Selama ini amukan netizen di media sosial soal arogansi jalanan seolah sudah punya musuh abadi. Siapa lagi kalau bukan barisan mobil bongsor macam Fortuner atau Pajero. Citra penguasa aspal sudah kadung melekat pada keduanya. Alhasil, siapa pun yang berpapasan otomatis memasang mode siaga.
Akan tetapi, kalau mau jujur dan sedikit menepikan sentimen kelas sosial, ada golongan lain yang sebenarnya lebih red flag dibanding pengendara Fortuner dan Pajero. Mereka adalah para penunggang motor yang seumur hidupnya belum pernah sekali pun duduk di balik kemudi mobil.
Mungkin terdengar diskriminatif, tapi percayalah, ada nalar yang putus saat seseorang hanya tahu cara menarik gas tanpa paham peliknya memutar setir mobil,
Baca juga Beli Hyundai Atoz Lebih Masuk Akal daripada Karimun Kotak yang Overpriced.
Komunikasi lampu sein yang ajaib
Buat mereka yang seumur hidup belum pernah mengoperasikan setir Fortuner dan Pajero, maupun merek mobil lain, rasa-rasanya lampu sein hanya dianggap aksesori saja, bukan alat komunikasi. Fenomena sein kiri tapi belok kanan pun bukan lagi sekadar mitos, tapi ritual harian yang sukses bikin pengemudi di belakangnya mendadak religius karena harus banyak istighfar.
Para pemotor ini mungkin tidak paham bahwa mobil butuh waktu untuk bereaksi dan mustahil bisa menghindar secepat kilat. Ketidaktahuan soal betapa terbatasnya ruang gerak kendaraan roda empat membuat mereka merasa bahwa menyalakan sein secara mendadak adalah sebuah kejutan manis yang harus diterima dunia dengan lapang dada.
Puncaknya adalah populasi pemotor yang hobi mematikan lampu sein. Lampunya terus berkedip genit tanpa ada manuver nyata. Saat ditegur, mereka justru lebih galak dan berlindung di balik narasi kalau pengemudi mobil seperti Fortuner dan Pajero itu arogan. Padahal, orang di belakang senewen, harus menebak-nebak ke mana arah takdir akan membawa motor tersebut.
Dimensi kendaraan yang lebih kecil dibanding Fortuner dan Pajero selalu jadi pembenaran
Ada semacam keyakinan tak tertulis bahwa motor adalah kendaraan yang kebal hukum secara moral lantaran statusnya sebagai transportasi rakyat kecil. Pemotor yang belum pernah merasakan peliknya menyetir mobil sering merasa bahwa sebesar apa pun manuver ngawur yang mereka buat, mobil tetaplah pihak yang wajib mengalah dan memikul dosa jika sampai terjadi senggolan, apalagi kalau mobilnya besar seperti Fortuner dan Pajero.
Banyak pemotor yang abai bahwa sopir mobil punya keterbatasan jarak pandang alias blind spot yang sangat luas. Sementara mobil berbadan besar, seperti besar seperti Fortuner dan Pajero, telanjur dicap sebagai preman jalanan yang tidak punya rasa kasihan. Merasa paling jelata di jalan bukan berarti sah-sah saja bertingkah seenak jidat, lalu bersembunyi di balik logika bengkok yang mengatasnamakan wong cilik.
Parkir di tikungan sembarangan
Berhenti tepat di sudut tikungan adalah kebiasaan paling menyebalkan dari pemotor red flag. Mereka beranggapan bahwa selama motor mereka tidak memakan seluruh lebar jalan, maka oke-oke saja. Tanpa pengalaman membawa mobil, pemotor tidak akan pernah paham konsep radius putar.
Motor yang parkir di tikungan itu ibarat rintangan maut yang memaksa pengendara mobil memutar setir lebih lebar dan berisiko menghantam kendaraan dari arah berlawanan. Kebodohan ini bukan sekadar parkir sembarangan, tetapi bentuk teror bagi pengguna jalan lain. Satu meter ruang yang diambil di tikungan bisa merusak perhitungan yang jauh lebih besar.
Hobi menyelip di celah sempit, menggores mobil lalu seenaknya kabur
Menyelip di antara himpitan mobil yang sedang terjebak kepadatan lalu lintas seolah sudah menjadi olahraga ekstrem favorit para pemotor. Dengan penuh nyali tapi sembrono, mereka sering kali menyusup begitu saja di celah sempit yang tersisa di antara dua kendaraan.
Buat kaum pemotor tipe ini, sekecil apa pun celah kosong dianggap sebagai undangan untuk merangsek maju. Padahal, di mata pengemudi mobil, ruang tersebut adalah jarak aman krusial yang wajib dijaga demi keselamatan bersama.
Ironisnya, setelah rampung melukis baret, banyak dari mereka yang hanya menoleh sekilas lalu tancap gas. Mereka menganggap goresan itu perkara sepele, tanpa mau tahu bahwa bagi pemilik mobil, itu adalah kerugian yang harus diperbaiki dengan biaya yang tidak murah.
Arogansi di jalan raya bukan hanya milik mereka yang punya kendaraan mahal seperti Fortuner dan Pajero . Tapi, juga milik siapa saja yang minim empati dan perspektif. Mengetahui cara mengoperasikan kendaraan itu mudah. Sebaliknya, memahami bagaimana posisi orang lain di atas aspal adalah keahlian yang jauh lebih mahal harganya.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
