Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

Suzan Lesmana oleh Suzan Lesmana
25 Maret 2022
A A
Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi

Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi (Gandi Purwandi via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Palang pintu adalah tradisi melamar ala jawara silat Betawi yang penuh makna

Sudah menjadi kodrat manusia berpasang-pasangan. Begitu pula bagi seorang lelaki yang siap menikah, tentu harus ada calon pasangannya. Namun demikian, meskipun sudah mempunyai calon pasangan hidup, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghalalkan sang pujaan hati. Sang lelaki harus mendapatkan restu dari pihak pengantin perempuan terlebih dahulu sebelum mengarungi biduk rumah tangga. Bagi masyarakat Betawi, restu ini diperoleh dengan melalui sebuah tradisi yang disebut palang pintu.

ADVERTISEMENT

Dulu, saat akan meminang calon istri asli Betawi, saya cukup kaget karena selain seserahan disebutkan pula syarat lainnya yakni harus beklai atau berkelahi dengan palang pintu alias para jawara silat Betawi. Begitu kata pihak keluarga istri. “Duh, gawat!” pikir saya dalam hati. Maklumlah meski kakek saya asli Betawi, saya sendiri nggak lahir di tanah Betawi. Tak urung syarat ini membuat nyali saya jadi ciut, wqwqwq.

Untunglah saya tak harus beklai dengan para jawara silat Betawi yang sudah pasti para pendekar pilih tanding. Ternyata pada hari-H pernikahan, saat saya tiba di lokasi daerah Cipinang, Jakarta Timur, semuanya sudah diwakili oleh palang pintu yang sudah disiapkan dari pihak keluarga pengantin perempuan. Tak hanya beklai dengan beradu tanding pencak silat saja, tim palang pintu juga bertugas membaca salawat dustur, adu balas pantun hingga akhirnya adu baca sike dengan lantunan Al-Quran atau salawat nabi berlanggam atau bernada sikka/sike.

Adu silat (Greg PW via Shutterstock.com)

Yang menarik dari tradisi palang pintu tentu saja adalah adu pantun dan adu pencak silat. Dalam dialog berbalas pantun, para palang pintu menggunakan pakem pantun berima a-b, a-b yang menarik meskipun spontan terucap. Baik dari pihak pengantin perempuan maupun lelaki nggak mau kalah, sehingga sangat seru dan juga lucu. Begini contohnya:

“Rumah gedong rumah Belande, pagarnya tinggi kawatnye besi.

Aye kagak mau tau ente dari mane, lewat sini kudu permisi”

 

Baca Juga:

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Perasaan Bahagia Saat Sahabat Menikah Berubah Sedih dan Kesepian karena Sadar Kehilangan Teman Main dan Cerita

“O, jadi kudu permisi nich, Bang?” ujar jawara pihak pengantin lelaki.

“Lha, iya, emang dikata tegalan?” jawab jawab pihak pengantin perempuan.

“Baik kalau begitu, saya kasih salam dulu, “Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

 

“Minum sekoteng di Pasar Jumat, mampir dulu ke Kramat Jati,

Aye dateng dengan segala hormat, mohon diterime dengan seneng hati”

Dan seterusnya hingga akhirnya para jawara beklai dibalut pencak silat khas Betawi yang diiringi musik rebana. Adu pencak silat dibuat menghibur meski menggunakan golok sekali pun dan dikondisikan jawara silat perwakilan pengantin pria yang unggul. “Alhamdulillah, jadi juga nikah,” tutur saya kala itu.

Apabila palang pintu pengantin pria telah dianggap menang oleh palang pintu pengantin wanita, barulah “palang” atau penghalang dibuka. Pengantin pria pun disambut dengan salawat badar sebagai simbolis dibukanya “pintu” penyambutan dari pihak pengantin wanita. Saat inilah saya dan calon istri pengantin akhirnya dipertemukan.

Mempelai pria (Lastroll via Shutterstock.com)

Saya sempat membayangkan kala itu, bagaimana jika memang benar setiap pengantin pria sendiri yang harus melewati semua jawara palang pintu dan jawara pantun tersebut? Betapa berat perjuangan seorang pejuang cinta Betawi dahulu kala.

Menyitir dari buku Prosesi Adat Perkawinan Betawi Buke Palang Pintu yang ditulis Bachtiar (2013), disebutkan adalah Bang Pitung, jawara silat Betawi,  yang hidup kira-kira periode tahun 1874-1903, pernah melakoni rangkaian prosesi palang pintu dalam meminang pujaan hatinya Aisyah, anak Jawara Kemayoran.

Dikisahkan Bang Pitung harus melewati palang pintu yang menghadang khususnya Murtadho, calon bapak mertuanya. Akhirnya dengan kekuatan cinta dipadu dengan keterampilan beklai dan berpantun, Bang Pitung berhasil menundukkan palang pintu dan sang calon mertua. Aisyah pun berhasil diperistri.

