Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Pengalaman Masuk Grup Kejawen: dari Membahas Kundalini hingga Membaca Pertanda Datangnya Pandemi

Muh. Fadhil Nurdiansyah oleh Muh. Fadhil Nurdiansyah
2 Agustus 2021
A A
Pengalaman Masuk Grup Kejawen dari Membahas Kundalini hingga Membaca Pertanda Datangnya Pandemi terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Ragam budaya yang terdapat di Nusantara rupanya berdampak pula pada keragaman kepercayaan di dalamnya. Berbagai kepercayaan kuno pun sejatinya belum hilang sepenuhnya, karena kecenderungan masyarakat Indonesia yang secara tradisi masih menjaga nilai-nilai dari nenek moyang mereka. Meskipun menghadapi tantangan perubahan zaman yang begitu cepat, mau tidak mau para penganut kepercayaan pun harus menyesuaikan dengan kemajuan zaman, seperti halnya membuat grup WhatsApp, wqwqwq.

Seperti yang saya alami sekitar dua tahun yang lalu, saat tergabung dengan grup WhatsApp yang saya anggap diisi oleh para penganut kejawen. Awal mulanya karena saat menjadi mahasiswa baru alias maba, saya sempat tertarik dengan hal-hal yang berbau mistik atau mitologis. Yah, meski sebenarnya saya adalah orang yang penakut, wqwqwq.

Berbekal dari ketertarikan itu, akhirnya saya mengikuti beberapa akun Twitter yang membahas tentang hal-hal kejawen. Lha ndilalah, akun orang yang saya ikuti itu punya grup WhatsApp. Lantaran tertarik, akhirnya saya pun mengirim pesan pada blio agar dimasukkan dalam grupnya. Tak butuh waktu lama hingga blio membalas pesan saya dan saya pun masuk dalam grup tersebut.

Kesan awal saat saya masuk grup tersebut sebenarnya biasa saja selayaknya grup WhatsApp mata kuliah Islam Budaya Jawa. Mungkin karena saya sudah cukup familier dengan bahasan-bahasan kejawen yang sudah saya ikuti di beberapa buku dan media sosial. Seperti spiritualisme Jawa pada umumya, para anggota grup ini pun mayoritas mengamini adanya hal-hal mitologis yang kerap dianggap oleh banyak orang ngadi-ngadi, seperti keberadaan kayangan atau kepercayaan yang menganggap para tokoh pewayangan itu nyata adanya.

Dinamika sosial yang ada di dalam grup pun beragam, ada yang beragama Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan agama-agama lain. Mereka semua terlihat akur dan saling menghormati kepercayaan masing-masing anggota grup, inilah harus yang harus kita contoh bersama, Mylov.

Uniknya, dalam grup ini terdapat seseorang yang seakan bertugas untuk menjadi guru spiritual bagi para anggota yang tergabung di dalamnya. Sistem komunikasinya pun terkesan cair dan mengalir dalam setiap diskusinya. Ada beberapa hal yang sering dibahas dalam grup dan masih saya ingat hingga ini.

#1 Pernapasan kundalini

Kalau saya tidak salah ingat, kundalini ini adalah salah satu bentuk metode meditasi yang bertujuan untuk mengalirkan energi keseluruh tubuh atau bagian tertentu. Metode ini dianggap mampu melepas diri dari stres.

Terlepas dari dunia spiritualisme, sejauh ini Kundalini memang dilakukan. Contohnya saat saya menerima materi pernapasan teater, kundalini adalah pernapasan tingkat tertinggi setelah pernapasan leher, perut dan diafragma.

Baca Juga:

4 Siasat Bertahan di Grup WhatsApp Keluarga Besar 

Nasi Berkat Bungkus Daun Jati Terbaik, tapi Mulai Langka Tergerus Zaman

#2 Melihat keadaan ke depan melalui tanda-tanda alam

Bagi orang Jawa, mungkin tidak asing dengan kalimat “weruh sedurunge winarah” atau “tahu sebelum kejadian”. Nah, grup ini pun membahas gambaran kejadian apa yang akan terjadi melalui suatu pertanda. Tanda-tanda yang biasa digunakan adalah fenomena alam yang identik dengan langit—mungkin karena langit erat hubungannya dengan kayangan—seperti bentuk awan, kondisi langit, dan lain-lain.

Hal tersebut memang cukup masuk akal di benak saya. Karena tidak sedikit cerita tentang orang-orang sakti yang bisa memprediksi kejadian masa depan melalui ilmu perhitungan bintang atau biasa disebut ilmu falak (Astronomi) dan ilmu nujum (Astrologi). Sampai detik ini pun saya masih belum tahu tentang kepastian akan kebenarannya. Mungkinkah mereka time traveler?

