya ini rambutnya jarang-jarang alias botak-botak mengkilat. Ada uban dikit yang bikin terlihat kudu dihormati. Mau lihat alam sekitar, ya buat apa gitu, loh. Mata saya dan mata mas-mas itu pada akhirnya beradu.

Walau kami terpisah oleh bentangan Kali Gajah Wong, tahi kami mengalir sampai jauh dan nggak akan bertemu. Namun, perasaan para orang yang “menahi” di sungai pascagempa Jogja tetap sama, terselip ketakutan, nggak ada jalan lain, selain maju menerjang. Bahkan, dalam suasana paling sentimentil seperti berak sekalipun.

BACA JUGA Cerita “Digoyang” 1000 Kali Gempa Ambon dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Plis Banget nih, Jangan Mencuci Sepeda Motor di Sungai
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
15


Komentar

Comments are closed.