Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Pemain Naturalisasi: Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia

Raihan Yuflih Hasya oleh Raihan Yuflih Hasya
23 Agustus 2020
A A
Pemain Naturalisasi Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia MOJOK.CO

Pemain Naturalisasi Ketika Jadi Tuan Rumah Pildun, tapi yang Main Bukan Orang Indonesia MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Kita pasti sering mendengar berita tentang ratusan atau bahkan ribuan pekerja asing yang nggak ada angin dan nggak ada hujan tiba-tiba datang ke Indonesia. Berita tersebut terkadang membuat kita sendiri sebagai warga negara Indonesia resah juga. Karena menurut Badan Pusat Statistik, total angkatan kerja di negeri ini pada tahun 2020 menembus angka 137 juta. Kasarnya, masak iya sih perusahaan lebih juga memilih pemain naturalisasi, eh maaf, ribuan pekerja asing untuk bekerja di tanah sendiri.

Meskipun begitu, kejadian tersebut bukan sepenuhnya salah perusahaan. Kita sebagai warga negara—dan tentunya pemerintah—harusnya lebih sadar bahwa kualitas sumber daya manusia kita masih rendah. Oleh karenanya, hal ini harus terus menjadi rangsangan kepada kita semua untuk selalu meningkatkan sumber daya manusia. Dengan tujuan, ke depannya kejadian seperti ini bisa diminimalisasi, dengan pemain naturalisasi. Hehehe….

Kejadian ratusan pekerja asing yang tiba-tiba datang ke Indonesia ini lama-kelamaan menjadi hal biasa. Tetapi, menjadi sebuah hal yang baru dan aneh ketika tiba-tiba Indonesia kedatangan lima pemain sepak bola asal Brasil secara sekaligus. Padahal ya nggak juga….

Itulah yang terjadi di Liga 1. Menjelang bergulirnya kompetisi, seluruh klub mulai menyiapkan segala hal, terutama pasukannya.

Anehnya, tiba-tiba Liga 1 kedatangan lima pemain asal Brasil secara bersamaan. Kelima pemain ini terbagi di tiga klub besar, yakni dua di Persija, dua di Arema, dan satu lagi di Madura United. Lebih mencengangkan lagi, umur dari kelima pemain ini merupakan umur yang tidak biasa dicari klub-klub Indonesia untuk dipoles jadi pemain naturalisasi, yakni di bawah usia 20 tahun. Sungguh, terlalu aneh jika kita sebut ini sebuah kebetulan.

Jika kita menggunakan teknik cocokologi, hal ini sangat berkorelasi dengan apa yang dipaparkan Ketua Umum PSSI, Iwan Bule, pada webinar yang diadakan oleh salah satu media pada 10 Juli lalu.

Webinar tersebut membahas tentang persiapan Indonesia untuk Piala Dunia u-20. Dalam salah satu slide presentasinya, ada kalimat penjelasan yang tertulis, yakni “PSSI akan melakukan ‘cara-cara luar biasa’ untuk meraih sukses prestasi pada Piala Dunia u-20 2021. Termasuk dimungkinkan melakukan nasionalisasi/naturalisasi pemain di usia emas sebagai pesepakbola.”

Di bawah penjelasan tersebut terpampang foto dari tiga pemain asal Brasil, yakni Leozao, Pedro (yang sekarang merapat ke Arema), dan Maike Henrique (yang sekarang merapat ke Persija). Sayangnya, slide ini hanya numpang lewat. Iwan Bule memilih untuk lanjut ke slide selanjutnya dan tidak menjelaskan apa maksud dari naturalisasi para pemain Brasil tersebut.

Baca Juga:

Benang yang Kembali Kusut: Langkah Membingungkan PSSI Memecat STY di Tengah Jalan  

Sepak Bola Indonesia Memang Penuh Drama, Shin Tae-yong Cuma Salah Satunya

Jika memang benar kedatangan rombongan pemain Brasil ini diproyeksikan untuk membela timnas di Piala Dunia u-20 mendatang, akan timbul sebuah pertanyaan besar, yakni apakah pemain-pemain muda kita belum mampu untuk menghadapi Piala Dunia sampai-sampai harus mengimpor pemain luar yang bahkan tidak ada darah Indonesianya sama sekali?

Jika isu ini benar terjadi, saya rasa federasi perlu memikirkannya lagi sebelum mengambil keputusan. Ah, sebuah masukan klasik, lawas, yang mana mau didengar federasi.

Formula yang aneh apabila sebuah federasi mengambil cara instan dalam sebuah gelaran besarnya demi sebuah prestasi. Piala Dunia tahun depan adalah Piala Dunia junior. Apa salahnya jika fokus kepada pengembangan pemain muda, alih-alih proyek pemain naturalisasi? Bahkan, lebih baik mempercepat pengurusan kewarganegaraan pemain yang masih memiliki keturunan Indonesia (halfblood) ketimbang menaturalisasi pemain yang selain nggak ada darah Indonesianya, juga belum terbukti performanya di tanah air.