#3 Penanggungan adalah Kahyangan Suralaya

Saya masih sangat ingat karena merasa bangga saat diberi tahu bahwa Gunung Penanggungan di Mojokerto adalah Kahyangan Suralaya dalam dunia spiritual. Memang Gunung Penanggungan ini sendiri memiliki berbagai cerita sakral. Ada yang menyebutkan kalau Gunung Penanggungan adalah puncak dari Gunung Semeru, ada cerita juga kalau gunung yang dulunya bernawa Pawitra ini adalah bagian dari Gunung Mahameru di India yang dijatuhkan para dewa di pulau Jawa.

#4 Pagelaran Nusantara

Pagelaran Nusantara, hal ini mungkin akan kalian sangka seperti pagelaran seni budaya atau festival daerah pada umumnya. Namun, sebenarnya maksud dari Pagelaran Nusantara ini adalah masa di mana alam akan menyeleksi para penduduk bumi dan hanya memilih para makhluk yang sesuai standar dari penyelenggara Pagelaran Nusantara itu sendiri, yakni alam semesta.

Mereka berbincang tentang pertanda adanya seleksi alam tersebut berdasarkan fenomena-fenomena alam dan juga didukung oleh kegiatan spiritual yang dilakukan oleh beberapa anggota grup tersebut.

Saya yang saat itu masih remaja dan dalam masa-masa kelabilan pun mengalami konflik batin hebat. Berbagai pertanyaan muncul dalam hati saya, “Mosok temenan iki?” (Masa beneran, sih?), “Halah, paling yo bujuk!” (Halah, mungkin hanya bohongan!), “Lah, lanek temenan yaopo?” (Lah, kalau beneran gimana?), serta berbagai kegelisahan lain yang tidak mungkin saya tuliskan semuanya di sini.

Namun di sisi lain, orang yang dianggap sebagai guru itu tiada henti mengingatkan kepada semua agar terus memperbaiki kualitas diri agar berhasil lolos dari Pagelaran Nusantara. Hal itu bagi saya adalah hal yang positif, dalam artian agar kita selalu sadar dengan dalamnya makna kehidupan supaya tidak sia-sia saat kita pada akhirnya diambil oleh Yang Kuasa. Tetap saja, pikiran positif tadi belum cukup kuat untuk meyakinkan diri sendiri agar tetap bertahan dalam grup kejawen tersebut. Pada akhirnya, karena konflik batin yang tak kunjung padam, saya pun memutuskan untuk keluar dari grup tersebut.

Ternyata, oh, ternyata tak berselang lama—sekitar beberapa minggu—dari waktu saya keluar dari grup kejawen, virus Covid-19 pun hadir sebagai bencana yang meluluhlantakkan dunia dalan waktu singkat.

Terlepas dari kebenarannya, semua itu mungkin saja memang benar dan mungkin saja bisa salah. Karena kebenaran yang absolut itu tidak ada, kalaupun ada hanya milik Tuhan semata. Kita sebagai manusia dan hamba hanya bisa mengambil manfaat dari setiap hal dan sebisa mungkin menghindari hal yang berakibat buruk bagi kita sendiri.

BACA JUGA Mengenal Rabu Wekasan, Hari Penuh Sial dalam Masyarakat Jawa dan tulisan Muh. Fadhil Nurdiansyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2021 oleh

Tags: grup whatsappkejawenkepercayaanNusantara Terminal
Muh. Fadhil Nurdiansyah

Muh. Fadhil Nurdiansyah

Seorang Pria Kecil yang Mencari Kebahagiaan

ArtikelTerkait

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

14 November 2023
stereotip anak laut pantai sijile baluran mojok

Pantai Sijile, Pantai Indah yang Harus Dikunjungi kalau Kalian Main ke Situbondo

2 Agustus 2021
Grup WhatsApp Keluarga Besar Adalah Kawah Candradimuka Sebelum Berdebat di Sosial  Media

Dilema Privasi Saat Ingin Keluar dari Grup WhatsApp

7 November 2020
Mitos Masa Kecil yang Dianggap Aneh padahal Bisa Dibuktikan secara Logika terminal mojok

Mitos-mitos Masa Kecil yang Dianggap Aneh padahal Bisa Dibuktikan secara Logis

8 Agustus 2021
Nasib Jadi Keturunan Arab yang Sering Disalahpahami Banyak Orang terminal mojok

Nasib Jadi Keturunan Arab yang Sering Disalahpahami Banyak Orang

13 Juni 2021
grup whatsApp

Alasan Kenapa Gabung Grup WhatsApp itu Penting

15 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.