Merindukan Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Sepi Menunggu Mati

Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Menunggu Mati (Pixabay)

Pasar Wilis Malang, Surga Buku Bekas yang Kini Menunggu Mati (Pixabay)

Pasar Wilis Malang pernah menjadi bagian kenangan sentimentil saya ketika berburu buku bekas asli. Namun, nuansa itu sudah berubah setelah saya kembali. Setelah sekian lama menetap di Kota Surabaya. 

Dulu, Pasar Wilis Malang terasa nyaman. Tapi kini, kondisinya mulai berubah. Pasar tersebut semakin sepi.

Ada banyak hal yang menjadi sebab. Dan ini bukan hanya soal perkembangan toko online buku. Saya melihat ada beberapa faktor yang berpengaruh. Inilah beberapa di antaranya.

#1 Parkir di Pasar Wilis Malang jadi pengalaman yang bikin kapok pelanggan

Hal pertama yang saya sadari justru bukan buku, tapi parkiran. Lahan parkirnya luas, lega, bahkan terlalu nyaman. Saya nggak melihat ada tukang parkir. 

Saya pikir, wah, enak betul nih. Namun ternyata itu salah besar. Setelah puas berkeliling, sebelum akhirnya makin kehilangan minat beli, saya bersiap pulang. 

Di situlah drama kecil khas kota besar dimulai. Entah dari mana, tukang parkir muncul seperti NPC game. Tidak membantu mengeluarkan motor, hanya berdiri dan menunggu.

Dan ketika motor sudah siap melaju, dia berlari kecil sambil meminta bayaran. Sebagai pengunjung Pasar Wilis Malang, saya bingung. Dia sama sekali tidak membantu, tidak juga mengatur kendaraan.

Pengalaman semacam ini mungkin terlihat sepele, tapi dalam dunia ritel, termasuk toko buku, bisa jadi penentu pelanggan mau balik lagi atau tidak. Orang datang ke toko buku bukan untuk stres. Kalau dari parkiran saja sudah bikin emosi naik, Pasar Wilis Malang bakal tak menarik lagi.

#2 Menjamurnya buku bajakan, yang menyaru dengan buku asli

Masalah kedua dan ini cukup krusial di Pasar Wilis Malang ialah menjamurnya buku bajakan. Sebagai pembaca, apalagi yang cukup akrab dengan dunia perbukuan, kehadiran buku bajakan itu gangguan serius. 

Bukan cuma soal moral, tapi juga kualitas. Kertas buram, cetakan buram, halaman kadang lompat dan aroma tinta yang entah berasal dari dimensi mana. Entah kenapa masih tetap eksis.

Memang, harga buku di Pasar Wilis Malang relatif murah. Baik buku akademik, non-akademik, novel, buku motivasi, semuanya ada. Tapi, pertanyaan yang selalu menggantung adalah, ini asli atau bajakan? 

Ironisnya, untuk mengelabui pembeli. Tidak sedikit buku bajakan yang harganya setengah harga buku asli. Namun, mereka tidak menjelaskan jika itu bajakan sebab sudah dibungkus plastik dengan rapi. 

Kadang, jika tidak hati-hati dan baru pertama kali datang, bisa saja jadi korban. Sebab, Ketika melihat harga murah, kadang logika pembeli mulai bekerja dan baru sadar saat buku mereka baca. Apalagi hampir di setiap sudut toko, buku bajakan terpajang tanpa rasa bersalah. Penjualnya kebanyakan usia paruh baya.

Sejauh pengamatan saya, pemandangan yang paling menyedihkan, adalah saat saya melihat anak-anak muda dengan serius memilih buku bajakan di Pasar Wilis Malang. Bisa jadi bukan karena mereka jahat, tapi karena sistem membuat mereka tidak punya banyak pilihan. 

Hingga akhirnya memaksa mereka menawar idealisme dengan isi dompet. Di titik ini, antusiasme saya benar-benar runtuh. Saya merasa seperti berada di pasar ide yang kehilangan etika, tapi tetap mematok harga setengah hati. Sungguh nyata gilanya.

#3 Pasar Wilis Malang, pasar buku yang masih terjebak di masa lalu

Masalah Pasar Wilis Malang bukan cuma parkir liar atau buku bajakan. Masalah utamanya adalah ia terjebak di romantisme masa lalu. 

Dulu, Wilis berjaya karena akses buku masih terbatas, internet belum merajalela, dan mahasiswa bergantung pada toko fisik. Tapi sekarang, mahasiswa bisa membandingkan harga hanya 10 detik saja. Banyak diskon buku besar dan tentu saja kualitas asli. Atau bahkan pinjam pdf.

Toko buku fisik yang bertahan hari ini bukan yang paling murah, tapi yang paling jujur dan nyaman. Mereka menawarkan kurasi, pengalaman dan rasa aman sebagai pembaca. 

Kita tahu mana buku asli, mana yang bekas tapi layak, mana yang memang pantas dibeli. Bahkan jika belajar dari Jogja banyak toko buku fisik yang tetap relevan karena menawarkan pengalaman yang berbeda bagi pembelinya. Namun, Pasar Wilis Malang justru terjebak dalam romantisme masa lalu.

Menolak beradaptasi. Seolah reputasi lama cukup untuk menutup mata dari perubahan. Tidak ada upaya jelas menjelaskan buku asli dan bajakan dan tidak ada narasi baru selain murah. Sehingga yang ada malah rasa waswas, salah beli, hingga berujung salah ekspektasi.

#4 Sepi itu akumulasi, bukan takdir Ilahi

Sepinya Pasar Wilis Malang bukan musibah mendadak. Ia hasil dari akumulasi. Bukan semata karena marketplace menjamur atau karena orang malas baca. Tapi karena pengalaman pengunjung yang tidak ramah. 

Parkir liar yang bikin ilfeel, buku bajakan, dan keengganan beradaptasi. Padahal, idealnya toko buku, apalagi toko buku bekas seharusnya jadi ruang aman bagi ide, bukan ladang kompromi. Saya pulang hari itu tanpa membeli. Bukan karena tidak ada yang menarik, tapi karena rasanya sudah kehilangan kepercayaan.

Dan di situlah Pasar Wilis Malang kalah telak dari online shop. Bukan karena harga, tapi karena kejelasan yang abu-abu. Di e-commerce, kita tahu buku asli atau tidak. Di Pasar Wilis Malang, kita hanya bisa berharap.  

Belum lagi jika masih minim pengetahuan untuk membedakan buku asli dan bajakan. Mungkin Pasar Buku tidak akan tutup besok atau lusa. Tapi kalau terus begini, ia akan pelan-pelan ditinggalkan dan berkawan dengan sepi.

Penulis: Ferika Sandra

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kondisi Pasar Besar Kota Malang yang Begitu Mengenaskan: Toilet Rusak, Lampu Nggak Ada, Sampah di Mana-mana

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version