Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Politik

PDIP Keok di Kandang Banteng, kok Bambang Pacul yang Disalahkan?

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
3 Desember 2024
A A
PDIP Keok di Kandang Banteng, kok Bambang Pacul yang Disalahkan?

PDIP Keok di Kandang Banteng, kok Bambang Pacul yang Disalahkan?

Share on FacebookShare on Twitter

Bambang Pacul dan PDIP mungkin kalah di “kandang” sendiri. Tapi, benarkah mereka habis? Oh, tentu saja tidak. Tidak sama sekali.

Meski kepercayaan saya pada tokoh politik tidak bisa dibilang bagus, tapi bukan berarti saya tidak mengamati Pilkada 2024. Menarik untuk melihat bagaimana para tokoh bermain strategi memenangkan hati rakyat. Dari kampanye konvensional, sampai permainan psikologis dan kekuasaan.

Yang paling menarik tentu saja Pilkada di Jawa Tengah. Kekalahan Andika Perkasa dirayakan dengan luar biasa. Akhirnya, dominasi PDIP di kursi Gubernur Jateng sejak 2013 runtuh sudah. Banyak yang menilai bahwa PDIP berhasil hancur di kandang. Bahkan banyak yang menuntut agar Bambang Pacul mundur dari posisinya sebagai Ketua DPD PDIP Jateng.

Sebentar. PDIP hancur di “kandang banteng?” Mungkin ini terlihat lumrah jika menilik kekalahan Andika-Hendar. Tapi apa benar sudah sehancur itu? Atau strategi Luthfi-Yasin yang memang kelewat sempurna? Paling penting: apakah Bambang Pacul gagal sebagai komandan?

Saya kira Banteng Merah belum mati. PDIP masih jadi mesin politik mengerikan, bahkan di Jawa Tengah. Tapi upaya memutilasi banteng masih terus diupayakan. Strategi memecah belah di dalam tubuh PDIP mulai mengarah pada Bambang Pacul. Sosok yang dituding membuat partai hancur lebur di kandang. Apa benar semua ini salah si komandan korea itu?

Jawaban singkatnya, jelas tidak.

Kekalahan yang Memalukan untuk Bambang Pacul?

Banyak yang menyebut kekalahan PDIP kali ini memalukan. Sama seperti kekalahan saat Pemilu di awal tahun 2024. Wajar sih, ungkapan ini memang ditunggu momennya. Melihat Bambang Pacul tertunduk kalah dianggap punya nilai puitis tersendiri. Jelas oleh rival politik.

Tapi apakah PDIP benar-benar kalah? Jika melihat angka quickcount, 40% masih terlihat besar. Terutama untuk paslon yang diusung partai tunggal. Belum lagi melihat pilkada tingkat kota dan kabupaten. Tapi saya bahas itu nanti.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

Purwokerto Nyaman, tapi Salatiga yang lebih Menjanjikan Jika Kamu Ingin Menetap di Hari Tua

Meskipun kalah, Andika-Hendar menang di dua titik: Semarang dan Solo. Salah satunya di TPS tempat Jokowi mencoblos. Kemenangan ini sama puitisnya dengan kekalahan  PDIP di kandang sendiri.

Bambang Pacul sebagai komandan mulai dipertanyakan kapabilitasnya. Mulai tercium upaya untuk membenturkan elit banteng merah ini. Tapi sebelum bicara tentang ini, mari kita lihat siapa (dan apa) lawan Andika, Bambang Pacul, dan PDIP

Strategi Luthfi-Yasin dari 2023

Sejak 2023, Ahmad Luthfi sudah memiliki modal politik. Sebagai Kapolda Jateng, Ahmad Luthfi menjabat selama 3 tahun. Ia termasuk dalam daftar kapolda terlama dan tidak mengalami rotasi. Jika ditambah posisi Wakapolda, maka Ahmad Luthfi sudah menduduki posisi puncak Polda Jateng selama 5 tahun.

