Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Panduan Singkat Memahami Keraton Solo, Biar Nggak Nanya “Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja?”

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
20 November 2025
A A
Panduan Singkat Memahami Keraton Solo untuk Menjawab Pertanyaan: Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja? Mojok.co

Panduan Singkat Memahami Keraton Solo untuk Menjawab Pertanyaan: Kenapa Bukan Gusti Bhre yang Jadi Raja? (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kemarin ketika sedang ngobrol, sambil membuka TikTok, istri saya menanyakan, kenapa bukan Gusti Bhre yang terkenal itu yang menjadi raja? Dua orang yang berebut tahta itu siapa? Terus apa hubungannya dengan Jogja? Dan banyak pertanyaan lainnya. Iya, beberapa hari terakhir, lini masa ramai betul membahas kisruh suksesi Keraton Solo. Semua orang memperhatikan, termasuk istri saya.

Setelah ngobrol, saya jadi kepikiran, sepertinya bukan cuma istri saya yang penasaran. Di luar sana ada banyak orang yang juga penasaran. Sebab, sejauh yang saya amati di kolom komentar konten pemberitaan, ada banyak pertanyaan serupa.

Baiklah, berikut coba saya rangkumkan isi obrolan saya dengan istri, sekaligus memberikan pemahaman singkat seputar Keraton Solo.

Perjanjian Giyanti

Sebelum melangkah jauh ke keraton dan segala hiruk-pikuk sukesi yang belakangan ramai, mari lebih dulu mengenal Perjanjian Giyanti (1755). Perjanjian yang membuat Kraton Jogja dan Keraton Solo berpisah.

Iya, awalnya Jogja dan Solo ini satu wilayah, kemudian berpisah dan menjadi dua wilayah yang berbeda. Di satu sisi, lahirlah Kesultanan Yogyakarta yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono. Di sisi lain, berdiri Kasunanan Surakarta dengan Sunan Pakubuwono sebagai penguasanya.

Dua nama ini, Hamengku Buwono dan Pakubuwono, kelak menjadi garis keturunan panjang yang bertahan hingga hari ini. Lengkap dengan segala dinamika, intrik, sekaligus tradisi yang terus dirawat. Dan, dari sinilah (Perjanjian Giyanti) cerita panjang dua keraton Jawa itu bermula.

Mengenal Hamengkubuwono, Pakualaman, Pakubuwono, Mangkunegaran

Bagi yang masih asing, ini memang bikin mumet. Sederhananya begini, Hamengku Buwono adalah Sultan Yogyakarta, dan dalam konteks sekarang, otomatis menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Jogja, ada pula Pakualaman, sebuah kadipaten kecil yang dipimpin Adipati Paku Alam dan melekat sebagai wakil gubernur dalam struktur pemerintahan DIY.

Sama halnya dengan Jogja, Solo juga punya dua struktur. Di sana, penguasa utamanya adalah Pakubuwono, atau Raja Surakarta yang memimpin Keraton Solo. Selain itu, Solo juga memiliki Mangkunegaran, yang dipimpin oleh seorang Pangeran atau Adipati Mangkunegara. Keduanya sama-sama institusi budaya, tapi berasal dari garis kekuasaan yang berbeda sejak masa kolonial.

Baca Juga:

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

Nah, konflik yang sekarang ramai itu adalah soal suksesi Pakubuwono, bukan Mangkunegaran. Dan, FYI saja, Gusti Bhre adalah Mangkunegara X. Nah, kini pertanyaan “Kenapa bukan Gusti Bhre yang jadi raja?” sudah terjawab. Ya tentu saja karena memang bukan wilayahnya. Selain itu, jabatan Pakubuwono hanya bisa digantikan oleh penerus garis Kasunanan, bukan Mangkunegaran.

Keraton Solo ini ikut pemerintahan atau nggak?

Setelah menjawab seputar soal Gusti Bhre, istri saya kembali bertanya soal status Keraton Solo. Saya kira banyak orang juga penasaran, Keraton Solo itu masih bagian dari pemerintahan nggak sih?

