Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta

Pengalaman buruk menggunakan layanan BPJS di RS UNAIR: antre lama, sistem tidak jelas, beda dengan pelayanan swasta (Pixabay.com)

Terbiasa di rumah sakit swasta, saya kaget dengan pelayanan sebagai pasien BPJS di RS UNAIR. Bener-bener kaget

Ada banyak sekali berita maupun keluhan random di media sosial tentang buruknya pelayanan kesehatan dengan fasilitas BPJS. Sialnya, minggu lalu saya mengalami sendiri betapa menjengkelkannya menjadi pasien BPJS.

Singkat cerita, saya mengalami sakit gigi (gigi berlubang) dan berobat di klinik (faskes tingkat satu). Lantaran alat di klinik tersebut kurang lengkap, dokter memberikan rujukan agar saya bisa berobat ke RS UNAIR (faskes tingkat kedua) yang alatnya lebih lengkap.

Sebagai orang yang baru pertama kali menggunakan layanan BPJS, saya sempat bertanya ke petugas klinik tentang tata cara menggunakan layanan BPJS di rumah sakit (faskes kedua), dan disarankan untuk mengunduh aplikasi mobile JKN untuk memudahkan proses pendaftaran antrean dan informasi seputar BPJS.

RS UNAIR bikin kaget

Setelah download aplikasi dan selesai mendaftarkan diri, saya menerima surat rujukan dari klinik (faskes satu) ke RS UNAIR (faskes dua). Lantaran gigi saya mulai terasa nyeri, di hari yang sama saya langsung tancap gas dari klinik menuju RS UNAIR dengan harapan bisa langsung ditangani.

Namun, betapa terkejutnya saya saat sudah datang ke RS UNAIR dan melakukan proses administrasi di mobil JKN ternyata poli gigi yang saya tuju sudah tutup. Padahal, di aplikasi mobile JKN tulisannya jam operasional sampai pukul 20.00 WIB. Saya datang ke RS UNAIR pukul 18.00 WIB, tapi sudah tutup. Jam operasional di aplikasi dan di rumah sakit ternyata tidak sama.

Sebagai orang yang terbiasa berobat dengan asuransi umum di rumah sakit swasta (Siloam) yang proses penanganannya sat set, anti ribet, dan terkoordinasi dengan baik. Sejujurnya saya cukup kesal dengan drama jam operasional yang tidak sama tersebut dan ingin menghentikan ide berobat menggunakan layanan BPJS yang iurannya dibayar perusahaan tempat saya bekerja.

Namun, lantaran petugas RS UNAIR menjelaskan kalau saya bisa datang kembali besok pagi dan tidak perlu mendaftar lagi karena sudah didaftarkan melalui aplikasi JKN. Saya pun berusaha sabar menunggu hingga esok hari.

Drama karut marut antrean dokter dan waktu tunggu yang lama

Keesokan harinya, saya datang ke RS UNAIR pukul 07.30 WIB. Kemudian melakukan check-in di RS UNAIR dengan cara menginput digit angka kode booking di aplikasi mobile JKN ke sistem yang disediakan RS UNAIR. Setelah input, saya mendapatkan semacam print out berisi data pribadi, tanggal, poli yang dituju, dan nomor antrean dokter IM02.

Proses administrasi tersebut memakan waktu kurang lebih 30 menit. Setelahnya, saya diminta ke poli gigi yang berada di lantai dua dan menunggu panggilan ke ruangan dokter. Kebetulan di depan poli gigi ada layar LCD yang memberi informasi tentang nomor antrean yang sedang berjalan. Di layar tersebut tertulis IM01, saya berfikir setelahnya pasti nama saya dipanggil (IM02).

Namun, setelah menunggu kurang lebih satu jam, nama saya/nomor antrean dokter saya tidak kunjung dipanggil. Anehnya yang dipanggil justru nomor antrean IM04. Merasa nomor antrean saya diloncati, saya datang ke petugas RS UNAIR dan bertanya perihal nomor saya yang diloncati. Dan, betapa terkejutnya saya saat mbak petugas dengan wajah datarnya berkata “Nomor antreannya tidak urut berdasarkan print out yang pasien pegang, namun mengikuti jam kedatangan  di sistem RS UNAIR”.

Sederhananya, nomornya acak, bisa saja yang dipanggil setelah IM01 itu IM07,08 dan seterusnya tergantung jam chek-in pasien yang bersangkutan. Sungguh semrawut. Kalau memang nomor antrean di print out tidak berfungsi, harusnya diberi nomor antrean lagi supaya pengunjung tahu dapat nomor antrean berapa.

Kalau seperti ini prosesnya, pasien tidak tahu nomor antrean yang sebenarnya berapa. Jadi, saya harus menunggu tanpa kepastian di ruang tunggu dan tidak bisa memperkirakan lama menunggunya. Sehingga saya mau cari makan pun tidak berani, takut saat makan tiba-tiba nomor antrean saya dipanggil.

Tetap saya menunggu di RS UNAIR

Meskipun sudah mulai jengkel, saya tetap menunggu kembali. Mau bagaimana lagi? Waktu terus berlalu, saya terus menunggu. Satu jam berlalu, dua jam berlalu, tiga jam berlalu, dan saya tetap masih belum dipanggil juga. Di tahap ini, saya sudah mulai resah dan emosi. Apalagi, saat check di aplikasi mobile JKN, ada tulisan bahwa saya sudah selesai ditangani.

Dengan suara bergetar menahan emosi, saya kembali bertanya ke petugas di RS UNAIR. Saya sebenarnya antrean ke berapa dan kenapa di aplikasi mobile JKN menyebutkan jika saya sudah selesai ditangani padahal faktanya saya belum dilayani.

Anda tahu apa jawaban petugasnya? Jawabannya adalah, “Memang begitu, Kak, tidak sama antara di sistem dan RS UNAIR. Sabar dulu”.

Masalahnya saya sudah bersabar mengantre dari jam 07.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB? Masa menunggu selama 4 jam masih disebut tidak sabar, tantrum lah saya di depan petugasnya. Dengan nada agak tinggi saya berkata “Ini sebenarnya saya boleh berobat dengan BPJS atau tidak, sih?”

Setelah drama bolak-balik bertanya ke petugas tersebut, akhirnya nomor antrean saya dipanggil pada pukul 11.45 WIB.

Bayangkan saja, jika ada pasien dengan penyakit jantung dan diminta menunggu selama lebih dari 4 jam, apa nggak mati duluan sebelum sempat diperiksa?

Hanya karena BPJS, apa saya harus semenderita ini?

Jujur saja, hari itu saya merasa sangat kesal, apalagi saat keluhan saya hanya ditanggapi dengan kalimat sabar dan perlu proses oleh petugas rumah sakit. Seolah-olah ingin menegaskan kalau pasien BPJS harus sabar dan menerima proses yang panjang lantaran biayanya ditanggung negara. Padahal, BPJS tidak benar-benar ditanggung negara, ha wong perusahaan tempat saya bekerja membayar iuran bulanannya.

Selain itu, sebagai warga negara yang setiap bulan bayar pajak, gaji pun dipotong pajak, sudah selayaknya kita  menginginkan pelayanan kesehatan yang nyaman. Ya masa semua hal yang diurus pemerintah tidak ada satu pun yang bisa dibanggakan, termasuk layanan kesehatan. Keterlaluan!

Penulis: Tiara Uci
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Perubahan Sistem BPJS: ‘Antara Butuh-Tak Butuh dan Sepakat Nggak Sepakat’

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version