Hal ini tentu membuat ramai persepakbolaan tanah air. Sampai-sampai eks pelatih timnas u-19, Fakhri Husaini ikut angkat bicara. Dilansir Tempo, Fakhri mengkritik isu PSSI yang ingin melakukan naturalisasi pemain asal Brasil untuk Piala Dunia u-20 tahun depan dengan menyatakan bahwa Jika PSSI sudah kehilangan rasa percaya dirinya terhadap para pemain lokal, serahkan saja status tuan rumah Piala Dunia u-20 kepada negara lain. Sungguh pernyataan yang menusuk dada.

Bahkan, Beto Goncalves saja—yang notabenenya pemain naturalisasi Indonesia—memberikan pernyataan di acara Mata Najwa beberapa waktu lalu, bahwa federasi harusnya beri kesempatan pemain muda untuk bermain. Karena kembali lagi, untuk apa jauh-jauh menaturalisasi pemain asing.

Pembinaan pemain usia muda kita pun sebenarnya sudah cukup progresif. Misalnya ada kompetisi khusus kategori umur Elite Pro Academy, atau bahkan tim muda Garuda Select yang mengemban ilmu sepak bola di eropa. Tinggal hanya perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, saya dan kita semua tentunya berharap kepada Shin Tae Yong sebagai Pelatih Kepala, serta Indra Sjafri sebagai Direktur Teknik timnas untuk berperan aktif dan jangan mau diintervensi oleh siapa pun—bahkan federasi sekali pun—perihal komposisi tim.

Fenomena rombongan pekerja asing yang tiba-tiba datang ke Indonesia untuk bekerja mungkin ada sisi benarnya juga, karena sumber daya manusia kita masih rendah dan kedatangan mereka pun bisa jadi transfer of knowledge bagi para pekerja lokal. Tetapi, kedatangan rombongan pemain naturalisasi untuk membela negara kita di Piala Dunia merupakan hal yang di luar nalar. Karena kalau dipikir-pikir, percuma juga jadi tuan rumah piala dunia kalau yang main untuk timnas bukan orang-orang kita~

BACA JUGA Pareidolia dan Dugaan Gambar Salib di Logo HUT RI atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2020 oleh

Tags: pemain naturalisasiPiala DuniaTimnas Indonesia
Raihan Yuflih Hasya

Raihan Yuflih Hasya

Sedang berusaha menyelesaikan studi Sastra Indonesia, pernah menjabat Wali Kota di game Simcity.

ArtikelTerkait

Iwan Bule dan Jasanya yang Kelewat Besar untuk Timnas

Iwan Bule dan Jasanya yang Kelewat Besar untuk Timnas

10 Juni 2022
Timnas U17 Imbang, Piala Dunia U17 Surabaya Agak Bikin Kecewa (Dokumen pribadi)

Timnas U17 Imbang ketika Piala Dunia U17 di Surabaya Diwarnai Chaos Terkait Shuttle Bus bikin Penonton Sempat Bingung Waktu Mau Pulang

11 November 2023
Benang yang Kembali Kusut: Langkah Membingungkan PSSI Memecat STY di Tengah Jalan  

Benang yang Kembali Kusut: Langkah Membingungkan PSSI Memecat STY di Tengah Jalan  

7 Januari 2025
Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Sepak Bola Indonesia Memang Penuh Drama, Shin Tae-yong Cuma Salah Satunya

6 Januari 2025
Bahrain Tidak Perlu Takut Berlaga di Jakarta, Semua Akan Baik-baik Saja, Semoga timnas indonesia

Bahrain Tidak Perlu Takut Berlaga di Jakarta, Semua Akan Baik-baik Saja, Semoga

17 Oktober 2024
Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi erick thohir prabowo shin tae-yong pssi

Efek Positif Timnas Indonesia yang Luput dari Perhatian, Kafe-kafe Sepi Jadi Hidup Lagi

16 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
5 Profesi yang Kelihatan Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu (Unsplash)

5 Profesi yang Kelihatannya Gampang, Padahal Nggak Segampang Itu

4 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Oleh-Oleh Khas Wonosobo yang Sebaiknya Kalian Pikir Ulang Sebelum Membelinya Mojok.co

Wonosobo Memang Cocok untuk Berlibur, tapi untuk Tinggal, Lebih Baik Skip

3 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan
  • Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti
  • Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak
  • Tak Menyesal Ikuti Saran dari Guru BK, Berhasil Masuk Fakultas Top Unair Lewat Golden Ticket Tanpa Perlu “War” SNBP
  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.