Kapital Politik Luthfi makin besar setelah menunjukkan kedekatan dengan Jokowi. Suka tidak suka, Jokowi Effect memang kuat dalam tahun politik 2024. Sebuah magnet besar yang menarik simpati kepada paslon ini. Koalisi gendut yang mengusung Luthfi-Yasin jelas menyempurnakan gerilya politik Luthfi. Tapi belum cukup, Luthfi masih mendapat dukungan dari Presiden Prabowo Subianto sendiri. Dari sini saja, Luthfi sudah siap menang di Pilkada Jateng.

Bagaimana dengan Taj Yasin Maimoen? Hanya dengan membaca nama belakangnya, anda bisa membayangkan kapital politik yang dimiliki. Putra Mbah Maimun ini jelas punya tempat di hati masyarakat NU. Para pengamat juga melihat “kelompok hijau” jadi kekuatan utama yang memenangkan Luthfi-Yasin.

Tanpa saya harus membahas konspirasi “parcok,” kapital politik Luthfi-Yasin kelewat besar. Bahkan isu miring Ahmad Luthfi tidak bisa menghancurkan kekuatan raksasa ini. Justru akan aneh kalau Luthfi-Yasin kalah.

Bagaimana dengan Andika Perkasa? Maaf saja, PDIP serba terlambat. Dari terlambat dalam deklarasi, sampai terlambat dalam konsolidasi kekuatan.

Andika Datang Telat, PDIP Tak Punya Pilihan

Sialnya, Andika-Hendar serba terlambat. Dari terlambat dalam pencalonan, sampai  terlambat dalam berkampanye. Aksi gerilya Luthfi-Yasin jelas tidak bisa dibendung oleh PDIP. Andika yang populer di tingkat nasional tidak mengakar kuat di tingkat daerah. Terutama Jawa Tengah yang sudah lebih dulu digarap “orang dekat Jokowi” itu.

Tapi apa daya, PDIP tidak punya tokoh kuat untuk dicalonkan di Jateng. Bambang Pacul sendiri memilih posisi sebagai ketua tim pemenangan. Bahkan jika pimpinan korea-korea itu maju sebagai cagub, belum tentu bisa menumbangkan raksasa politik yang jadi motor Luthfi-Yasin. Saya yakin, PDIP memang tidak dalam kondisi siap.

Selain serba terlambat, PDIP memang sedang burnout. Meskipun “Perjuangan,” PDIP sudah kehabisan tenaga. Bambang Pacul jelas terkuras energi dan pikirannya. Terutama pasca Pemilu 2024.

Kelelahan Banteng dan Bambang Pacul

Kelelahan PDIP dan Bambang Pacul bukan alasan untuk menghibur hati pasca kalah saja. Pemilu 2024 sukses menyedot energi banteng merah. Energi besar sudah digunakan untuk memenangkan Ganjar-Mahfud. Dan seperti yang kita tahu, Ganjar-Mahfud babak belur dihajar Prabowo-Gibran.

Jateng terbukti jadi zona perang paling brutal dalam Pemilu 2024. Masih ditambah dengan isu gesekan internal di dalam PDIP pasca kekalahan dalam bursa presiden. Bambang Pacul sendiri mengaku jika “cuaca sedang tidak baik-baik saja” dalam kubu internal.

Saya melihat, dampak Pemilu 2024 memang menghabiskan energi PDIP di Jateng. Ditambah manuver politik Jokowi yang ikut menggoyahkan kader di dalamnya. Situasi memang sulit untuk mereka. Ditambah dengan kekuatan lawan yang kelewat hebat. Ibarat banteng yang kelelahan setelah berlari, diajak balapan melawan Civic Turbo yang sudah tune up.

Masalahnya, Pilkada bukan hanya bicara gubernur. Kali ini, PDIP Jateng di bawah komando Bambang Pacul sukses merangsek kemustahilan. Bahkan kalau dipikir, belum remuk redam dalam tingkat provinsi.

