Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
13 Januari 2026
A A
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Share on FacebookShare on Twitter

Pekan UTS memberi jeda kuliah seminggu. Jeda cukup lama itu memberi kesempatan saya pulang kampung sejenak dari Jogja. Tiket kereta termurah dan selalu jadi rebutan adalah kereta Sri Tanjung dengan harga 88 ribu. Selagi stok masih ada, baiknya dibeli dulu. Soalnya Sri Tanjung ini jadi primadona kalangan mahasiswa medioker seperti saya.

Saya langsung beli tiket PP. Alasannya biar nggak kehabisan tiket termurah rute Jogja-Surabaya dan sebaliknya. Perjalanan Jogja-Surabaya dan sebaliknya memakan waktu kurang lebih 5 jam. Sungguh waktu yang nggak sebentar untuk hanya duduk diam di kursi tegak berdempet dengan 5 orang lainnya. Kunci kenyamanan perjalanan ini jelas bukan di kursi, tapi di teman duduk yang enak diajak ngobrol atau cerita.

Perjalanan Jogja-Surabaya masih aman. Saya duduk bersebelahan dengan pasutri yang baru punya anak usia 6 bulan. Pasutrinya terbuka dan enak diajak ngobrol. Anaknya juga lucu, jadi seru. Sepanjang perjalan ya ngobrol dan main.

Nah, yang nggak nyaman justru ketika saya balik dari Surabaya ke Jogja. Sialnya saya duduk sama dosen narsis yang yapping pamer sepanjang jalan. Perjalanan 5 jam di Kereta Sri Tanjung jadi berasa 50 jam. Kuping jadi panas dengerin bacot pamer nggak pentingnya.

Pamer Almamater S2-nya

Yapping orang si paling dosen ini membuka bab narsisnya dengan membahas jaket yang dipakai, jaket IPB. Iyaa, tau yang lulusan IPB. Mas dosen (masih muda) ini mendadak nanya kesibukan saya dan penumpang lain yang duduk bersama di kursi tegak Sri Tanjung. Tanpa diminta, beliau langsung yapping panjang kalau dirinya lulusan UNS dan IPB sambil menepuk bangga logo di jaketnya.

Nggak berhenti di situ, mas-mas si paling dosen ini juga cerita kalau masuk IPB gampang. Susahnya itu cara keluarnya. Ujiannya ketat dan harus punya indeks Sinta dan Scopus. Anjaay. Siap Pak Dosen.

Pamer uang 60 juta, tapi naik Sri Tanjung?

Saya dan penumpang yang sekursi merespons sekadarnya. Biasa saja. Saya pun hanya nunduk diam menahan kesal karena yapping pamernya. Beberapa waktu, momen hening sesaat.

Seperti nggak bisa melihat suasan hening, tiba-tiba si mas dosen ini nanya di antara kami ada yang pengajar atau tidak. Ya kami nggak ada yang nyaut. Soalnya kami semua kebetulan mahasiswa. Lalu, tanpa ditanya, si mas dosen ini bilang kalau dirinya dosen. Ada satu penumpang yang masih maba agak kaget. Mungkin di benaknya heran, bisa ya satu kereta sama dosen.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Dipancing sedikit, Mas dosen yapping ini nyerocos hebat tentang dunia perdosenan. Fyi, beliau dosen swasta. Katanya kalau dosen swasta duitnya gede. Banyak ceperannya. Belum proyek-proyek yang budgetnya puluhan juta.

Si mas dosen ini juga cerita kalau hari itu baru pulang dari ngabisin duit sisa proyek. Soalnya baru dapet proyek pengabdian senilai 60 juta. Lantas, saya bingung, mosok uang proyek 60 juta naiknya kereta Sri Tanjung yang ekonomi. Gengsi dikit lah. Minimal eksekutif kek. Masak ekonomi, Sri Tanjung pula yang terkenal kursi tegak yang nggak nyaman.

Pamer keilmuan

Nggak berhenti di situ. Ketika penumpang lain hening dan berusaha tidur, beliau yapping lagi. Tiba-tiba si mas dosen ini ngasih pertanyaan berdasar keilmuannya. “Coba, kalau harga gula turun, kira-kira permintaan akan teh bakal naik tidak?”. Aneh nggak sih tanpa konteks tiba-tiba nanya begituan untuk memecahkan keheningan suasana?

Kami sebagai penumpang yang sudah letih mah diem bae. Kami kira dia pengin ngelawak sendiri. Ujungnya, dia jawab sendiri sambil berbusa dan berasa manusia paling pintar di gerbong Ekonomi 2 kereta Sri Tanjung malam itu.

Lalu, untuk menimpali saya coba pancing agak satire. Saya nanya, “gimana pendapat jenengan sebagai dosen ngeliat orang yang banyak omong, tapi sebenarnya nggak ngerti apa yang diomongin. Gaya doang lah?”. Si mas dosen langsung semangat mendengar pertanyaan itu, karena merasa dirangsang buat yapping.

Seperti yang saya duga, jawabannya general dan klise. Katanya, “ya kalian kalau pernah denger istilah tong kosong nyaring bunyinya, ya itu”. Lah, istilah itu mah anak SD juga sudah tau. Masak sekelas dosen jawabannya gitu doang. Sisanya malah ngawur ke mana-mana bahas hal nggak penting. Dahlah, kacau.

Sudah naik Sri Tanjung kursi tegak, duduk berjejer berenam, eh ketambahan harus dengerin yapping dosen sok asik yang isi omongannya nggak ada yang penting. Makin ambyar deh perjalananku. Barangkali, itulah tantangan terberat saya selama naik kereta Sri Tanjung kursi tegak; duduk dengan orang sok asik yang bikin perjalanan jadi nggak nikmat. Secara fisik nggak nikmat, secara sosial pun kacau. Hadeeeh.

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Selalu Kangen Naik Kereta Api Sri Tanjung Zaman Dulu yang Setiap Gerbongnya Berisi Kekacauan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Januari 2026 oleh

Tags: kereta jogja surabayakereta jogja surabaya termurahkereta sri tanjung
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Sisi Gelap Solo: Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti, Katanya Serba Murah tapi Kini Cuma Dongeng

11 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

12 Januari 2026
Tidak Ada Nasi Padang di Kota Padang, dan Ini Serius. Adanya Nasi Ramas! angkringan

4 Alasan Makan Nasi Padang Lebih Masuk Akal daripada Makan di Angkringan  

11 Januari 2026
Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

Trowulan, Tempat Berlibur Terbaik di Mojokerto, Bukan Pacet Atau Trawas

12 Januari 2026
Mobil Innova Reborn, Mobil yang Bisa Dianggap sebagai Investasi Terbaik sekaligus Mesin Penghasil Uang innova reborn diesel

Saya Akhirnya Tahu Kenapa Innova Reborn Diesel Dipuja Banyak Orang, Beneran Sebagus Itu!

7 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik
  • “Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa
  • Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan
  • Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa
  • Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah
  • 5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.