Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi!

Muhammad Arsyad oleh Muhammad Arsyad
22 Desember 2020
A A
Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Saya warga Kota Pekalongan tulen. Ingat ya Kota Pekalongan, bukan Kabupaten Pekalongan. Saya mengingatkan itu sebab banyak kawan, kolega, dan orang lain yang tak bisa membedakan mana kota dan mana kabupaten.

Saya sendiri sering ditanya hal-hal yang berhubungan dengan Kabupaten Pekalongan oleh seorang teman yang kebetulan berasal dari kota lain nun jauh di sana. Pertanyaan itu jelas-jelas bikin saya muntab, lha wong saya itu orang Kota Pekalongan kok, bukan kabupaten.

Pertanyaan yang mencuat, misalnya soal tempat wisata. Banyak teman-teman yang nggak tahu kalau tempat wisata bernuansa pegunungan, perbukitan, dan air terjun itu adanya di Kabupaten Pekalongan. Tapi, tetap saja mereka bodo amat. Pokoknya kalau saya dari Pekalongan, ya mesti tahu juga hal-hal yang berkaitan dengan Pekalongan, nggak cuma kotanya!

Saya pernah ditanya oleh seorang teman dari luar kota begini, “Tahu Curug Bajing nggak? Aku diajak ke sana, dong!” Lha modyar! Ke sana saja belum pernah, kok disuruh jadi semacam tour guide. FYI, Curug Bajing itu letaknya di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Kecamatan Petungkriyono.

Kalau kamu tanya soal pantai, nah saya baru bisa menjawabnya. Sebab satu-satunya destinasi alam di Kota Pekalongan ya cuma pantai dan laut. Selain menjadi destinasi wisata, keduanya juga yang sering bikin emosi lantaran mendatangkan bencana rob.

Well, agar pemahaman kalian nggak keliru-keliru amat tentang dua daerah ini. Yhaaa setidaknya biar kalau tiba di Pekalongan nggak nyasar, saya akan berikan semacam panduan. Mohon dipahami, sebab pemerintah daerahnya sendiri saja sering keliru.

Pertama, mari kita mulai dari julukan. Setiap kota tentu punya julukan masing-masing. Semarang dengan Kota Lumpia, Bogor dengan Kota Hujan, Jogja dengan Kota Romantis, dan lain-lainnya.

Kota dan Kabupaten Pekalongan juga punya julukannya masing-masing. Kabupaten Pekalongan sering disebut sebagai Kota Santri. Mungkin di antara kalian ada yang protes, lho bukannya Kota Santri itu Situbondo? Eh, bukannya Jombang ya? Eh, mungkin Kendal?

Baca Juga:

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Memang Kota Santri adalah julukan kota yang paling klise. Mau gimana lagi, sosok santri sungguh istimewa. Tapi buat Kabupaten Pekalongan, Kota Santri bukan sekadar julukan.

Selain karena di Kabupaten Pekalongan tersebar sekitar 100 lebih pesantren, julukan Kota Santri ini merupakan akronim dari kata Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, dan Indah. Itu semacam filosofi dari Kabupaten Pekalongan sendiri.

Nggak mau kalah, Kota Pekalongan juga punya julukan, dong. Coba kalian ketik di Google “Kota Batik”. Saya yakin, Google akan langsung mengarahkan ke Kota Pekalongan. Bahkan ada sebuah lagu milik Slank yang liriknya “Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja, bukan Solo…”

Meski begitu, masih banyak orang yang keliru, termasuk para pejabatnya. Saya sering mendengarkan pidato dari Bupati Pekalongan yang mengaku-ngaku Kabupaten Pekalongan adalah Kota Batik. Begitu pula saat mendengar pidato Walikota Pekalongan yang beberapa kali menyebut Kota Pekalongan adalah Kota Santri.

Kedua, secara struktural, Kota dan Kabupaten Pekalongan memiliki perbedaan yang teramat mencolok. Dari yang paling atas saja, kabupaten dipimpin seorang bupati, sedangkan kota dinakhodai seorang walikota. Kalau soal polarisasi partai mana yang dominan, itu bisa dibahas kapan-kapan.

Ihwal otonomi di bawahnya, karena Kota Pekalongan luasnya terbilang sempit, hanya sekitar 45,25 kilometer persegi, maka jumlah kecamatannya juga tak banyak, hanya empat saja. Itu pun penamaannya dibikin sesimpel mungkin, yaitu dengan memanfaatkan arah mata angin, Pekalongan Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Sedangkan Kabupaten Pekalongan memiliki wilayah yang lebih luas. Luas wilayahnya kira-kira 837 kilometer persegi atau 18 kali lipat lebih luas daripada kota. Jumlah kecamatannya pun seingat saya ada 19 kecamatan.

