Saya sudah tinggal di Banten, tepatnya di Serang, selama setahun lebih, dan bukan hanya ‘numpang’ dengan status domisili saja, tetapi kami sudah menetap dan ganti KTP KK di sini. Saya juga masuk dalam kategori working class yang pernah bolak-balik Serang Jakarta selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya dipindahtugaskan ke Tangerang, yang sebenernya bolak-balik tiap hari juga.
Percayalah, kami-kami yang commute Serang Jakarta, Serang Tangerang, atau Serang Tangsel, udah capek duluan ketimbang mesti bikin content plan buat video TikTok atau narasi teks buat Threads. Lha bagaimana nggak capek, kalau mau naik KRL, untuk bisa masuk pabrik tepat waktu sebelum jam delapan pagi di Tanjung Priok, saya harus berangkat dari rumah di Serang jam 02.40.
Yak, kalian nggak salah baca, dan saya nggak salah tulis, saya berangkat dari Serang setiap pagi jam 02.40 via Raskasbitung. Saya harus sampai di Tanah Abang sekitar jam enam pagi, agar mendapatkan KRL arah Kampung Bandan yang sampai sebelum jam 07.00 karena KRL arah Tanjung Priok hanya ada setiap 30 menit. Kalau saya naik KRL ke Priok jam 07.30 ha wes genah telat, lost day, nilai tahunan dari HR jelek.
Ibu kota provinsi, tapi nggak ada KRL
Nggak ada KRL dari Serang ke Rangkas, atau ke Tangerang. Padahal, Serang itu ibu kota provinsi lho. Kok bisa nggak ada akses KRL yang mumpuni? Kalau masih kurang romantisasinya, saya tambah dengan detil lain bahwa setiap hari saya sampai kembali di rumah paling cepat pukul 20.00, itu kalau naik KRL. Segitu susahnya commute bagi warga Serang.
KRL dari Jakarta mentok hanya sampai stasiun kota Tangerang. Dan buat kalian yang nggak ngerti soal geografi, jarak dari rumah saya di Serang ke stasiun Tangerang itu 79 kilometer. Sementara jarak ke stasiun Rangkas juga nggak bisa dibilang dekat, 39 kilometer, separuhnya, sama aja!
Jadi, 39 kilometer itulah yang saya tempuh setiap hari mengendarai Supra X 125 yang sudah tidak muda lagi, sudah tujuh tahun lebih pemakaian.
Kereta lokal tidak begitu membantu warga Serang
Ada kereta lokal dari Rangkas ke Serang. Akan tetapi buat kalian yang sudah terbiasa commute pastilah tahu istilah ‘kereta lokal’ itu bukan buat kami kelas pekerja yang tiap hari dituntut mengajar clock in-clock out tepat waktu. Malahan kereta lokal ini jauh lebih cocok untuk para turis lokal yang ingin jauh-jauh dari ibu kota Jakarta, melawat ke pelabuhan Merak barang sehari dua hari saja. Intinya, menuju dan keluar Serang ya susah!
Public transportation semacam bus trans Jakarta saja baru ada berapa bulan belakangan. Rute atau trayeknya juga medioker, hanya dari terminal Pakupatan sampai kampus Untirta Sindangsari. Pokoknya tinggal di Serang itu nuansanya nggak jauh beda dengan kabupaten satelit di soloraya.
Ke arah timur selatan ada Sragen, Ngawi, Magetan. Ke arah utara barat ada Boyolali, Salatiga. Lalu, ke arat utara timur ada Purwodadi, Pati. Blas ora nggenah. Pilihan satu-satunya dan terakhir ya naik PO bus Sumber dkk, sambil berharap dapat supir yang agak sabaran.
Kabar baiknya, ternyata opsi transportasi yang sama berlaku juga di Serang dan sekitarnya. Ada PO bus Primajasa yang hampir bisa ditemui keberadaanya setiap 10 menit waktu tunggu maksimal. Rutenya nggak aneh-aneh, tujuan akhir Bekasi, Kampung Rambutan, dan Tanjung Priok yang jadi trayek rutin harian saya. Sementara PO medioker lainnya umumnya dilayani oleh bus Arimbi dengan jumlah armada yang jauh lebih sedikit.
Jadi ya, begitulah derita commuter Serang-Banten. Kami tidak bisa meromantisasi kehidupan kami, sebab, kami sudah kehabisan tenaga dan kewarasan hanya untuk sekedar bahagia.
Penulis: Adi Sutakwa
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
