Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pengalaman Menjalani Sistem Kasta di Keluarga Jawa yang Terlihat Absurd

Mohammad Maulana Iqbal oleh Mohammad Maulana Iqbal
27 Januari 2021
A A
Pengalaman Menjalani Sistem Kasta di Keluarga Jawa yang Terlihat Absurd terminal mojok.co

Pengalaman Menjalani Sistem Kasta di Keluarga Jawa yang Terlihat Absurd terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Sistem kasta di keluarga Jawa ini saya alami khususnya untuk masyarakat di daerah saya. Tepatnya daerah pinggiran kabupaten Gresik yang bertetangga langsung dengan Lamongan dan Mojokerto yang sama-sama pinggiran.

Sebelumnya perlu dipahami dengan akal yang sehat, jasmani yang kuat dan rohani yang tenang, mengenai sistem kasta yang saya maksud. Pasalnya, rumus sistem kasta ini agak jelimet, mbulet, ruwet nggak karuan.

Jadi begini, untuk sepupu saya yang merupakan anak dari kakak orang tua (paman maupun bibi) saya maka akan dipanggil mas, cacak, mbak, atau yu’, tergantung jenis kelamin dan kelegowoan hati untuk memanggilnya. Untuk sepupu ini tergolong dalam kasta tinggi di atas saya, pasalnya orang tuanya merupakan kakak dari orang tua saya.

Sedangkan untuk sepupu saya yang merupakan anak dari adik orang tua (paman maupun bibi juga) saya, maka akan dipanggil adik atau namanya langsung. Sepupu ini tergolong dalam kasta bawah, pasalnya orang tuanya merupakan adik dari orang tua saya.

Perlu diketahui bahwa hukum budaya ini bersifat paten, nggak bisa diganggu gugat, apalagi digugat dan dibawa ke pengadilan. Justru, jika melanggar, mau nggak mau akan menerima hukumannya, yakni mendapatkan omelan dan petuah dari orang tua.

Jadi, meskipun usia sepupu dari kakak orang tua saya lebih muda dibandingkan saya, tapi ia tetap saja harus dipanggil mas, cacak, mbak, atau yu’. Begitupun dengan sepupu dari adik orang tua saya yang meskipun memiliki usia lebih tua dibandingkan saya, maka tetap saja harus dipanggil adik atau namanya.

Jika kalian agak bingung, cobalah untuk membaca kembali dan memahami rumusnya secara alon-alon pokok kelakon. Dan jika masih tetap bingung, istirahatlah, mungkin Anda perlu tidur dan sesekali refreshing atas ke-absurd-an sistem kasta ini.

Menurut saya, mungkin nggak menjadi masalah ketika antara kasta dan usia orangnya relevan. Jika kasta tinggi dan usianya tua, untuk memanggil dengan panggilan mas, cacak, mbak, atau yu’ menjadi nggak masalah, bahkan itu etis. Begitupun dengan orang yang tergolong dalam kasta di bawah yang memiliki usia lebih muda, maka memanggil dengan panggilan adik atau namanya langsung tentu sebagai suatu kewajaran.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Nah, menjadi nggak wajar ketika antara kasta dan usianya nggak relevan. Seperti panggilan “mbak” kepada sepupu perempuan saya yang merupakan anak dari kakak ibu saya. Padahal asal kalian tau bahwa sepupu perempuan saya ini masih berusia SD. Saya memanggilnya “mbak” karena tuntutan kasta yang dimilikinya tergolong lebih tinggi daripada saya.

Lebih nggak wajar lagi pada sepupu laki-laki saya yang sudah berusia tua, bahkan sudah punya anak satu yang kebetulan berasal dari adik bapak saya. Jika menurut rumus diatas, saya seharusnya memanggil dia “adik”, sebab kastanya di bawah saya.

Namun, saya lebih memilih memanggil namanya langsung. Pasalnya, saya agak risih memanggil dia adik. Dia sudah cukup tua dan telah memiliki anak. Sedangkan saya sendiri masih jauh lebih muda daripada dia. Tentu nggak lucu dong, ketika saya memanggil orang yang lebih tua jauh dibandingkan saya dengan sebutan “adik”? Apa kata dunia, jika tahu keanehan sistem kasta ini?

Saya sendiri agak risih jika memanggil atau dipanggil dengan sebutan yang terbolak-balik dan sama sekali nggak sesuai dengan usianya ini. Apalagi ketika nongkrong di warung kopi bersama sepupu. Ketika saya memanggil atau dipanggil oleh sepupu saya, pada saat itu juga orang sekitar mulai melongo terheran-heran dengan panggilan kami. Pasalnya antara tampang wajah dengan panggilannya, nggak cocok blas gadas.

Selain perilaku tersebut, ada lagi yang lebih absurd dalam sistem kasta Jawa yang dianut oleh keluarga saya. Hal tersebut mengenai etika bersalaman yang harus mencium tangan orang yang kastanya lebih tinggi.

Coba bayangin saja, ketika kastanya lebih tinggi daripada saya, tapi usianya lebih muda dibandingkan saya, bahkan masih SD, maka saya harus mencium tangannya ketika bersalaman. Bukankah itu cukup aneh? Bahkan bisa jadi saya dianggap gangguan jiwa sama orang lain yang nggak tahu etika sistem kasta ini.

Begitupun sebaliknya, justru saya sangat risih ketika tangan saya dicium sebagai etika bersalaman oleh sepupu saya yang sudah memiliki anak tadi yang kebetulan tergolong dalam kasta di bawah saya. Oleh karena itu, terkadang saya menarik tangan saya ketika hendak dicium olehnya karena kerisihan saya sendiri.

Sungguh sebuah keanehan hakiki bagi saya, perilaku cium-mencium tangan dalam bersalaman tangan ini mungkin juga nggak wajar bagi masyarakat umum. Namun, apalah daya jika itu sebuah budaya? Mau nggak mau ya harus melestarikannya.

Meskipun sistem kasta keluarga Jawa ini terlihat absurd, aneh, nggak wajar blas gadas, tapi di sini saya menangkap nilai yang ingin disampaikannya. Bahwa budaya Jawa sangat memegang teguh nilai untuk menghormati orang yang dianggap lebih tinggi derajatnya.

Oleh karena itu, mereka yang dianggap tinggi derajatnya akan dipanggil dengan sebutan khusus dan diberlakukan secara khusus pula seperti etika bersalaman dengan mencium tangannya.

BACA JUGA Drama Bahasa Jawa dan Madura di Keluarga Besar Saya dan tulisan Mohammad Maulana Iqbal lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2021 oleh

Tags: keluarga jawaSistem Kasta
Mohammad Maulana Iqbal

Mohammad Maulana Iqbal

Terkadang sedikit halu.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
Gambar Masjid Kauman Kebumen yang terletak di sisi barat alun-alun kebumen - Mojok.co

5 Stereotip Kebumen yang Sebenarnya Nggak Masuk Akal, tapi Terlanjur Dipercaya Banyak Orang

31 Januari 2026
Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

Tiga Bulan yang Suram di Bangunjiwo Bantul, Bikin Pekerja Bantul-Sleman PP Menderita!

1 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
Di Sumenep, Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.