Meskipun pemerintah kota sering mengakui kotanya adalah kota kreatif, untuk urusan nama kecamatan, bagi saya kabupaten jauh lebih kreatif. Kabupaten nggak mengandalkan arah mata angin yang tentu jumlahnya nggak sebanding dengan jumlah kecamatan.

Saya kasih tahu, di Kabupaten Pekalongan ada Kecamatan Kandangserang, Lebakbarang, Doro (ini bukan sejenis burung yaaa), Karangdadap, Kajen, Bojong, Petungkriyono, dan masih banyak lagi. Karena saya bukan orang kabupaten, harap maklum kalau nggak bisa menyebutkan semuanya. Yang paling mengacaukan dunia persilatan alias membingungkan adalah struktur di bawahnya.

Kabupaten memakai sistem desa, sementara kota menggunakan sistem kelurahan. Setahu saya, dan mungkin juga kalian, sebuah desa itu dipimpin oleh Kepala Desa, dan kelurahan dipimpin oleh Lurah. Namun, kalau kalian kebetulan berada di Kabupaten Pekalongan, hindarilah untuk bertanya alamat rumah Pak Kades pada penduduk setempat.

Sebab, berdasarkan penuturan teman-teman saya yang merupakan penduduk asli Kabupaten Pekalongan, para warga di sana memanggil kepala desa bukan dengan sebutan Pak Kades, melainkan Pak Lurah. Akan tetapi, di Kota Pekalongan, seorang lurah itu yaaa pemimpin kelurahan. Eh, kata teman saya yang lain, di kabupaten juga ada kelurahan. Pusing-pusing, Koen~

Kalau di kabupaten, bawahnya desa masih ada lagi, yaitu dusun, pemimpinnya Kadus. Dan yang menarik, pemilihan Kadus ini dengar-dengar lebih demokratis. Orang minim pengalaman pun bisa jadi Kepala Dusun. Sementara di kota nggak ada dusun, melainkan langsung RT/RW.

Dua aspek itulah yang paling mencolok untuk membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan. Selebihnya, saya rasa keduanya memiliki kesamaan-kesamaan yang tak mungkin terelakkan. Makanya, hanya penduduk asli yang cakap membedakan.

Belum lagi keduanya juga sama-sama meminjam kata “Pekalongan”. Konon, kata “Pekalongan” sendiri diambil dari sebuah pertapaan seorang tokoh bernama Bahurekso yang disebut “Tapa Ngalong”. Posisi bertapa dengan kaki di atas kepala di bawah yang menyerupai kalong.

Jadi, kapan mau main ke Pekalongan?

Sumber Gambar: javatravel.net

BACA JUGA Menghitung Kekayaan Aldebaran Suaminya Andin di ‘Ikatan Cinta’ dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2020 oleh

Tags: pekalongan
Muhammad Arsyad

Muhammad Arsyad

Warga pesisir Kota Pekalongan, penggemar Manchester United meski jarang menonton pertandingan. Gemar membaca buku, dan bisa disapa di Instagram @moeharsyadd.

ArtikelTerkait

Pekalongan yang Semakin Berkembang Bikin Iri Warga Pemalang Mojok.co

Pekalongan yang Semakin Berkembang Bikin Iri Warga Pemalang

7 Mei 2024
Dear Toko Buku Gramedia, Ayo dong Buka Outlet di Kota Pekalongan

Dear Toko Buku Gramedia, Ayo dong Buka Outlet di Kota Pekalongan

5 Oktober 2023
Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok

Pekalongan Itu Nggak Cocok Dijadiin Kota Wisata, Pemerintah Jangan Ngeyel

16 Januari 2021
Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok

Pekalongan (Katanya) Bakal Tenggelam, tapi Pembangunan Digenjot Terus

11 Oktober 2021
Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan terminal mojok

Rekomendasi Warung Sego Megono Pekalongan yang Low Budget untuk Menu Sarapan

8 Juli 2021
Kopi Tahlil, Kopi Unik Khas Pekalongan Terminal Mojok

Kopi Tahlil, Kopi Unik Khas Pekalongan

23 April 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Kelas Menengah, Pemegang Nasib Paling Sial di Indonesia (Unsplash)

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

2 Februari 2026
Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat Mojok.co

Duka Menikah di KUA, Dikira Hamil Duluan padahal Cuma Pengin Hemat

5 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.