Pekan UTS memberi jeda kuliah seminggu. Jeda cukup lama itu memberi kesempatan saya pulang kampung sejenak dari Jogja. Tiket kereta termurah dan selalu jadi rebutan adalah kereta Sri Tanjung dengan harga 88 ribu. Selagi stok masih ada, baiknya dibeli dulu. Soalnya Sri Tanjung ini jadi primadona kalangan mahasiswa medioker seperti saya.
Saya langsung beli tiket PP. Alasannya biar nggak kehabisan tiket termurah rute Jogja-Surabaya dan sebaliknya. Perjalanan Jogja-Surabaya dan sebaliknya memakan waktu kurang lebih 5 jam. Sungguh waktu yang nggak sebentar untuk hanya duduk diam di kursi tegak berdempet dengan 5 orang lainnya. Kunci kenyamanan perjalanan ini jelas bukan di kursi, tapi di teman duduk yang enak diajak ngobrol atau cerita.
Perjalanan Jogja-Surabaya masih aman. Saya duduk bersebelahan dengan pasutri yang baru punya anak usia 6 bulan. Pasutrinya terbuka dan enak diajak ngobrol. Anaknya juga lucu, jadi seru. Sepanjang perjalan ya ngobrol dan main.
Nah, yang nggak nyaman justru ketika saya balik dari Surabaya ke Jogja. Sialnya saya duduk sama dosen narsis yang yapping pamer sepanjang jalan. Perjalanan 5 jam di Kereta Sri Tanjung jadi berasa 50 jam. Kuping jadi panas dengerin bacot pamer nggak pentingnya.
Pamer Almamater S2-nya
Yapping orang si paling dosen ini membuka bab narsisnya dengan membahas jaket yang dipakai, jaket IPB. Iyaa, tau yang lulusan IPB. Mas dosen (masih muda) ini mendadak nanya kesibukan saya dan penumpang lain yang duduk bersama di kursi tegak Sri Tanjung. Tanpa diminta, beliau langsung yapping panjang kalau dirinya lulusan UNS dan IPB sambil menepuk bangga logo di jaketnya.
Nggak berhenti di situ, mas-mas si paling dosen ini juga cerita kalau masuk IPB gampang. Susahnya itu cara keluarnya. Ujiannya ketat dan harus punya indeks Sinta dan Scopus. Anjaay. Siap Pak Dosen.
Pamer uang 60 juta, tapi naik Sri Tanjung?
Saya dan penumpang yang sekursi merespons sekadarnya. Biasa saja. Saya pun hanya nunduk diam menahan kesal karena yapping pamernya. Beberapa waktu, momen hening sesaat.
Seperti nggak bisa melihat suasan hening, tiba-tiba si mas dosen ini nanya di antara kami ada yang pengajar atau tidak. Ya kami nggak ada yang nyaut. Soalnya kami semua kebetulan mahasiswa. Lalu, tanpa ditanya, si mas dosen ini bilang kalau dirinya dosen. Ada satu penumpang yang masih maba agak kaget. Mungkin di benaknya heran, bisa ya satu kereta sama dosen.
Dipancing sedikit, Mas dosen yapping ini nyerocos hebat tentang dunia perdosenan. Fyi, beliau dosen swasta. Katanya kalau dosen swasta duitnya gede. Banyak ceperannya. Belum proyek-proyek yang budgetnya puluhan juta.
Si mas dosen ini juga cerita kalau hari itu baru pulang dari ngabisin duit sisa proyek. Soalnya baru dapet proyek pengabdian senilai 60 juta. Lantas, saya bingung, mosok uang proyek 60 juta naiknya kereta Sri Tanjung yang ekonomi. Gengsi dikit lah. Minimal eksekutif kek. Masak ekonomi, Sri Tanjung pula yang terkenal kursi tegak yang nggak nyaman.
Pamer keilmuan
Nggak berhenti di situ. Ketika penumpang lain hening dan berusaha tidur, beliau yapping lagi. Tiba-tiba si mas dosen ini ngasih pertanyaan berdasar keilmuannya. “Coba, kalau harga gula turun, kira-kira permintaan akan teh bakal naik tidak?”. Aneh nggak sih tanpa konteks tiba-tiba nanya begituan untuk memecahkan keheningan suasana?
Kami sebagai penumpang yang sudah letih mah diem bae. Kami kira dia pengin ngelawak sendiri. Ujungnya, dia jawab sendiri sambil berbusa dan berasa manusia paling pintar di gerbong Ekonomi 2 kereta Sri Tanjung malam itu.
Lalu, untuk menimpali saya coba pancing agak satire. Saya nanya, “gimana pendapat jenengan sebagai dosen ngeliat orang yang banyak omong, tapi sebenarnya nggak ngerti apa yang diomongin. Gaya doang lah?”. Si mas dosen langsung semangat mendengar pertanyaan itu, karena merasa dirangsang buat yapping.
Seperti yang saya duga, jawabannya general dan klise. Katanya, “ya kalian kalau pernah denger istilah tong kosong nyaring bunyinya, ya itu”. Lah, istilah itu mah anak SD juga sudah tau. Masak sekelas dosen jawabannya gitu doang. Sisanya malah ngawur ke mana-mana bahas hal nggak penting. Dahlah, kacau.
Sudah naik Sri Tanjung kursi tegak, duduk berjejer berenam, eh ketambahan harus dengerin yapping dosen sok asik yang isi omongannya nggak ada yang penting. Makin ambyar deh perjalananku. Barangkali, itulah tantangan terberat saya selama naik kereta Sri Tanjung kursi tegak; duduk dengan orang sok asik yang bikin perjalanan jadi nggak nikmat. Secara fisik nggak nikmat, secara sosial pun kacau. Hadeeeh.
Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Selalu Kangen Naik Kereta Api Sri Tanjung Zaman Dulu yang Setiap Gerbongnya Berisi Kekacauan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














