Panduan Memahami Teori Evolusi biar Nggak Dikit-dikit Bawa Monyet dalam Argumen – Terminal Mojok

Panduan Memahami Teori Evolusi biar Nggak Dikit-dikit Bawa Monyet dalam Argumen

Artikel

Avatar

Teori evolusi barangkali merupakan teori yang paling kontroversi yang pernah ada di dunia ini. Oleh banyak orang dari dulu hingga sekarang teori ini dipahami bahwa manusia berasal dari kera. Bahkan pada masa ketika teori kembali dipopulerkan oleh Charles Darwin, banyak karikatur yang dibuat untuk mem-bully dan menjadikan Charles Darwin sebagai kartun manusia berbentuk kera. Selain dikritisi oleh khalayak peneliti ketika itu, teori evolusi juga ditentang keras oleh kalangan gereja Kristen. Dan sampai sekarang banyak orang yang tidak setuju dengan teori evolusi. Terutama sekali penganut agama abrahimik yang meyakini Adam sebagai manusia pertama. Tapi, apa benar sih teori evolusi mengatakan bahwa manusia dari kera?. Mari kita ulik bareng ya.

Teori evolusi sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani di masa Aristoteles, jadi bukan sebuah teori yang baru. Teori ini ya terus tumbuh dan berkembang seiring bertambahnya pengetahuan manusia mengenai alam ini. Sebenarnya, selain Charles Darwin, ada banyak peneliti yang mendukung teori evolusi ini salah satunya Alfred Russel Wallace yang melakukan banyak survey biologi di kepulauan nusantara. Salah satu tonggak yang cukup penting dari teori evolusi ini adalah ketika pakde Darwin menuliskan teorinya di dalam buku yang berjudul On the Origin of Species pada 1859.

Salah satu teori yang cukup penting di dalam buku On the Origin of Species adalah bahwa suatu spesies akan beradaptasi dan berubah terhadap keterbatasan sumber daya dan perubahan lingkungan. Kesimpulan ini didapatkan berdasarkan pengamatannya pada burung pipit yang hidup di Pulau Galapagos. Menurut si pakde Darwin, burung-burung pipit di Galapagos sebenarnya punya moyang yang sama. Tetapi karena tinggal di pulau-pulau dengan sumber daya yang berbeda, burung-burung pipit itu bentuk tubuhnya berubah menyesuaikan lingkungan dan makanannya.

Teori ini tidak terlalu menghebohkan sebenarnya, tetapi memang banyak peneliti yang mengkritisinya di waktu itu, biasalah namanya juga ide baru. Di masanya banyak peneliti yang masih berkeyakinan kalau spesies itu ajeg bentuknya sejak dari penciptaannya oleh Tuhan. Lagipula inikan cuma ngomongin burung pipit di Galapagos yang jauhnya gak ketulungan dari Inggris.

Tetapi kemudian pakde Darwin membangun lagi sebuah teori yang dituliskan pada bukunya The Descent of Men. Di buku ini dia melemparkan gagasan bahwa kera dan manusia memiliki moyang yang sama, yang sontak mendapat reaksi keras dari banyak peneliti dan awam. Mungkin kalau masa itu sudah ada media sosia Twitter akan terjadi twitwar yang tak berkesudahan, begitu juga meme mengenai Charles Darwin pastinya akan berserakan di Facebook dan Instagram.

Nah…nah…berarti benar dong kalau teori evolusi itu mengatakan manusia dari kera? Eits tunggu dulu. Yang disampaikan oleh Charles Darwin pada saat itu sebenarnya belum banyak didukung oleh fakta-fakta ilmiah. Pada saat itu penelitian mengenai fosil manusia masih minim sekali. Dan di masanya masih banyak yang berkeyakinan bahwa manusia atau Homo sapiens, secara taksonomi adalah satu-satunya genus Homo yang ada di dalam ordo primata.

Seiring dengan penemuan sejumlah fosil di akhir abad 19 dan awal abad 20, teori bahwa manusia sebagai satu-satunya genus homo mulai goyah. Ternyata berjuta-juta tahun lalu sejumlah spesies primata dari genus Homo pernah hidup dan menjelajahi permukaan bumi ini. Oiya, sebelum terlewat, secara taksonomi manusia itu masuk ke dalam ordo primata ya, seperti halnya orang utan, gorila, dan sebangsanya. Para ahli sendiri sudah menetapkan sebuah kaidah bahwa spesies yang bisa dikategorikan sebagai genus Homo adalah anggota ordo primata dengan volume otak lebih dari 600 cc yang berjalan dengan dua kaki (bipedal) dan memiliki kemampuan memproduksi alat sederhana seperti batu serpih.

Nah… dari hasil penemuan-penemuan fosil itulah kemudian para ahli kemudian menyusun kembali taksonomi manusia. Kalau dirunut dari yang tertua hingga termuda maka terdapat Homo habilis, Homo erectus, Homo heidelbergensis, Homo floresiensis, Homo neanderthalensis dan Homo sapiens. Nah jadi inilah yang sebenarnya dikategorikan manusia oleh para ahli evolusi.

Memang ada sejumlah penemuan fosil lain yang menunjukkan kemampuan berjalan dengan dua kaki seperti anggota genus Ardiphitecus, Paranthropus, dan Australophitecus. Tetapi, menurut para ahli volume otak mereka kurang dari 650 cc dan tidak memiliki bukti bahwa mereka mampu meproduksi alat sederhana. Tapi, memang secara taksonomi ketiga genus itu berkerabat dengan manusia.

Selain itu yang perlu dipahami dari proses evolusi manusia bahwa bumi ini pernah dihuni oleh beberapa genus homo berbarengan, misalnya saja Homo neanderthalensis pernah hidup bersamaan dengan Homo sapiens. Selain itu Homo habilis yang pada saat ini dianggap sebagai spesies tertua juga pernah hidup berbarengan dengan spesies lain seperti Paranthropus aethiopicus, Paranthropus bosei, dan Paranthropus robustus.

Nah, lalu seperti apakah moyang ketiga genus itu dan genus Homo? Ini yang belum diketahui karena hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah berupa fosil yang bisa membantu menjelaskannya. Kan kalau tidak ada bukti kan nggak boleh boleh koar-koar dulu. Ya kalau sekarang kan no pict, hoax. Nah para ilmuwan itu juga sama mereka nggak mau dibilang penyebar hoax karena belum punya bukti sahih untuk menjelaskannya.

Dari uraian di atas, berarti setidaknya sudah menjawab kalau teori evolusi itu tidak mengatakan manusia berasal dari kera. Jalan untuk mencari kebenaran masih (amat) begitu panjang. Tapi, setidaknya menguak bahwa kita—sebagai manusia—tidak sendirian selama ini. Jadi kalau masih koar-koar nolak teori pake argumen itu, ditahan dulu ya.

BACA JUGA Harun Yahya Adalah Pahlawan bagi Banyak Guru di Indonesia dan tulisan Imanuddin lainnya.

Baca Juga:  Menikmati Beragam Genre Musik Adalah Hak Setiap Manusia
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
13


Komentar

Comments are closed.