Pengalaman Berpuasa dengan Teman Nasrani

agama

agama

Saat ini, pada bulan Ramadan, sejujurnya saya bingung jika masih ada orang yang suka marah-marah ketika tahu ada warung yang masih tetap buka. Saya selalu berpikir, “Masa sih, saat berpuasa, iman mereka bisa goyah hanya karena melihat warung buka dengan segala hidangan yang ada?”

Saya seorang muslim dan insyaAllah berpuasa sebagaimana diwajibkan, namun saya tidak pernah mempermasalahkan atau merisaukan soal warung yang memang masih buka dan melayani pelanggan yang datang untuk makan siang. Entah pelanggan ini memang berpuasa juga atau sedang membatalkan puasa.

Soal menghargai—iya memang. Saya paham betul soal itu. Banyak warung makan pun yang menutup tempat mereka dengan tirai. Ditutup penuh atau hanya sebagian saja, biasanya bagian atas dari kepala hingga batas meja makan tempat di mana piring ditaruh (sekitar perut). Sebab itu, banyak terlihat kaki yang seakan bergelantungan, tapi tanpa anggota badan bagian atas. Hiiii serem~

Menyikapi persoalan ini, saya jadi teringat kisah sewaktu kuliah, di mana saya menjadi anak kosan yang profesional saat berpuasa. Kerjaannya leyeh-leyeh, tiduran, nonton TV, tidur lagi sampai sekitar asar, barulah setelahnya bersemangat untuk mencari menu berbuka puasa. Waktu itu saya ngekos berdua dengan teman saya yang beragama Nasrani dan tentu saja dia tidak berpuasa.

Setiap jam makan siang, dia selalu keluar kosan untuk makan. Biasanya dia membawa makanan ke kosan, dibungkus. Namun, karena tahu saya sedang puasa, dia selalu merasa tidak enak karena khawatir mengganggu puasa saya. Bahkan dia khawatir nantinya saya bisa jadi membatalkan puasa.

Saya selalu meyakinkan dan mempersilakan dia jika ingin makan dan minum di kosan selagi saya berpuasa. Toh, saya tidak akan membatalkan puasa saya karena hanya melihat makanan terpampang persis di hadapan saya. Pun, saya tidak merasa iman saya terganggu hanya karena hal tersebut. Memang dasarnya ingin menghargai, saling menghargai, dia tetap bersikeras tidak mau makan di kosan.

Pernah suatu ketika, saya minta dia mengantar saya jalan-jalan di hari yang terik, masih dalam suasana puasa. Dia kehausan dan seperti biasa saya selalu mempersilakan dia untuk sekadar beli minum agar tidak dehidrasi. Pun jawaban dia selalu sama, “Nggak enak, ah, kan lagi puasa. Nanti khawatir menggoda yang lain juga.” Sekali lagi saya selalu meyakinkan jika saya tidak akan tergoda untuk membatalkan puasa karena itu.

Setiap sekitar jam 3 dini hari, tidak jarang dia membangunkan saya untuk santap sahur sambil menonton acara TV yang ada. Jika sedang mengantuk, dia akan lanjut tidur. Namun jika tidak, dia akan lanjut sambil berdoa. Setahu saya, teman saya ini selalu berdoa dan merenung tiap malam atau dini hari, agar lebih khidmat dan makin terasa dekat dengan Tuhan, katanya.

Sebelum waktunya berbuka, biasanya kami selalu keluar kosan bersama, saya mencari menu berbuka, dia beli hidangan untuk dimakan bersama saat berbuka puasa dengan saya. Makanan yang biasa dia beli adalah nasi padang dengan ayam bakar dan kuah yang lengkap. Tidak lupa dia juga membeli es jeruk. Sesederhana itu cara kami yang berbeda agama untuk saling menghargai dan memahami satu sama lain dalam hal ibadah.

Buat saya pribadi, memang, saling menghargai dan memahami menjadi kunci dalam kasus-kasus yang menurut saya seringkali terjadi dan dipermasalahkan. Saudara kita yang beragama lain tetap butuh makan dan minum selagi bulan Ramadan. Kita, sebagai umat muslim juga tetap harus menghargai kebutuhan akan itu.

Toh, mereka juga tidak dengan sengaja menawarkan makan untuk jadi bahan candaan atau menggoda kita yang sedang berpuasa sampai dengan puasa kita batal. Biasanya pun akan tetap makan di tempat yang tertutup atau di lain tempat, tidak secara gamblang terlihat sedang makan.

Lagipula, buat apa sih ribut melulu soal warung yang buka saat puasa? Pada akhirnya, kita harus kuat menahan lapar dan haus, buat saya itu salah satu anjuran dan “level dasar” bagi yang berpuasa. Sewaktu SD saya masih berkutat dengan menahan godaan itu. Kini, banyak yang lebih besar godaannya, menahan untuk tidak julid atau ghibah, juga hawa nafsu, termasuk amarah. Lalu, jika sambil marah-marah dan berperilaku vandal saat grebek warung yang buka di jam berpuasa, bukankah itu termasuk tidak dapat menahan dan melawan nafsu?

Exit mobile version