Nah, untuk memahami jawabannya, perbandingan paling mudah adalah dengan Jogja. Di Yogyakarta, Sultan otomatis menjabat sebagai Gubernur DIY. Begitu pula Paku Alam otomatis menjadi Wakil Gubernur. Keduanya berada dalam struktur formal pemerintahan negara.

Namun, Solo berbeda total. Keraton Solo tidak menjadi bagian dari pemerintahan formal. Perannya kini lebih sebagai lembaga budaya yang melestarikan tradisi, menjaga upacara adat, menjadi simbol sejarah. Dan, tentu saja menjadi pusat pariwisata warisan Jawa.

Jadi, jika Jogja adalah wilayah yang kekuasaan tradisionalnya dilembagakan secara negara, Solo berdiri sebagai institusi budaya yang menjaga memori dan tradisi. Tidak ada jabatan gubernur atau wakil gubernur yang otomatis diwariskan dari keraton.

Nah, akhir kata, dengan panduan singkat ini, semoga saja pertanyaan “Lho, kok bukan Gusti Bhre yang jadi raja?” tidak lagi terdengar di mana-mana. Sebaliknya, semakin banyak orang yang bisa menjelaskan dengan tenang dan percaya diri bahwa posisi Mangkunegara dan Pakubuwono memang berada di jalur yang berbeda. Bahwa Gusti Bhre adalah Mangkunegara X, sementara takhta Pakubuwono hanya bisa diwarisi oleh garis Kasunanan.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Solo Punya Segalanya, tapi Masih Kalah Pamor sama Jogja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 November 2025 oleh

Tags: Gusti BhreHamengkubuwonoJogjakeraton solokraton jogjamangkunegaranPakualamanPakubuwonoperjanjian giyantisolo
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Jogja Sangat Layak Dinobatkan sebagai Ibu Kota Ayam Goreng Indonesia!

Jogja Sangat Layak Dinobatkan sebagai Ibu Kota Ayam Goreng Indonesia!

1 Desember 2025
Banjarsari, Kecamatan Paling Overpower di Kota Solo, Semuanya Ada di Sini

Banjarsari, Kecamatan Paling Overpower di Kota Solo, Semuanya Ada di Sini

13 November 2025
Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

Jogja Memang Istimewa, tapi Mohon Maaf Bandung Lebih Nyaman untuk Ditinggali

26 Mei 2025
Lupakan Kursi Besi Indomaret, Orang Jogja Punya Ringroad untuk Meratapi Nasib Mojok.co

Lupakan Kursi Besi Indomaret, Orang Jogja Punya Ringroad untuk Meratapi Nasib

30 September 2025
Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

20 Februari 2025
7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Rekomendasi Tempat Wisata Terbaik di Jogja yang Sayang Dilewatkan  

7 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan  Terminal

Di Balik Sekolah Elit yang Eksploitatif dan Manipulatif Ada Guru yang Menderita karena (Terpaksa) Jadi Ojek dan ART untuk Yayasan 

8 Juni 2026
4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

Sebagai Warga Jogja, Saya Punya Empat Permintaan Kecil untuk Pendatang agar Bisa Beradaptasi dengan Baik

8 Juni 2026
Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan Mojok.co

Turunan Silayur Ngaliyan Semarang Momok Pengendara yang Perlu Segera Dibereskan

5 Juni 2026
5 Barang Unik yang Saya Temukan di Facebook Marketplace, Surga yang Underrated

Facebook Marketplace, Titik Kumpul Barang Unik dan Berguna, sekaligus Surganya para Penipu

4 Juni 2026
Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan Mojok.co

Derita Mahasiswa Jurusan Manajemen, Kena Label Nggak Masuk Akal, Mulai dari Sultan hingga Dicap Murahan

4 Juni 2026
Kebiasaan di Hajatan Pedesaan yang Nggak Masuk Akal kondangan jawa tengah

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

7 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.