Terus terang saja, dulu saya termasuk orang yang agak sinis ketika mendengar ada pengajian berbayar. Dalam kepala saya pada waktu itu, kok bisa-bisanya pengajian tiketnya. Bahkan dulu ketika masih pacaran dengan istri saya, saya terbahak-bahak ketika ia menawari saya ikut pengajian Hanan Attaki.
Bukan saya tidak suka ustadnya, cuma bagi orang desa yang hampir selalu ada pengajian gratis, saya tidak menerima konsep pengajian berbayar. Bahkan saya pernah nyeletuk, “Kalau harus bayar, mending nonton konser sekalian.”
Iya, waktu itu saya benar-benar tidak paham kenapa konsep pengajian berbayar bisa laris. Kok ada saja orang yang mau datang, bahkan rela membeli tiket lebih dulu.
Namun, setelah berkali-kali mengikuti pelatihan, saya merasa yang berbayar memang lebih layak diikuti. Pun ketika akhirnya kembali mendengarkan pengajian gratisan di desa, saya merasa seperti mendengar angin lalu. Tidak ada struktur pembahasan yang jelas. Terasa ngambang.
Ini bukan cuma kesimpulan saya, beberapa yang ikut mendengarkan juga merasa demikian. Dari sana, saya kepikiran, jangan-jangan konsep pengajian berbayar memang paling layak diikuti.
Pembicara lebih fokus dan tidak ngomong ke mana-mana
Iya, dalam banyak pengajian gratis yang pernah saya ikuti, ceramah sering kali berjalan sangat bebas. Kadang pembicara memulai dari satu tema, lalu tiba-tiba melompat ke cerita lain, kemudian berbelok lagi ke topik berbeda.
Tidak selalu buruk memang. Kadang justru menghibur. Tapi sering juga membuat jamaah pulang dengan perasaan agak kosong. Ketika pulang dan ditanya, “Tadi bahas apa?” jawabannya tidak tahu. Tidak paham. Rasanya seperti habis mendengar banyak cerita, tapi inti pembahasannya sulit dirangkum.
Sebaliknya, dalam pengajian yang lebih terkonsep—yang biasanya memang berbayar—materinya terasa lebih rapi. Pembicara datang dengan persiapan. Ada alur pembahasan yang jelas. Kadang bahkan menggunakan slide presentasi atau materi visual.
Alhasil, pembahasannya lebih fokus. Tidak terlalu melebar ke mana-mana. Jamaah juga lebih mudah mengikuti dan bisa mengambil kesimpulan.
BACA JUGA: Fenomena Hijrah Fest dan Mewahnya Pengajian Bocah Remaja Masa Kini
Jamaah pengajian berbayar datang dengan niat
Hal lain yang saya perhatikan adalah sikap para peserta. Karena harus membeli tiket atau membayar biaya tertentu, orang yang datang biasanya memang berniat mengikuti pengajian dengan serius. Mereka tidak sekadar coba-coba.
Ini membuat suasana jadi berbeda. Orang-orang datang untuk mendengarkan, bukan sekadar hadir. Mereka memperhatikan pembicara, mencatat poin penting, atau benar-benar mencoba memahami isi ceramah.
Dalam kajian psikologis, ketika kita sudah mengeluarkan uang untuk sesuatu, kita cenderung lebih menghargainya. Hal ini juga berlaku dalam pengajian.
Aturan acara dalam pengajian berbayar lebih jelas
Karena diselenggarakan secara lebih profesional, biasanya ada aturan yang jelas selama acara berlangsung. Misalnya larangan merokok di area pengajian, aturan menjaga ketertiban, atau pembagian tempat duduk yang lebih rapi.
Hal-hal kecil seperti ini ternyata sangat berpengaruh pada kenyamanan. Tidak ada gangguan asap rokok, tidak ada orang yang keluar masuk sembarangan, dan suasana terasa lebih kondusif untuk mendengarkan.
Bagi orang yang ingin benar-benar fokus mengikuti kajian, kondisi seperti ini tentu jauh lebih membantu.
Tempatnya lebih nyaman
Ini mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya cukup penting. Pengajian yang berbayar biasanya diselenggarakan di tempat yang nyaman, seperti aula hotel, gedung pertemuan, atau ruang acara yang tertata dengan baik.
Kursinya nyaman. Sistem suaranya jelas. Kalau hujan, tidak perlu khawatir atapnya bocor.
Bandingkan dengan beberapa pengajian umum yang kadang digelar di tempat seadanya. Tidak jarang jamaah harus duduk berdesakan, kepanasan, atau bahkan kehujanan jika cuaca berubah. Dalam kondisi seperti itu, sulit rasanya benar-benar fokus mendengarkan materi.
Dengan beberapa pertimbangan di atas, saya sampai pada kesimpulan bahwa membayar tidak selalu berarti komersialisasi agama. Dalam konteks tertentu, biaya justru membuat sebuah acara menjadi lebih terkelola.
Pembicara lebih siap. Materi lebih terstruktur. Tempat lebih nyaman. Pesertanya pun datang dengan niat yang jelas. Dan yang paling terasa, karena kita sudah membayar, kita juga merasa “sayang” kalau tidak benar-benar memperhatikan. Artinya ekosistemnya jadi lebih fokus untuk mendengarkan.
Jadi kalau sekarang ada orang bertanya pendapat saya tentang pengajian berbayar, jawabannya sudah berubah. Saya tidak lagi terlalu sinis seperti dulu. Bukan berarti semua pengajian harus berbayar. Pengajian gratis tetap penting dan punya tempatnya sendiri.
Tapi sekarang saya paham, dalam kondisi tertentu, konsep pengajian berbayar memang masuk akal. Bahkan kadang justru membuat kita pulang dengan pemahaman yang lebih jelas daripada gratisan tapi pulang dengan keadaan bingung dan mempertanyakan tadi pengajiannya membahas apa, ya?
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.