Tradisi palang pintu lazim dilakukan masyarakat Betawi terutama di perkampungan-perkampungan masyarakat Betawi atau festival-festival budaya Betawi. Begitu pula bagi masyarakat Betawi ora seperti di Bogor, Depok, Bekasi dan sekitarnya masih melaksanakan tradisi Palang Pintu hanya beda sebutan saja yakni Rebut Dandang. Kurang lebih sama persis, hanya beda dalam dialek bahasa yang menggunakan Betawi ora.

Jawara saling beradu (Birul Sinari Adi via Shutterstock.com)

Sesungguhnya jika ditilik lagi, makna filosofis sangat lekat dalam tradisi palang pintu. Beklai alias adu pencak silat menyiratkan bahwa pemuda Betawi jika ingin menjadi kepala keluarga, harus mempunyai kapasitas dan kompetensi menjaga dan melindungi keluarganya. Tentu saja dari datangnya ancaman dan marabahaya yang mengganggu marwah dan keamanan keluarganya.

Pintar berdialog dan berpantun menunjukkan bahwa pemuda Betawi tak harus selalu kaku dan keras dalam keluarga. Keceriaan yang diperoleh dari pantun-pantun yang dilontarkan menjadi ciri khas pemuda Betawi adalah figur santuy, senang bercanda, dan terbuka untuk dialog-dialog cair namun tetap santun. Siapa tak kenal komedian-komedian asli Betawi yang menghiasi panggung dan layar hiburan tanah air mulai Benyamin Sueb, Komeng, hingga David Nurbianto.

Sedangkan kemampuan membaca sike yakni lantunan Al-Quran dan salawat nabi sudah pasti menunjukkan ciri khas pemuda Betawi yang identik dengan sembahyang dan mengaji. Sebagai syarat agar kelak menjadi imam yang akan membimbing dan mengarahkan anak istrinya di jalur agama yang benar.

Demikianlah tradisi palang pintu yang semakin hari sudah jarang disaksikan di masyarakat perkotaan. Padahal maknanya sangat dalam dan tentu saja patut dipertahankan dan dilestarikan kembali sebagai warisan budaya lokal Indonesia khususnya etnis Betawi. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi event G20. Nah, sungguh bijak dan tepat mengangkat budaya Betawi terutama palang pintu saat menyambut para tamu asing dari berbagai negara saat tiba di Indonesia. Percaya, deh, nggak kalah serunya dibanding aksi pawang hujan di Mandalika.

Penulis: Suzan Lesmana
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 1 April 2022 oleh

Tags: jawara betawipalang pintuPernikahan
Suzan Lesmana

Suzan Lesmana

Seorang MC yang suka menulis sejak pandemi

ArtikelTerkait

Kalian Marah Teman Kalian Jadian sama Mantan Pacar? Ra Mashok! pernikahan beda agama

Bikin Konten Nangis di Pernikahan Mantan Itu biar Apa sih? Biar Dihujat? Orang kok Hobi Banget Cari Penyakit

6 Juli 2023
Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih Terminal Mojok pager ayu

Bridesmaid di Pernikahan Nggak Wajib-wajib Amat, Kenapa Masih Drama Soal Seragam sih?

4 Januari 2023
pria yang baik

Susahnya Jadi Pria yang Baik

9 Juni 2019
Culture Shock Resepsi Pernikahan di Sumenep: Nggak Dapat Hidangan, Cuma Diberi Berkat untuk Dibawa Pulang Mojok.co

Culture Shock Resepsi Pernikahan di Sumenep: Nggak Dapat Hidangan, Cuma Diberi Nasi Berkat untuk Dibawa Pulang

31 Oktober 2023
mas kawin

Pengen Kawin, Tapi Nggak Punya Mas Kawin!

16 Juli 2019
ukhti

Ukhti, Mengapa Aku Berbeda?

23 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Saran dari Warlok Jogja untuk Para Pendatang Biar Cepet Betah (Unsplash)

4 kebiasaan warga Jogja yang biasanya menular ke pendatang

28 Juli 2026
Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

Wuling Aira EV, mobil yang bikin pabrikan merinding karena saking murahnya, LCGC kudu waspada dan wajib ketar-ketir

1 Agustus 2026
Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh (Wikimedia Commons)

Nonton timnas Indonesia di Youtube Reza Arap memang aneh, komentator nggak jelas, tapi jangan menghujat dulu

1 Agustus 2026
5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu pindah ke Salatiga (Unsplash)

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

2 Agustus 2026
Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula Mojok.co

Rute kucing UGM, spot lari Jogja yang kalcer dan ramah untuk pelari pemula

29 Juli 2026
Suka knalpot brong indikasi sadisme, psikopat, dan narsisme (Wikimedoia Commons)

Kenapa sih kita gampang banget emosi lalu ngamuk kalau ada orang blayer-blayer knalpot brong?

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.