Setelah saya merantau 3.5 tahun di luar negeri, kali inilah di tahun 2026 saya baru mencoba naik kereta Whoosh, yang merupakan proyek kebanggaaan pemerintah dan kontroversial. Mula-mula saya skeptis dengan kendaraan ini, karena saya merasa tanggung hanya dibuat dari Jakarta ke Bandung. Stasiunnya pun tidak di pusat kota. Plus, yang paling penting, mahal.
Saya sempat ragu, apa ya mungkin kereta ini laku, padahal biaya proyek ini amat besar. Tapi jelas, itu bukan urusan saya.
Februari lalu, saya akhirnya mencoba kereta Whoosh bersama Bapak dan Ibu saya, pulang-pergi ke Bandung. Saya datang ke Stasiun Halim sekitar jam 9 pagi karena sudah booking tiket dari situs travel online untuk keberangkatan jam 10 pagi menuju Stasiun Padalarang. Ketika saya hadir di Stasiun Halim, saya takjub melihatnya stasiun ini megah dan besar seperti terminal bandara.
Fasilitas di Stasiun ini juga sangat lengkap. Ada minimarket serta banyak pilihan restoran dan kafe. Stasiun ini juga dilengkapi integrasi transportasi umum seperti LRT Jabodebek dan Transjakarta. Toilet dan musala pun juga ada dan bersih. Saya juga melihat papan informasi keberangkatan pun jelas terlihat dengan baik. Saya juga melihat petunjuk yang ada di stasiun cukup lengkap jadi tidak membingungkan penumpang.
Kembali ke Whoosh. Hari itu stasiun amat ramai, tapi saya tidak mengira bahwa yang di situ adalah penumpang kereta Whoosh. Lagi-lagi ya, karena, mahal. Tapi saya salah, ternyata peminat kereta ini cukup bawah.
Saya naik ke lantai dua Stasiun Halim, sesuai dengan petunjuk di papan. Setelah petugas keamanan mengecek barang bawaan, barulah saya bisa masuk ruang tunggu. Tak lama kemudian, sekitar 15 menit, kereta datang.
BACA JUGA: Proyek Kereta Cepat Whoosh Terlalu Eksklusif, Cuman bikin KAI dan Rakyat Menderita
Whoosh lebih baik ketimbang kereta cepat Taiwan
Kereta cepat berangkat tepat waktu sesuai jadwal pukul 10:00, kemudian melesat cepat melewati jalur yang bersampingan dengan jalan tol Jakarta-Cikampek kemudian berbelok ke arah Selatan melewati Purwakarta dengan kecepatan hampir penuh sebesar 346 km/jam.
Kereta Whoosh tiba di Stasiun Padalarang pukul 10:30, sungguh cepat hanya 30 menit sampai di tujuan. Akan tetapi, saya dan keluarga harus melanjutkan perjalanan dengan KA feeder dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung sekitar 18 menit perjalanan dan tiba hampir jam 11:00.
Jujur saja, saya kagum dengan mengendarai Whoosh sangat cepat dan efektif ke Bandung daripada dengan kendaraan pribadi bisa memakan waktu lebih dari 3 jam. Meski mahal dan kontroversial, bagi saya, okelah kereta ini.
Jika dibandingkan dengan negara yang saya tinggal dahulu, yaitu Taiwan, keretanya disebut THSR (Taiwan High Speed Rail), kereta Whoosh masih lebih unggul. Dari segi kecepatan, Whoosh menang karena THSR hanya menyentuh 300 km/jam, sedangkan Whoosh mencapai 350 km/jam. kelas penumpang pun hanya ada dua, bukan tiga seperti Whoosh. Tapi perkara jarak tempuh, THSR menepuk dada keras-keras karena mencapai 350 kilometer (Taipei-Kaohsiung), sedangkan Whoosh hanya 142 km, tak sampai separuhnya. Integrasi THSR juga lebih baik karena lebih ada 3 stasiun yang nyambung ke kereta cepatnya.
Bangga dengan Indonesia
Untuk kursi di kelas ekonomi juga memiliki susunan yang sama ,yaitu 3-2. Tetapi seinget saya di kereta cepat Taiwan tidak ada gerbong restorasi seperti ada gerai indomaret di Whoosh. Namun, ada sebuah vending machine di dalam gerbong tertentu, serta terdapat petugas keliling menjual makanan dan minuman dengan gerobak dorong.
Kemudian saat kita memasuki kereta cepat jika di Taiwan tidak disambut oleh petugas dan tidak ada sistem boarding. Berbeda dengan Indonesia yang terdapat petugas yang ramah dalam menyambut penumpang, jadi memberi kesan suasana hangat sebelum memulai perjalanan.
Lama perjalanan jika dibandingkan dengan yang ada di Taiwan, untuk rute Halim ke Padalarang bisa dikomparasi dengan rute kota Taipei ke Miaoli dengan jarak 100-105 km. Akan tetapi waktu bisa lebih lama sekitar 40 menit. Tapi, untuk lama perjalanan dengan waktu 30 menit jika di Taiwan, setara dengan rute Taipei ke Hsinchu yang jaraknya lebih pendek dari Taipei ke Miaoli.
Sebagai orang Indonesia, saya bangga dengan kereta Whoosh, yang canggih serta efisien, tidak kalah saing dengan negara (yang lebih maju) seperti Taiwan. Meski belum memiliki rute panjang, tetapi sudah amat membantu. Meski stasiun tidak berada di pusat kota, tapi tetap efektif.
Saya yakin kereta Whoosh akan makin dinikmati, apalagi jika rutenya diperpanjang. Mungkin saja, siapa tahu kan?
Penulis: Yudhistira Adityawardhana
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Dari Bogor ke Bandung Naik Whoosh Adalah Hal Terbodoh dalam Hidup yang Pernah Saya Lakukan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.