Bagaimana dengan situasi PDIP di tingkat kota dan kabupaten? Menarik, karena mereka berhasil menang di beberapa titik vital. Tercatat paslon bupati/wali kota yang diusung PDIP menang di: Banyumas; Brebes; Demak; Grobogan; Jepara; Karanganyar; Kota Magelang; Klaten, dan; Semarang! Yang terakhir jelas jadi kemenangan besar bagi PDIP. Selain itu, total perolehan suara Andika-Hendar jauh lebih baik daripada suara Ganjar-Mahfud. Situasi ini diakui oleh PDIP sebagai bukti bahwa Jateng masih jadi kandang banteng. Dari tingkat kabupaten/kota sampai perolehan suara provinsi, PDIP akan menjadi kekuatan oposisi besar bagi Luthfi-Yasin. Mirip dengan situasi parlemen saat ini.

Kalah di Atas, Menang di Bawah

Saya melihat situasi ini sangat menarik. PDIP masih punya intangible value yang kuat. Para pemilih, baik tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota, masih menilai positif partai ini. Value yang ditanamkan sejak Orba ini terbukti bisa menjaga suara sampai 40%. Apalagi PDIP berperang sendiri tanpa koalisi. Mungkin Bambang Pacul akan pakai kaos, “PDIP VS Everybody.”

Ini bukti proses kaderisasi Bambang Pacul sukses membangun basis militan di Jawa Tengah. Meskipun dihajar koalisi super gendut dengan dukungan dua presiden, PDIP masih lulus KKM. Setidaknya suaranya bisa lebih hancur jika Bambang Pacul tidak rutin membangun dan menjaga kekuatan.

Bukan bermaksud menghibur Komandan Pacul, namun kekalahan kali ini tidak buruk-buruk amat. Semangat marhaenis masih jadi nilai tak lekang. Misal saja PDIP sedikit lebih cepat dan taktis pasca Pemilu 2024, mungkin ada potensi kemenangan dalam Pilkada Jateng. Atau misal Bambang Pacul lebih muda 10 tahun dan dicalonkan, kemungkinan pasti menang telak.

Percayalah, Banteng Merah tidak kalah sepenuhnya. Against all odds, Bambang Pacul tetap sukses menakhodai PDIP. Menerjang badai dan monster yang siap melahap banteng merah bulat-bulat. Memang, kapal rusak parah. Tapi semua selamat dan bendera banteng berkibar di pulau terakhir. Mengikat kuat mereka yang setia, untuk tetap membusungkan dada setelah badai menghajar.

Penulis: Prabu Yudianto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Komandan Bambang Pacul Membuat Ribuan Orang Biasa Berani Bermimpi Jadi Orang Besar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2024 oleh

Tags: bambang paculjawa tengahPDIPpilkada 2024
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Wisata ke Boyolali terminal mojok

5 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Wisata ke Boyolali

15 Desember 2021
Candimulyo, Surganya Durian dari Magelang Terminal Mojok

Candimulyo, Surga Durian dari Magelang

28 Januari 2023
Ungaran Bisa Dibanggakan Mengalahkan Kota Semarang. Orang Ungaran Nggak Perlu Malu!

Ungaran Bisa Dibanggakan Mengalahkan Kota Semarang. Orang Ungaran Nggak Perlu Malu!

9 Maret 2024
Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah Mojok.co

Simpang PB VI Selo Boyolali, Alun-Alun Paling Indah Se-Jawa Tengah

21 Juli 2024
7 Destinasi Wisata di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi Terminal Mojok

7 Destinasi Wisata di Solo yang Sebaiknya Nggak Dikunjungi

20 Juli 2022
Ilustrasi Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman (Unsplash)

Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

1 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN

Wajar kalau Masyarakat Nggak Peduli PNS Dipecat atau Gajinya Turun, Sudah Muak sama Oknum PNS yang Korup!

7 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Ruwet Urusan sama Pesilat: Tak Nyapa Duluan dan Beda Perguruan Pencak Silat Langsung Dihajar, Diajak Refleksi Malah Merasa Paling Benar
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.